Blog Analisis Kebijakan + Manajemen Inovasi + Pengembangan Diri + Presentasi
Search
Close this search box.

Dari Ide Menjadi Tindakan : Menentukan Siapa Yang Akan Dibujuk Dalam Menjual Ide Anda

Setelah Anda mempunyai ide yang matang yang didapat dari proses lima tahap menghasilkan ide, maka Anda perlu memetakan proses yang akan Anda lalui untuk menjual ide tersebut. Bahkan ide yang paling tidak mungkin pun dapat ditawarkan kepada lingkungan yang paling sulit jika Anda bertindak secara terstruktur, yaitu satu ide, satu orang pendukung, satu email, satu pembicaraan, satu pertemuan dan satu presentasi sekaligus. Dan kadang-kadang Anda bisa bertemu langsung dengan pengambil keputusan dan melakukan penjualan ide dalam satu gerakan.

Untuk melakukan penjualan ide, maka Anda perlu memetakan proses pengambilan keputusan (Sell, G. Richard dan Moussa, Mario, 2007). Contoh yang akan diuraikan berikut ini datang dari permasalahan kehidupan seorang mahasiswa India yang bernama Raj. Ia mempunyai ide yang ingin dijual kepada keluarganya bahwa ia tidak ingin pulang ke India setelah menamatkan pendidikannya di Amerika Serikat (AS) dan ingin menetap beberapa tahun di AS dan bekerja di perusahaan konsultan global untuk mendapatkan pengalaman yang berharga.

Namun, sebagai anak tertua dari sebuah keluarga kaya India, Raj merupakan pewaris usaha percetakan yang besar milik keluarganya. Ayahnya sangat ingin Raj pulang setelah menyelesaikan pendidikannya dan menjalankan tugasnya di perusahaan keluarga.

Yang menjadi permasalahan Raj adalah bagaimana dia bisa membujuk ayahnya untuk menyetujui tinggal di AS untuk sementara waktu tanpa merusak hubungan dengan ayahnya ?

Untuk itu, Raj perlu memetakan proses keputusan di keluarganya. Dalam pikirannya, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana untuk memulai : bagaimana keputusan akan dibuat dalam keluarganya ?

“Ibu, ayah, nenek dan kakeknya akan duduk bersama dan membicarakannya,” ia menjawab dalam hati.

Kemudian, ia bertanya dalam hati lagi, “Dan dari keempatnya, siapa yang paling simpatik?”

“Ibu saya,” dia langsung menjawab dalam hati.

Lalu, ia bertanya lagi, “Apakah ibu saya punya pengaruh dalam keluarga ?” Ia menjawab dalam hati, “Dalam keluarga India, istri merupakan penguasa di dalam rumah. Tapi, masalah saya ini berlaku baik di dalam dan luar rumah. Dan mungkin ibu saya tahu, jika saya tinggal di AS, maka saya akan bertemu dengan gadis AS dan menikahinya. Dia pasti sangat menentang hal tersebut. Juga ada kakek saya. Dia yang mendirikan perusahaan tersebut dan berpendapat bahwa memiliki pengalaman bekerja di beberapa proyek untuk perusahaan konsultan mungkin sangat bermanfaat. Tapi, dia tidak bisa menentang ayah saya”.

Selanjutnya, Raj bertanya lagi dalam hati, “Bagaimana dengan nenek saya ? Ia menjawab dalam hati, “Nenek saya akan setuju dengan kakek saya”.

Dengan gambaran proses pengambilan keputusan ini, Raj menyusun sebuah strategi penjualan ide. Pertama, dalam kepulangannya ke India, dia akan melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ibunya dan mengungkapkan impiannya untuk mendapatkan pengalaman sebelum pulang kembali untuk membantu mengelola perusahaan. Tujuannya adalah menjadikan ibunya sebagai pendukung utamanya. Tentu saja, dia harus berjanji pada ibunya bahwa dia akan menikah dengan gadis India setelah kembali ke India kelak.

Langkahnya berikutnya adalah meminta ibunya agar mendekati kakek dan neneknya secara pribadi untuk menjual idenya untuk bersama-sama mendukung rencananya. Setelah itu, meminta mereka bertiga untuk berupaya mendapatkan persetujuan dari ayahnya.

Di atas segalanya, Raj harus menghindari pembicaraan langsung dengan ayahnya mengenai idenya terutama dalam pertemuan keluarga. Raj tidak ingin ayahnya secara terbuka mengatakan “tidak”.

Setelah menyusun strategi penjualan idenya, Raj kembali ke India. Ketika ia tiba di rumah, sebelum berbicara kepada siapapun, ia meminta saran dari kakak perempuannya. Kakaknya menyetujui rencananya. Tetapi, kakaknya menganjurkan agar terlebih dahulu berbicara dengan neneknya.

Dengan saran dari kakaknya, Raj mengubah strategi penjualan idenya dengan berbicara dulu dengan neneknya. Lalu, meminta neneknya untuk berbicara dengan ibu dan kakeknya. Akhirnya, meminta nenek, ibu dan kakeknya berupaya untuk mendapatkan persetujuan dari ayahnya.

Terbukti kemudian bahwa neneknya mempunyai pengaruh yang lebih besar dari pada yang diperkirakan oleh Raj. Bahkan, dia adalah kekuatan yang sesungguhnya dalam keluarga bila menyangkut masalah seperti ini, meskipun Raj tidak pernah menyadarinya.

Raj adalah cucu kesayangannya. Dan di bawah bimbingannya yang lembut dan komitmen yang jelas dari Raj bahwa dalam waktu dua tahun dia akan pulang, maka keinginannya untuk tinggal di AS setelah kelulusannyapun disetujui dalam rapat keluarga.

Kisah yang dijelaskan ini menggambarkan suatu kebenaran yang mendalam. Untuk merancang strategi penjualan ide, maka Anda harus memulainya dengan tiga pertanyaan kunci, yaitu :

  1. Bagaimana keputusan diambil ?
  2. Siapa yang harus terlebih dahulu Anda bujuk untuk mendapatkan jalan menuju proses persetujuan ?
  3. Strategi tindak lanjut apa yang harus Anda gunakan ?

Demikianlah, contoh bagaimana dari sebuah ide menjadi tindakan. Untuk melakukan hal itu, maka ada tiga pertanyaan kunci yang mesti Anda ajukan dan jawab. Pertama, bagaimana keputusan diambil. Kedua, siapa yang pertama kali mesti Anda bujuk. Ketiga, strategi tindak lanjut apa yang mesti Anda lakukan.

Jika postingan ini bermanfaat bagi Anda, maka jangan lupa berikan komentar pada postingan ini demi kelangsungan pengembangan blog ini. Selain itu, bagikan postingan ini ke kolega Anda agar kolega Anda dapat juga belajar dari postingan ini. Terima kasih atas bantuan yang telah Anda lakukan untuk menyebarkan postingan ini.

26 thoughts on “Dari Ide Menjadi Tindakan : Menentukan Siapa Yang Akan Dibujuk Dalam Menjual Ide Anda”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top