Presentasi adalah kegiatan yang sering kita lakukan dalam kegiatan sehari-hari. Apakah kita sebagai mahasiswa, dosen, karyawan atau pimpinan kantor, maka presentasi merupakan kegiatan yang sering kita lakukan.

Tentu saja dalam melakukan presentasi tersebut kita harus memperhatikan audiens kita. Karena kita melakukan presentasi sejatinya adalah untuk melayani audiens kita. Kita mesti memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Presentasi yang kita lakukan harus menjadi solusi dari apa yang dihadapi oleh audiens kita.

Demi untuk kebutuhan audiens kita, maka perhatikan kata-kata ini : The best storyteller step outside of their world and walk in their audience’s shoes.

Semakin banyak cerita Anda membahas perspektif unik audiens Anda, semakin relevan cerita tersebut bagi mereka.

Jika Anda menyampaikan cerita Anda atau presentasi ide apa pun, maka pikirkan tentang audiens Anda dan apa pola pikir mereka.

Karena apa pun yang Anda yakini sebagai cerita yang fantastis, maka audiens Anda akan terpaku oleh cerita tersebut jika cerita tersebut tentang mereka. Dan mengingat bahwa Anda berharap untuk menggerakkan, mengubah, atau menginspirasi mereka, maka pendapat merekalah yang penting. Anda harus memberikan mereka apa yang mereka butuhkan.

Cerita yang Anda sampaikan adalah bukan tentang Anda. Tetapi, cerita tersebut selalu tentang audiens Anda.

Untuk memahami audiens Anda, maka Anda mesti memperhatikan peran mereka. Audiens dengan peran yang berbeda memiliki perspektif yang sangat bervariasi. Anda perlu memahami perspektif yang berbeda tersebut, karena hal itu akan memengaruhi bagaimana audiens Anda akan bereaksi dan berinteraksi dengan cerita Anda yang dapat berdampak sangat baik pada pesan yang Anda pilih untuk ditekankan.

Jika Anda berada dalam lingkungan bisnis, maka Anda bisa menghadapi tiga audiens yang memiliki kebutuhan dan prioritas yang berbeda (Kurnoff dan Lazarus, 2021).

Pertama, eksekutif. Eksekutif ada untuk memberikan persetujuan. Eksekutif dengan waktunya yang padat menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk menyetujui berbagai hal. Dengan pola pikir gambaran besar yang mereka miliki, maka dalam memberikan persetujuan mereka mesti menimbang manfaat versus risiko, dampak strategis jangka panjang, dan tentu saja investasi yang dibutuhkan.

Kedua, manajer. Manajer dapat membantu memengaruhi. Manajer bukan orang yang mungkin memberikan keputusan, tetapi mereka berada dalam posisi yang dapat memengaruhi. Jika mereka menyukai ide Anda, maka kemungkinan besar mereka akan menyebarkannya. Mereka juga berfokus pada bagaimana ide Anda akan memengaruhi strategi sehari-hari mereka dan bagaimana keberhasilan diukur.

Ketiga, karyawan. Karyawan yang mewujudkannya ide yang Anda sampaikan. Mereka yang berada di lapangan untuk mengeksekusi ide-ide yang Anda utarakan yang berguna untuk mereka. Karyawan tertarik pada bagaimana rekomendasi yang Anda jelaskan akan memengaruhi operasi sehari-hari mereka.

Saat melakukan penggalian kebutuhan audiens Anda untuk menyusun cerita presentasi yang akan Anda siapkan, maka tanyakan tiga pertanyaan berikut ini untuk menyusun komponen why pada cerita Anda (setting, chracters, dan conflict)

Pertama, apa yang terjadi pada dunia audiens Anda ? Menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut akan membantu menetapkan latar belakang cerita Anda dan membuat semua orang di ruangan mengangguk setuju. Agar apa yang Anda sampaikan kepada mereka masuk akal, maka  gambarkan ruang tempat mereka beroperasi, dan berikan fokus kritis untuk apa yang akan terjadi selanjutnya dalam cerita Anda.

Kedua, siapa atau apa yang audiens Anda pedulikan ? Hal ini menjadi karakter utama dalam cerita Anda yang membantu membangun hubungan emosional dengan audiens Anda. Sangat manusiawi bagi kita untuk berhubungan dengan karakter dan ini membantu Anda memanusiakan apa yang seringkali abstrak seperti : pelanggan, pemasok, dan pemangku kepentingan utama. Anda dapat memberi nama karakter Anda (misalnya, temui Dina, seorang ibu muda …) atau gunakan diri Anda sendiri (misalnya, saya sedang berbelanja kemarin …), atau grup tanpa nama (misalnya, konsumen).

Ketiga, tantangan apa yang audiens Anda hadapi ? Setiap cerita yang hebat memiliki konflik. Konflik adalah apa yang membuat audiens Anda terjaga di malam hari dan merupakan hal penting yang mungkin menjadi fokus mereka yang memberikan mereka alasan untuk peduli dengan apa yang Anda katakan kepada mereka. Konflik, misalnya dalam industri penerbangan bisa jadi merupakan persaingan bisnis atau konsolidasi industri atau perubahan digital yang telah mengubah cara konsumen menggunakan layanan dari industri penerbangan. Mengungkap konflik dalam cerita Anda memungkinkan Anda menjadi pahlawan dua kali. Pertama, saat Anda mengidentifikasi masalah dan yang kedua saat Anda mengusulkan cara untuk memperbaikinya.

Ingat sekali lagi bahwa dalam menyusun materi presentasi dengan pendekatan storytelling adalah bukan tentang Anda. Tetapi, tentang audiens Anda.

Menetapkan fondasi cerita yang merupakan komponen why dengan pendekatan storytelling yang berpusat pada audiens Anda sangat penting untuk dilakukan. Aturannya adalah cerita yang Anda sampaikan bukan tentang cerita Anda, melainkan cerita tentang audiens Anda.

Jika postingan ini bermanfaat bagi Anda, maka jangan lupa berikan komentar pada postingan ini demi kelangsungan pengembangan blog ini. Selain itu, bagikan postingan ini ke kolega Anda agar kolega Anda dapat juga belajar dari postingan ini. Terima kasih atas bantuan yang telah Anda lakukan untuk menyebarkan postingan ini.