Mengapa cerita sangat penting dalam presentasi atau komunikasi kita ?

Karena cerita dapat menginspirasi dan mempengaruhi, bahkan menyelamatkan kehidupan orang lain. Cerita dapat mengubah pemikiran satu generasi menuju kondisi yang lebih baik.

Cerita juga bisa membangun. Cerita adalah landasan keyakinan, tulang punggung budaya dan inti dari motivasi. Dari cerita yang kita ceritakan kepada diri kita sendiri hingga cerita yang kita dengar, lihat, dan tunjukkan, maka cerita adalah cara terbaik untuk menemukan, mengungkapkan, dan belajar tentang hal-hal yang unik bagi kita masing-masing, serta kesamaan yang kita miliki.

Kekuatan cerita tidak terbantahkan. Dan, kekuatan menunjukkan cerita adalah sesuatu yang transformasional. Itulah sebabnya alat penting yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dengan sukses adalah menunjukkan cerita.

Pertanyaannya adalah bagaimana Anda dapat menunjukkan cerita dalam komunikasi atau presentasi Anda ?

Berita baiknya, ada satu cara yang dijelaskan oleh Sam Cawthorn dalam bukunya “Storyshowing : How to Stand Out from the Storytellers”, yaitu menggunakan 5 Point Authority Communication Framework (ACF). ACF merupakan cetak biru untuk mengorganisasikan konten Anda. Gunakanlah untuk berhubungan dengan audiens, klien atau konsumen Anda untuk menunjukkan mereka sebuah cerita yang dapat menginspirasi mereka.

Untuk memahami 5 Point Authority Communication Framework tersebut, mari kita perhatikan penjelasan berikut ini.

Point # 1 : Problem

Kita semua dalam berkomunikasi mesti memberikan nilai (value) bagi audiens kita. Nilai dalam pesan kita dimulai dengan menyampaikan pain points. Pain point merujuk kepada sesuatu yang tidak enak atau tidak nyaman bagi audiens kita. Mudahnya, paint point adalah masalah yang dialami oleh audiens kita.

Satu-satunya cara untuk menemukan apa masalah yang dialami oleh audiens kita adalah dengan menemukan siapa audiens kita dan apa situasi yang dialaminya. Lakukan hal ini dengan meneliti segala sesuatu tentang mereka dengan mensurvei mereka, masuk ke dalam dunia mereka dan jika dapat tanyakan apa yang mereka inginkan, pikirkan atau butuhkan. Sebelum Anda melakukan hal tersebut, jangan asumsikan Anda mengetahui audiens atau klien Anda.

Jika Anda ingin mentransformasikan pandangan audiens Anda, maka Anda perlu membagi sebuah cerita yang relevan bagi mereka. Temukan apa paint points mereka dan sampaikan.

Mulailah cerita Anda dengan pertanyaan : “Apakah Anda pernah … ?”

Contohnya, misalnya Anda seorang penjual asuransi, maka Anda dapat menyampaikan ke audiens Anda “apakah Anda pernah kawatir tentang bagaimana istri dan anak perempuan Anda akan menghadapi masalah keuangan jika sesuatu terjadi kepada Anda ?”

Kita semua digerakkan oleh emosi kita dan bagaimana kita merasakan. Oleh karena itu, tanyakan pertanyaan yang relevan dengan paint points audiens Anda, sehingga mereka akan siap untuk mendengarkan Anda, karena apa yang Anda sampaikan berhubungan dengan masalah mereka.

Point # 2 : Idea

Setelah menunjukkan bahwa Anda mengetahui bagaimana perasaan audiens Anda terkait dengan masalah yang mereka alami, maka Anda dapat mengemukakan penawar atau obat untuk masalah mereka, yaitu ide Anda.

Ide yang Anda sampaikan perlu ringkas. Satu baris kalimat sudah cukup. Hal ini perlu Anda lakukan, karena salah satu isu terbesar berkaitan dengan komunikasi adalah tidak jelasnya ide yang disampaikan oleh orang. Mereka tidak jelas dengan pesan yang mereka sampaikan.

Cara yang paling efektif untuk mengkomunikasikan ide Anda adalah dengan pernyataan yang singkat, tajam, dan langsung ke intinya yang dimulai dengan, “Saya telah menemukan bahwa …”

Contohnya, Anda dapat menyampaikan :

  • “Saya telah menemukan bahwa ketika Anda membeli produk kecantikan ini, maka produk tersebut akan membuat wajah Anda lebih putih dan bersinar.”
  • “Saya telah menemukan bahwa ketika Anda menggunakan sistem penanganan keluhan pelanggan berbasis artificial intelligence ini, maka Anda dapat menangani keluhan pelanggan Anda.”

Point # 3 : Evidence

Anda harus meyakinkan audiens Anda bahwa ide Anda lebih baik dari ide orang lainnya. Tunjukkan kepada audiens Anda mengapa ide Anda dapat mengatasi masalah atau kefrustrasian mereka.

Anda melakukan hal tersebut dengan melibatkan kepala mereka, yaitu dengan menyajikan bukti (evidence). Bukti bisa berupa informasi, riset, data, statistik, studi kasus atau testimoni. Bukti menunjukkan bahwa ide Anda muncul dari dasar yang kokoh. Ide Anda mempunyai kedalaman dan dapat dipercaya.

Tunjukkan kredibilitas Anda dengan sebuah kalimat yang dimulai dengan, “penelitian menunjukkan kita bahwa … “ Lalu, utarakan hasil penelitian, fakta, statistik atau studi kasus untuk mendukung ide Anda.

Point # 4 : Story

Setelah menghubungkan ide Anda dengan kepala audiens Anda, maka kini saatnya untuk menghubungkan ide Anda dengan hati mereka. Libatkan sisi kanan dari otak audiens Anda, sisi kreatif mereka. Libatkan ide Anda dengan emosi mereka, semua lima indra mereka (sentuhan (kulit), penglihatan (mata), pendengaran (telinga), penciuman (hidung) dan rasa (lidah)).

Cara terbaik untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menunjukkan audiens Anda cerita yang menarik. Lee Lefever dalam bukunya “The Art of Explanation: Making Your Ideas, Products, and Services Easier to Understand” menjelaskan format dasar dari sebuah cerita, yaitu :

  • Temui Bob, ia seperti Anda.
  • Bob mempunyai masalah yang membuatnya merasa tidak nyaman.
  • Sekarang Bob menemukan sebuah solusi dan ia merasa lebih baik.
  • Tidakkah Anda ingin seperti Bob ?

Dalam membuat cerita, Anda dapat memasukkan fakta seperti format di atas yang melibatkan tindakan atau pengalaman orang lain yang mendukung ide Anda. Memasukkan hal tersebut akan membuat perbedaan yang besar dan mengundang audiens Anda untuk melihat ide Anda dari perspektif yang lebih alami dan baru.

Point # 5 : Call to Action

Anda telah menyampaikan masalah audiens Anda, menyajikan ide Anda untuk menyelesaikan masalah audiens Anda, memberikan bukti untuk menopang ide Anda untuk menumbuhkan sisi logis dari audiens Anda, menjelaskan cerita untuk mendukung ide Anda dari aspek emosi audiens Anda. Maka, sekarang Anda perlu meyakinkan mereka mengenai apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.

Jika Anda menjual sebuah produk atau layanan dan Anda ingin audiens Anda membelinya, maka panggilan aksi (call to action) Anda untuk audiens Anda lakukan harus strategik. Sajikan fitur dan benefit dari produk atau layanan Anda. Tunjukkan audiens Anda bahwa produk atau layanan Anda akan memberikan nilai bagi mereka jika mereka membelinya.

Anda harus menggerakkan audiens Anda untuk menuju pada pembelian dan bawa mereka kepada suatu keadaan yang mendesak untuk melakukannya. Minta mereka untuk mengambil tindakan saat ini juga.

Anda bisa mulai panggilan aksi Anda dengan pernyataan, “Sekarang saya ingin bekerja dengan Anda untuk …”; kemudian lanjutannya Anda bisa menggunakan formula tiga point. Untuk itu, Anda dapat mengatakan, “hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah …”, hal kedua yang perlu Anda jalani adalah …”, dan “hal ketiga yang perlu Anda kerjakan adalah …”

Atau untuk panggilan aksi Anda untuk audiens Anda, maka Anda dapat mengatakan, “Sekarang saya ingin mengajarkan Anda bagaimana untuk …”

Tawarkan sebuah framework, formula, sistem, proses, “how to” atau “step by step” yang dapat Anda ajarkan. Selanjutnya, Anda gunakan formula tiga point. Misalnya, “langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah …”, langkah kedua yang perlu Anda jalani adalah …”, dan “langkah ketiga yang perlu Anda kerjakan adalah …”

Demikianlah, cara membagi cerita Anda kepada audiens Anda dengan menggunakan 5 point authority communication framework.

Pertama, Anda sampaikan masalah audiens Anda yang merupakan ketidakyamanan bagi mereka.

Kedua, Anda sampaikan ide Anda yang akan menyelesaikan masalah audiens Anda.

Ketiga, Anda jelaskan bukti yang mendukung ide Anda untuk membangkitkan sisi logika dari audiens Anda.

Keempat, Anda utarakan cerita untuk menyokong ide Anda untuk mengaktifkan aspek emosi dari audiens Anda.

Kelima, Anda sampaikan panggilan aksi untuk audiens Anda dengan menggunakan formula tiga point.

Dengan mengikuti lima point tersebut untuk menyampaikan ide yang ingin Anda jelaskan kepada audiens Anda, maka Anda dapat menginspirasi audiens Anda untuk melakukan sebuah tindakan. Dan, Anda dapat mentransformasikan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.

Jika postingan ini bermanfaat bagi Anda, maka jangan lupa berikan komentar pada postingan ini agar postingan minggu berikutnya bisa menampilkan insight yang lebih baik. Selain itu, bagikan postingan ini ke kolega Anda agar kolega Anda dapat juga belajar dari postingan ini.