Memunculkan Ide Kreatif Melalui Connecting 5 Things Untuk Menghasilkan Slide Power Point Yang Visual dan Menarik

Apakah Anda kesulitan membuat slide presentasi yang menarik ?

Apakah Anda tidak punya ide untuk membuat slide presentasi yang lebih visual ?

Apakah Anda sering membuat slide presentasi yang berisi bullet points dengan kalimat yang panjang ?

Kalau iya, disamping mungkin Anda tidak mengetahui cara membuat slide yang visual dan menarik, bisa jadi Anda terbelenggu oleh lingkungan Anda sendiri. Kebanyakan lingkungan kita dipenuhi oleh slide presentasi seperti di bawah ini.

Slide power point di atas dibuat apa adanya, teksnya panjang, penuh dengan bullet points, dan tidak menggunakan visual yang baik. Jika Anda menggunakan slide seperti itu, maka Anda akan mengalami kerugian besar, karena Anda akan menjadi pembicara yang membosankan, gagal memberikan pemahaman yang lebih baik, dan gagal menginspirasi dan mempengaruhi audiens Anda.

Padahal, di luar lingkungan kita tampilan slide presentasinya sudah jauh lebih baik yang dibuat lebih visual dan menarik. Slide di atas dapat diubah tampilannya menjadi slide seperti di bawah ini dengan menampilkan satu point satu slide secara lebih visual dan menarik.

Untuk menghasilkan slide seperti di atas sebenarnya tidaklah sulit. Yang dibutuhkan adalah kreativitas.

Vullings dan Heleven (2015) dalam bukunya “Not Invented Here : Cross-Industry Innovationmenyebutkan bahwa creativity is just connecting things.

Untuk menghasilkan kreativitas, Anda perlu menghubungkan hal-hal (things) yang berserakan. Hal-hal tersebut bisa berupa pengetahuan, ketrampilan, obyek, dan sumber daya. Hanya dengan mengkoneksikan hal-hal tersebut, sebuah gagasan hebat dapat ditemukan dan diwujudkan.

Selain itu, pendapat Steve Jobs dalam buku yang ditulis oleh Carmine Galo (2015), yaitu “The Innovation Secrets of Steve Jobs” juga mengatakan bahwa “creativity is connecting things”. Satu hal yang membedakan orang yang kreatif dibandingkan dengan orang yang tidak kreatif adalah kemampuannya untuk menghubungkan ide dari berbagai bidang.

Dalam kaitannya untuk menghasilkan ide slide presentasi yang visual dan menarik jika dikaitkan dengan ide yang disampaikan oleh Vulling dan Heleven dan Steve Jobs, maka ada 5 hal yang perlu Anda ketahui.

Kelima hal itu adalah :

  1. Prinsip Desain Slide.
  2. Elemen Desain Slide.
  3. Fitur Kreatif Power Point.
  4. Teknik Kreatif Desain Slide.
  5. Sumber Inspirasi Desain Slide

Mari kita bahas satu per satu 5 hal tersebut.

Thing # 1 : Prinsip Desain Slide

Prinsip disini dapat diartikan pondasi yang harus diperhatikan dalam menyajikan slide presentasi yang nyaman untuk dinikmati oleh audiens Anda.

Slide presentasi yang dibangun tanpa pondasi yang kuat, hasilnya tak akan menggembirakan. Keberadaannya dan pesan yang disampaikan, tak mampu tertancam dengan kuat di benak audiens Anda yang menyaksikan tampilan slide presentasi Anda.

Prinsip-prinsip desain presentasi tersebut mencakup : sederhana; visual; hirarki; balance; CRAP (contrast, repetition, alignment, proximity); dan white space.

Thing # 2 : Elemen Desain Slide

Elemen disini maksudnya adalah hal-hal yang diperlukan dalam membuat slide presentasi. Elemen ini ada yang perlu dipersiapkan agar ketika Anda membuat slide presentasi menjadi lebih mudah.

Ada beberapa hal dalam elemen desain slide ini yang perlu Anda ketahui.

Pertama, ukuran slide. Ukuran slide dalam power point ada 3 macam, yaitu : ukuran 16:9; ukuran 4:3 dan custom size.

Kedua, grid. Grid adalah garis bantu yang sangat diperlukan dalam menempatkan teks atau gambar dalam slide presentasi, sehingga dihasilkan desain slide presentasi yang rapi, simetris dan berpola yang akan membuat slide Anda menjadi lebih indah. Grid adalah sebuah garis putus-putus vertikal dan horizontal yang fungsinya mirip dengan penggaris.

Ketiga, warna. Penggunaan warna yang tidak tepat menjadi salah satu hal yang dapat membuat mata audiens Anda menjadi lelah atau malas melihat slide presentasi Anda. Penggunaan warna yang pas bisa menjadikan pesan visual slide menjadi enak dipandang.

Keempat, font. Font diperlukan untuk menulis pesan Anda di dalam slide. Anda dapat menggunakan tiga jenis font dalam presentasi. Pertama, serif seperti times new roman, book antiqua, dan baskerville. Kedua, sans serif seperti helvetica, montserrat, open sans. Ketiga, cursive/display seperti abril fatface, pacifico, lobster.

Kelima, gambar. Ada dua gambar yang dapat Anda gunakan. Pertama adalah gambar foto. Gambar foto diperlukan dalam slide presentasi Anda untuk memunculkan kesan hidup yang dapat menggugah emosi dari audiens Anda. Kedua adalah gambar vektor. Gambar vektor ini cocok untuk slide infografis. Anda dapat mencari gambar vektor di https://freepik.com.

Keenam, icon. Icon menurut Aurora Harley, konsultan di Nielsen Norman Group seperti yang dijelaskan dalam https://www.nngroup.com/articles/icon-usability/ adalah representasi visual dari obyek, aksi atau ide. Jadi, dengan menggunakan icon pada presentasi, maka audiens Anda akan lebih mudah dan cepat memahami informasi yang ingin Anda sampaikan sebelum menggunakan icon

Ketujuh, chart. Chart digunakan untuk menampilkan data Anda. Ada banyak pilihan chart untuk menampilkan data Anda. Hal utama yang harus diingat adalah bahwa tujuan dari semua chart adalah untuk menunjukkan hubungan dalam data Anda. Pikirkan tentang grafik, tabel atau diagram apa yang paling menonjolkan hubungan yang paling sesuai dengan cerita atau pesan yang ingin Anda  sampaikan.

Kedelapan, video. Video adalah cara terbaik untuk mengubah kecepatan, suara, dan media dari cerita bisnis apa pun atau pesan yang ingin Anda sampaikan. Video dapat membantu mengatur nada untuk pembukaan cerita atau pesan Anda, menghidupkan karakter Anda atau memberikan penutup yang dramatis yang memperkuat ide besar yang Anda jelaskan. 

Thing # 3 : Fitur Kreatif Power Point

Microsoft Power Point ternyata memiliki banyak fitur dalamnya. Fitur ini sendiri merupakan tools di dalam power point yang dibuat untuk memudahkan Anda ketika melakukan pembuatan slide presentasi.

Dalam kaitannya untuk menghasilkan slide power point yang lebih kreatif, maka ada fitur di dalam power point yang perlu Anda ketahui seperti : aspek rasio, crop, resize image, duplicate shape, insert shape, dan merge shape.

Thing # 4 : Teknik Kreatif Desain Slide

Teknik kreatif desain slide ini adalah langkah-langkah untuk membuat slide power point untuk menghasilkan slide power point yang lebih visual dan menarik. Teknik ini perlu Anda ketahui agar Anda dapat menghasilkan ide kreatif untuk membuat slide presentasi.

Misalnya, ketika Anda menggunakan gambar dan merasa kesulitan untuk menemukan posisi penempatan teks agar mudah dibaca oleh audiens Anda, maka Anda dapat mengoptimalkan penggunaan shape.

Anda dapat menggunakan basic shape. Teknik ini disebut creative basic shape. Disamping itu, Anda bisa menggunakan transparent shape. Teknik ini disebut creative transparent shape. Tambahan pula, Anda dapat menggunakan gradient shape. Teknik ini disebut creative gradient shape.

Jika Anda ingin menghasilkan banyak ide slide yang kreatif untuk kebutuhan akademik dan kantor, maka Anda perlu mengetahui teknik-teknik kreatif lainnya seperti : creative remove background; creative photo crop to shape 3D; dan creative merge shape. 

Thing # 5 : Sumber Inspirasi Desain Slide

Untuk menjadi kreatif, maka Anda perlu menambah sumber inspirasi, karena inspirasi merupakan ide dari kreativitas itu sendiri. Untuk mendapatkan tambahan sumber inspirasi, maka Anda perlu membaca buku-buku atau artikel-artikel tentang desain slide, mengikuti pelatihan tentang desain slide, dan melihat website-website atau social media yang menghadirkan slide presentasi yang visual dan menarik.

Sebagai sumber inspirasi tambahan bagi Anda, maka Anda dapat melihat ide-ide slide presentasi yang menarik  seperti di : https://www.pinterest.com/. Anda dapat menuliskan kata kunci di fitur pencariannya, misalnya slide design. Dari situ, maka Anda dapat menemukan berbagai macam ide desain slide presentasi.

Ketika Anda memahami dan dapat menggunakan kelima hal yang telah dikemukakan di atas, maka Anda dapat memunculkan ide-ide kreatif dalam menghasilkan slide presentasi yang lebih visual dan menarik.

Demikianlah, 5 hal yang perlu Anda pahami dan terapkan untuk memunculkan ide kreatif untuk menghasilkan slide power point yang visual dan menarik.

Kreativitas dalam menghasilkan ide slide presentasi merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Untuk itu, Anda harus terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Anda dapat mencoba berkreasi, misalnya untuk menghasilkan satu desain slide presentasi setiap harinya.

Jika postingan ini bermanfaat bagi Anda, maka jangan lupa bagikan postingan ini ke kolega Anda agar postingan ini juga dapat bermanfaat bagi banyak orang.

 

 

 

Preattentive Attributes: Sebuah Tool Yang Sangat Berharga Dalam Visualisasi Data Anda

Apakah Anda mengetahui bagaimana audiens Anda melihat data yang Anda sajikan ?

Cole (2015) menjelaskan bahwa audiens kita melihat visualisasi data yang kita sampaikan dengan pikirannya.

Mari kita lihat gambaran sederhana tentang bagaimana audiens kita melihat seperti yang dijelaskan pada gambar di bawah ini.

Prosesnya berjalan seperti berikut ini. Cahaya memantul dari sebuah rangsangan. Rangsangan dalam bentuk visualisasi data ditangkap oleh mata audiens kita. Mereka tidak sepenuhnya melihat dengan matanya. Ada beberapa pemrosesan yang terjadi disana, tetapi kebanyakan itulah yang terjadi di otak audiens kita yang mereka anggap sebagai persepsi visual.

Ketika rangsangan itu masuk di otak kita, maka ada sebuah memori yang perlu Anda ketahui, yaitu memori ikonik.

Rangsangan yang masuk ke memori ikonik tersebut berlangsung sangat cepat dan dapat dimanfaatkan dalam proses visual kita. Rangsangan tersebut tetap berada dalam memori ikonik sepersekian detik sebelum diteruskan ke memori jangka pendek kita.

Hal yang penting dari memori ikonik bahwa memori ikonik tersebut dapat dimanfaatkan dengan memberikan atribut dalam visualisasi data yang dikenal dengan preattentive attributes.

Preattentive attributes adalah atribut dalam visualisasi data yang dapat dimanfaatkan untuk mengarahkan perhatian audiens Anda ke tempat yang Anda inginkan untuk mereka perhatikan dalam visualisasi data Anda.

Cara terbaik untuk membuktikan kekuatan preattentive attributes adalah dengan menunjukkannya.

Coba Anda perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar di atas menunjukkan susunan angka yang terdiri dari empat baris. Perhatikan bagaimana Anda memproses informasi dan berapa lama. Coba hitunglah dengan cepat angka 3 yang muncul dalam susunan angka tersebut.

Jawaban yang benar adalah enam. Pada gambar di atas, tidak ada isyarat visual untuk membantu Anda mencapai jawaban tersebut. Sehingga, upaya yang Anda lakukan dalam menghitung cepat banyaknya angka 3 yang muncul dalam susunan angka tersebut cukup menantang dimana Anda harus menelusuri empat baris susunan angka dan mencari angka 3.

Coba lihat apa yang terjadi ketika gambar di atas kita ubah menjadi seperti gambar di bawah ini.

Perhatikan betapa lebih mudah dan lebih cepatnya menghitung angka 3 yang ada dalam susunan angka di atas.

Anda tidak perlu untuk berkedip, tidak perlu waktu untuk berpikir dan tiba-tiba ada enam angka 3 di depan Anda.

Dalam gambar di atas, memori ikonik Anda sedang ditingkatkan dengan menggunakan preattentive attributes. Preattentive attributes yang digunakan adalah intensitas warna. Dalam hal ini, kita membuat angka 3 dengan warna menonjol dari warna angka yang lainnya. Angka 3 kita kasih warna hitam. Dan angka lainnya kita kasih warna abu-abu.

Dengan menggunakan preattentive attributes, maka otak kita cepat menangkapnya tanpa kita harus mencurahkan setiap pikiran sadar kita untuk melihat visualisasi data yang ditampilkan.

Preattentive attributes ini sangat luar biasa dan berharga. Artinya, jika Anda menggunakan preattentive attributes tersebut secara strategis, maka mereka dapat membantu mengaktifkan perhatian audiens Anda untuk melihat apa yang Anda ingin mereka lihat dari visualisasi data Anda.

Gambar di bawah ini menunjukkan beberapa bentuk preattentive attributes yang dapat Anda gunakan dalam visualisasi data Anda.

Perhatikan saat Anda melakukan scanning pada gambar di atas, maka mata Anda akan tertarik pada satu elemen dalam setiap kelompok yang berbeda dari yang lain, sehingga Anda tidak perlu mencarinya.

Hal itu terjadi karena otak kita terprogram untuk cepat mengambil perbedaan apa yang kita lihat di lingkungan kita.

Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa orang cenderung mengasosiasikan nilai kuantitatif dengan beberapa dari preattentive attributes (memang tidak semua). Misalnya, kebanyakan orang akan mempertimbangkan garis panjang untuk mewakili nilai yang lebih besar dari garis pendek. Itu adalah salah satu alasan mengapa diagram batang secara langsung kita baca.

Tetapi, kita tidak memikirkan warna dengan cara yang sama. Jika saya bertanya pada Anda mana yang lebih besar, warna merah atau biru ? Pertanyaan ini sesungguhnya kurang berarti.

Ini penting karena memberitahu kita mana dari preattentive attributes yang dapat digunakan untuk menjelaskan informasi kuantitatif (garis panjang, posisi spasial atau pada tingkat terbatas lebar garis, ukuran, intensitas warna dapat digunakan untuk menggambarkan nilai relatif) dan mana yang digunakan sebagai pembeda kategori.

Dari berbagai bentuk preattentive attributes di atas, Anda bisa menghasilkan ide dengan menggabungkan beberapa bentuknya dalam slide presentasi Anda. Misalnya, Anda ingin menampilkan visualisasi data dengan diagram batang.

Terkait dengan informasi kuantitatifnya, Anda dapat menggunakan bentuk panjang garis dimana batang yang lebih panjang mewakili nilai yang lebih besar dari pada batang yang lebih pendek. Dan bentuk hue sebagai pembeda kategori dimana satu batang diberi warna merah dan batang lainnya diberi warna abu-abu seperti slide di bawah ini.

Dengan menggunakan preattentive attributes di atas (bentuk panjang garis dan hue), maka Anda bermaksud untuk mengarahkan perhatian audiens Anda kepada data Jepang sebagai negara dengan tingkat konektivitas internet tercepat.

Dalam prakteknya jika dikaitkan dengan delivery presentasi yang Anda lakukan, maka setelah Anda menampilkan slide di atas dan mata audiens menatap batang yang warna merah, maka Anda tinggal mengatakan bahwa “Jepang merupakan negara dengan tingkat konektivitas internet tercepat dibandingkan dengan Korea Selatan, USA, Perancis, Inggris dan China yang mencapai 94 %. Kemudian, Anda juga dapat menambahkan penjelasan mengapa Jepang mempunyai tingkat konektivitas internet tercepat dibandingkan dengan negara-negara tersebut”.

Mungkin Anda bertanya-tanya apa itu hue ?

Hue adalah jenis atau nama warna yang original dan natural. Hue terdiri dari jenis warna primer dan sekunder seperti Biru, Merah, Kuning, Oranye, Hijau dan Ungu. Selain itu, hue adalah jenis warna dominan dalam kelompok warna dimana tidak tercampuri oleh unsur warna hitam, putih, atau abu-abu. Dan warna-warna tersebut (abu-abu, hitam dan putih) tidak termasuk dalam warna hue (https://www.antilum.com/2018/08/memahami-istilah-istilah-warna-hue-tints-tones-shades.html).

Selain itu, Anda bisa juga menggunakan bentuk enclosure dan hue ketika Anda ingin menampilkan visualisasi data Anda dengan menggunakan diagram garis seperti slide di bawah ini.

Penerapan bentuk enclosure yang dapat mengarahkan mata audiens Anda kepada data yang ingin difokuskan adalah dengan menggunakan shade (bayangan) yang menunjukkan sebuah perbedaan visual dalam data yang Anda sajikan. Daerah shade (bayangan) yang menggunakan warna abu-abu menunjukkan bahwa ada pemisahan data sebelum bulan Agustus dan sejak bulan Agustus.

Penggunaan shade (bayangan) tersebut dapat membantu memudahkan audiens Anda untuk memahami informasi yang terjadi sejak bulan Agustus sampai bulan Desember dimana ada perbedaan (gap) antara tiket yang diproses (ticket processed) dengan tiket yang diterima (ticket rececived).

Selain itu, dengan menggunakan bentuk hue dimana data ticket processed diberi warna merah dan ticket received diberi warna abu-abu, maka Anda ingin memberikan penekanan kepada mata audiens Anda bahwa ticket processed yang menjadi perhatian, karena volumenya lebih rendah dari pada ticket received.

Demikianlah, preattentive attributes merupakan sebuah tool yang sangat berharga dalam visualisasi data Anda.

Ketika digunakan secara strategis, maka preattentive attributes sangat berguna untuk menarik perhatian audiens Anda dengan cepat ke tempat yang Anda inginkan dari visualisasi data yang Anda tampilkan.

Jika postingan ini bermanfaat bagi Anda, maka jangan lupa bagikan postingan ini ke kolega Anda agar postingan ini dapat juga bermanfaat bagi banyak orang.

 

 

 

 

6 Langkah Mengurangi Clutter Pada Visualisasi Data Anda

Cole (2015) dalam bukunya Storytelling with Data menyebutkan bahwa salah satu penyebab yang dapat berkontribusi pada beban kognitif adalah sesuatu yang disebut sebagai clutter.

Beban kognitif merupakan upaya mental yang kita perlukan untuk mempelajari informasi baru ketika kita menerima informasi tersebut. Sementara, clutter adalah elemen visual yang menempati ruang di dalam slide, tetapi tidak menambah pemahaman bagi audiens kita.  

Ada alasan sederhana mengapa kita harus mengurangi clutter dalam visualisasi data kita, yaitu karena clutter akan membuat visualisasi data yang kita tampilkan akan tampak lebih rumit dari yang seharusnya.

Tanpa mengenalinya secara eksplisit, maka kehadiran clutter dalam komunikasi visual akan menyebabkan kondisi yang kurang ideal yang akan membuat audiens kita tidak nyaman ketika melihat visualisasi data kita.

Ketika visualisasi data kita tampak rumit dan membuat audiens kita merasa tidak nyaman, maka kita akan mengalami resiko bahwa audiens kita tidak ingin meluangkan waktu untuk memahami apa yang kita sajikan dalam slide presentasi kita. Akibatnya, kita akan kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan mereka. Sesungguhnya, hal ini bukanlah hal yang baik.

Selanjutnya, coba perhatikan kondisi di bawah ini yang kemudian ditunjukkan dalam sebuah grafik.

Bayangkan Anda mengelola sebuah tim teknologi informasi. Tim Anda menerima tiket yang perlu diproses.

Pada tahun yang lalu, Anda memiliki sebuah tim dimana dua orang dari mereka keluar dari tim dan Anda memutuskan pada saat itu untuk tidak menggantikan mereka. Kemudian, Anda mendengar keluhan dari tim yang tersisa tentang pekerjaan yang tidak dapat tertangani.

Dalam mengatasi hal itu, Anda baru saja ditanya tentang kebutuhan perekrutan karyawan baru untuk tahun mendatang dan dalam hati Anda bertanya-tanya apakah harus mempekerjakan beberapa orang lagi.

Tentu, pertama-tama Anda ingin memahami apa dampak keluarnya dua orang karyawan selama setahun terakhir terhadap produktivitas tim Anda secara keseluruhan.

Lalu, Anda memplot tren bulanan tiket yang diterima dan diproses selama tahun yang lalu.

Pada grafik yang Anda plot menunjukkan bahwa karena ada dua karyawan yang berhenti pada bulan Mei, maka tim Anda hanya dapat menyelesaikan jumlah tiket yang masuk dalam dua bulan berikutnya. Akan tetapi, tim Anda tidak mampu menyelesaikannya dengan peningkatan gap yang cukup besar yang terjadi di bulan Agustus dan tidak dapat mengatasinya lagi sejak saat itu.

Grafik yang menunjukkan kondisi tersebut ditunjukkan pada slide di bawah ini.

Coba kita perhatikan slide di atas dari sisi clutter dari visualisasi data yang ditampilkan.

Untuk mengurangi clutter pada slide di atas, maka kita dapat menggunakan Prinsip Gestalt yang dapat membantu kita memahami bagaimana audiens kita melihat dan membantu kita untuk mengidentifikasi dan menghilangkan elemen visual yang tidak diperlukan. Selain itu, kita juga dapat memanfaatkan tiga strategi (alignment, white space, dan contrast) yang dapat membantu audiens kita menjadi lebih nyaman dalam interpretasi visualisasi data yang disajikan.

Cole (2015) menjelaskan bahwa ada enam langkah untuk mengurangi clutter dengan memanfaatkan prinsip Gestalt, alignment, white space dan contrast.

Mari kita bahas enam langkah tersebut satu per satu.

Langkah # 1 : Hilangkan Batas Chart

Batas chart (chart border) sebaiknya dihilangkan seperti yang telah kita bahas ketika membahas prinsip Gestalt, yaitu closure.

Konsep closure mengatakan bahwa orang-orang menyukai hal-hal yang sederhana dan sesuai dengan kontruksi yang sudah ada ada di kepala mereka. Karena hal ini, maka orang-orang cenderung menganggap sekumpulan elemen individu sebagai sebuah elemen tunggal yang mereka kenal ketika ketika ada elemen yang hilang.

Prinsip closure menjelaskan kepada kita bahwa batas chart ini tidak diperlukan. Kita dapat menghilangkannya dan chart kita masih tampak sebagai sebuah entitas yang kohesif.

Selain itu, dengan menghilangkan batas chart, maka kita telah menciptakan white space. White space ini dalam komunikasi visual diibaratkan seperti oksigen, yaitu sesuatu yang membuat desain slide kita seakan memiliki cukup ruang untuk bernafas. Ruangan slide kita jangan dipenuhi oleh elemen-elemen visual yang tidak menambah makna dalam visualisasi data kita.

Hasil dari menghilangkan batas chart dari slide aslinya ditunjukkan pada slide di bawah ini.

Langkah # 2 : Hilangkan Gridlines

Jika menurut Anda akan sangat membantu bagi audiens Anda ketika data Anda akan lebih mudah diproses secara lebih efektif, maka Anda dapat menghilangkan gridlines.

Dengan menghilangkan gridlines tersebut, maka Anda telah menciptakan white space yang akan dapat membantu audiens Anda lebih nyaman dalam interpretasi visualisasi data.

Jangan biarkan gridlines bersaing secara visual dengan data Anda. Hilangkan gridlines tersebut. Dengan menghilangkan gridlines, maka hal itu akan membuat kontras dan data Anda akan menjadi lebih menonjol.

Menghilangkan gridlines ditunjukkan pada slide di bawah ini.

Langkah # 3 : Hilangkan Penanda Data (Data Markers)

Anda perlu ingat bahwa setiap elemen yang muncul dalam visualisasi data Anda akan menambah beban kognitif bagi audiens Anda. Disini, kita telah menambah beban kognitif untuk memproses data yang sudah digambarkan secara visual dengan adanya dua garis.

Hal ini bukan untuk mengatakan bahwa Anda tidak boleh menggunakan penanda data (data markers), melainkan gunakanlah sesuai dengan tujuan dari pesan yang hendak Anda sampaikan.

Jangan masukan penanda data karena penanda data tersebut telah tersetting secara default oleh program power point yang Anda gunakan. Secara default artinya penanda data tersebut selalu digunakan bila Anda tidak mengubahnya.

Hasil dari menghilangkan penanda data ditunjukkan pada slide di bawah ini.

Langkah # 4 : Rapihkan Label Sumbu

Salah satu hal yang tidak menambah nilai dari visualisasi data adalah menambah angka nol pada angka yang tertera pada sumbu vertikal (sumbu Y).

Angka nol tersebut akan membuat angka yang terlihat menjadi lebih rumit. Hilangkanlah angka nol tersebut.

Dengan menghilangkan angka nol tersebut, maka beban kognitif dari audiens Anda akan menjadi berkurang.

Selain itu, Anda juga dapat menyingkat nama bulan yang tertera pada sumbu horizontal (sumbu X) dan juga merubah teks nama bulan dari posisi diagonal menjadi horisontal.

Mengubah teks diagonal menjadi horisontal adalah hal yang sangat penting seperti yang dinyatakan oleh satu studi yang dilakukan oleh Wigdor dan Balakrishnan (2005) yang menemukan bahwa teks yang diputar 450 membuat audiens Anda membacanya 52 % lebih lambat dari teks yang orientasinya normal. Oleh karena itu, hindari elemen diagonal pada slide Anda.

Merapihkan label sumbu hasilnya ditunjukkan pada slide di bawah ini.

Langkah # 5 : Labeli Data Secara Langsung

Ingatlah bahwa kita perlu terus mengidentifikasi apapun yang membuat beban mental bagi audiens kita untuk memahami visualisasi data yang kita tampilkan. Dan pekerjaan untuk mengurangi beban mental tersebut harus kita ambil, karena kita adalah perancang informasi.

Dari slide yang ditampilkan pada langkah 4, audiens kita masih mempunyai beban kognitif, yaitu : pekerjaan bolak-balik melihat antara legend dan data.

Untuk mengatasi hal itu, maka kita dapat menerapkan prinsip Gestalt, yaitu proximity (kedekatan) dengan meletakkan legend tepat di sebelah data yang disajikan (dua garis).

Prinsip Gestlat (proximity) mengatakan bahwa kita cenderung berpikir elemen atau obyek di dalam slide yang secara fisik berdekatan sebagai milik bagian dari sebuah grup. Artinya, garis biru milik tiket yang diterima dan garis merah milik tiket yang diproses.

Melabeli data secara langsung hasilnya ditunjukkan pada slide di bawah ini.

Langkah # 6 : Manfaatkan Warna Yang Konsisten

Dalam langkah kelima kita telah memanfaatkan Prinsip Gestalt (proximity). Untuk selanjutnya, coba kita manfaatkan Prinsip Gestalt (similarity) dengan membuat label data berwarna sama dengan datanya yang ditunjukkan oleh dua garis.

Prinsip Gestalt (similarity) mengatakan bahwa obyek atau elemen yang memiliki warna, bentuk, ukuran atau orientasi yang sama dianggap terkait atau menjadi bagian dari suatu kelompok.

Dengan memanfaatkan prinsip tersebut, maka ada isyarat visual bagi audiens kita bahwa label data dan datanya merupakan dua informasi yang terkait.

Hasil dari memanfaatkan warna yang konsisten ditunjukkan pada slide di bawah ini.

Dari seluruh rangkaian yang kita lakukan dalam upaya menghilangkan clutter, coba lihat slide sebelum dan sesudah yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Kita dapat melihat bahwa slide sesudah lebih nyaman untuk dipandang oleh mata kita.

Demikianlah, 6 langkah mengurangi clutter pada visualisasi data Anda.

Melakukan identifikasi dan menghilangkan clutter merupakan tugas kita sebagai penyaji informasi. Dan hal itu akan mengurangi beban kognitif bagi audiens kita.

Clutter adalah elemen visual yang menempati ruang di dalam slide, tetapi tidak menambah pemahaman bagi audiens kita.  Sementara, beban kognitif merupakan upaya mental yang kita perlukan untuk mempelajari informasi baru ketika kita menerima informasi tersebut.

Prinsip Gestalt dapat membantu Anda memahami bagaimana audiens Anda melihat dan memungkinkan Anda dapat mengindentifikasi dan menghilangkan elemen visual yang tidak perlu.

Selain itu, manfaatkanlah alignment dari elemen visual dan ciptakan white space untuk membantu membuat interpretasi visualisasi data Anda menjadi lebih nyaman bagi audiens Anda. Dan, gunakanlah contrast secara strategis.

Clutter adalah musuh kita. Oleh karena itu, hilangkan clutter dari slide presentasi kita.

3 Strategi Yang Dapat Membantu Audiens Anda Menjadi Lebih Nyaman Dalam Interpretasi Visualisasi Data

Kita akan mengalami beban kognitif kapan saja kita menerima informasi. Beban kognitif merupakan upaya mental yang kita perlukan untuk mempelajari informasi tersebut.

Cole (2015) menyebutkan bahwa salah satu penyebab yang dapat berkontribusi pada beban kognitif adalah sesuatu yang disebut sebagai clutter. Clutter adalah elemen visual yang menempati ruang dalam slide, tetapi tidak menambah pemahaman bagi audiens kita. Karena itu, clutter adalah sesuatu yang mesti kita hindari dalam membuat slide presentasi.

Ada alasan sederhana mengapa kita harus mengurangi clutter dalam slide presentasi kita. Yaitu karena hal tersebut akan membuat visualisasi data kita akan tampak lebih rumit dari yang diperlukan.

Ketika visualisasi data tampak rumit, maka kita menanggung resiko bahwa audiens kita dapat memutuskan untuk tidak ingin meluangkan waktu untuk memahami apa yang kita tunjukkan. Pada titik itulah, kita akan kehilangan kesempatan untuk dapat berkomunikasi dengan audiens kita. Dan hal itu bukanlah hal yang baik.

Cole (2015) menyebutkan bahwa untuk membuat audiens kita nyaman untuk melakukan interpretasi dari visualisasi data yang kita sajikan, maka ada 3 strategi yang dapat kita gunakan.

Mari kita bahas satu per satu strategi tersebut.

Strategi # 1 : Manfaatkan Alignment (Perataan)

Susunan visual yang Anda sajikan akan berdampak pada komunikasi Anda dengan audiens Anda.

Mari kita lihat contoh slide di bawah ini. Slide di bawah ini, teks yang bagian kanan adalah rata tengah. Hal ini membuat garis yang tidak rata apakah itu pada sisi kiri ataupun kanan yang akan menyebabkan tata letaknya menjadi tidak enak dipandang.

Perubahan yang relatif minor dari rata tengah menjadi rata kiri membuat dampak yang besar bagi komunikasi visual Anda. Coba Anda perhatikan perubahan yang dilakukan yang ditunjukan pada slide di bawah ini. Anda akan melihat bahwa slide di bawah ini menciptakan garis yang lebih rapih baik secara horizontal maupun vertikal.

Selain itu, garis diagonal yang menghubungkan insight dari grafik ke data juga dihilangkan yang mengurangi beban kognitif bagi audiens Anda.

Umumnya, elemen diagonal seperti garis dan teks harus dihindari. Mereka akan tampak berantakan. Dan dalam hal teks, teks yang diagonal lebih sulit dibaca dari teks yang horizontal. Satu studi yang dilakukan oleh Wigdor dan Balakrishnan (2005) menemukan bahwa teks yang diputar 450 membuat audiens Anda membacanya 52 % lebih lambat dari teks yang orientasinya normal. Oleh karena itu, hindari elemen diagonal pada slide Anda.

Strategi # 2 : Ciptakan White Space

Istilah white space digunakan untuk melihat ruang kosong pada slide. Mungkin Anda pernah mendengar umpan balik ini sebelumnya : “masih ada ruang kosong di halaman slide. Jadi, mari kita tambahkan sesuatu di ruang kosong tersebut” atau lebih buruk lagi “di slide itu masih ada ruang kosong yang tersisa. Jadi, mari kita tambahkan lebih banyak data di ruang kosong itu”.

Anda jangan pernah menambahkan data hanya untuk menambah data. Cukup tambahkan data dengan tujuan yang spesifik yang ingin Anda ungkapkan dalam visualisasi data Anda.

Kita perlu lebih nyaman dengan adanya white space.

White space dalam komunikasi visual sama pentingnya dengan jeda dalam berbicara di depan umum. Mungkin Anda pernah mengikuti presentasi yang tidak memiliki jeda.

Rasanya seperti ini. “Ada pembicara di depan Anda. Dan mungkin karena gugup atau mungkin karena dia ingin menyampaikan banyak materi dari yang seharusnya waktu yang dialokasikan, maka dia bicara tanpa henti. Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana dia bernafas. Anda ingin bertanya, tetapi pembicara sudah pindah ke topik berikutnya dan masih belum berhenti”.

Hal itu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan bagi audiensnya.

Sekarang coba Anda bayangkan pengaruhnya jika pembicara yang sama membuat pernyataan tunggal, yaitu “Kematian diagram batang”.

Dan berhenti bicara selama 15 detik untuk membuat pernyataan itu dicerna oleh audiensnya. Itu adalah jeda yang sangat dramatik. Dan hal itu akan mendapat perhatian dari audiensnya, bukan ?

Efek yang sama ketika Anda menggunakan white space secara strategik yang dapat memberikan pengaruh pada komunikasi visual Anda. Kurangya white space seperti kurangnya jeda pada presentasi akan membuat audiens Anda merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan audiens dalam merespons desain dari komunikasi visual Anda adalah sesuatu yang harus Anda hindari.

White space dapat digunakan secara strategis untuk menarik perhatian ke bagian slide yang bukan white space.

Ketika Anda berupaya untuk tetap menjaga white space, maka berikut beberapa pedoman yang dapat digunakan.

Margin harus tetap bebas dari teks dan visual. Tahan keinginan untuk mengisi ruang kosong yang tersedia tanpa tujuan komunikasi yang jelas. Sebagai gantinya, sesuaikan ukuran visual Anda dengan kontennya.

Di luar itu, maka pikirkan bagaimana Anda menggunakan white space secara strategis untuk penekanan seperti yang diilustrasikan dengan jeda yang dramatis. Jika ada satu hal yang benar-benar penting, maka pikirkan untuk membuatnya menjadi satu hal pada slide Anda. Dalam beberapa kasus, hal itu bisa berupa satu kalimat atau bahkan satu angka.

Pada slide di bawah ini, white space tidak diupayakan untuk diciptakan. White space antara kolom data terlalu sempit untuk menekankan data secara optimal. Dan garis putus-putus sebenarnya telah menciptakan clutter.

Berbeda dengan slide di atas, slide di bawah ini telah menggunakan white space dengan tepat. White space antara kolom data telah diperlebar. Dan garis putus-putus telah dihilangkan untuk menghindari adanya clutter.

Strategi # 3 : Gunakan Kontras Secara Strategis

Kontras yang jelas dapat menjadi sinyal yang bagus bagi audiens kita yang dapat membantu mereka memahami dimana harus memfokuskan perhatian mereka. Di sisi lain, kurangnya kontras dapat menjadi sebuah bentuk gangguan visual.

Ketika membicarakan nilai strategis dari kontras, maka kita dapat menggunakan analogi berikut. Tidak mudah melihat burung elang di langit yang penuh burung merpati. Ketika variasi burung meningkat, maka burung elang itu makin sulit untuk dilihat.

Analogi itu menyoroti pentingnya penggunaan kontras secara strategis dalam desain visual. Semakin banyak hal yang kita buat berbeda, semakin kecil salah satu dari hal tersebut dapat menonjol.

Untuk menjelaskan hal itu dengan cara lain, jika ada sesuatu yang sangat penting yang kita ingin audiens ketahui atau lihat (burung elang), maka kita harus menjadikan (burung elang) itu sesuatu hal yang sangat berbeda dari burung lainnya.

Mari kita lihat sebuah contoh untuk menggambarkan konsep tersebut.

Bayangkan Anda bekerja sebagai pedagang retail dan ingin memahami perasaan pelanggan Anda tentang berbagai dimensi pengalaman belanja mereka di toko Anda dibandingkan pesaing Anda. Anda telah melakukan survei untuk mengumpulkan informasi tersebut dan mencoba memahami apa yang survei tersebut katakan.

Anda telah membuat indeks kinerja untuk meringkas setiap kategori dimensi pengalaman belanja konsumen, Semakin tinggi indeks, semakin baiknya kinerjanya. Sebaliknya, semakin rendah indeks, semakin jelek kinerjanya.

Slide di bawah ini menunjukkan indeks kinerja untuk seluruh kategori pengalaman belanja konsumen.

 

Coba Anda pelajari sejenak dari slide di atas dan catat proses berpikir Anda ketika Anda menerima informasi tersebut.

Jika Anda diminta untuk menggambarkan slide di atas dalam satu kata, apakah kata itu ? Mungkin kata-kata yang datang ke pikiran Anda adalah sibuk, membingungkan dan melelahkan.

Ada banyak hal yang terjadi pada grafik tersebut. Begitu banyak hal yang bersaing untuk mendapatkan perhatian kita, sehingga sulit untuk mengetahui apa yang dicari.

Mari kita tinjau dengan tepat apa yang kita lihat. Data yang ditampilkan pada grafik di atas adalah indeks kinerja. Anda tidak perlu mengetahui secara rinci bagaimana indeks kinerja tersebut dihitung, tetapi Anda perlu lebih memahami bahwa grafik tersebut merupakan ringkasan ukuran kinerja yang ingin kita bandingkan dari berbagai kategori pengalaman belanja konsumen (yang ditunjukkan pada sumbu X : Pemilihan, Kenyaman, Layanan, Hubungan, dan Harga) untuk bisnis kita (yang ditunjukkan oleh diamond berwarna biru) dibandingkan sejumlah pesaing (yang ditunjukkan oleh shapes yang berwarna lainnya). Sebuah indeks yang lebih tingggi menggambarkan kinerja yang lebih baik dan sebuah indeks yang lebih rendah berarti kinerja yang lebih rendah.

Memahami informasi tersebut memerlukan waktu yang lama, karena kita melihat bolak balik antara legend pada bagian bawah dan data pada grafik. Bahkan, jika kita sangat sabar dan benar-benar ingin mendapatkan informasi dari visual tersebut, maka hampir tidak mungkin karena bisnis kita (diamond warna biru) terkadang dikaburkan oleh titik data lainnya yang membuat kita tidak dapat melihat perbandingan yang paling penting untuk dibuat.

Hal ini adalah contoh kasus dimana kurangnya kontras membuat informasi menjadi lebih sulit untuk ditafsirkan.

Coba Anda perhatikan slide di bawah ini dimana kita menggunakan kontras secara lebih strategis.

Dalam slide di atas telah dilakukan sejumlah perubahan. Pertama, untuk menampilkan visualisasi data dipilih diagram batang horisontal. Selain itu, dilakukan juga perubahan skala dengan angka positif, karena pada grafik aslinya ada beberapa nilai negatif yang memperumit pemahaman visualisasi yang ditampilkan.

Perubahan ini dapat memberikan manfaat, karena kita lebih tertarik pada perbedaan relatif dari pada nilai absolut. Dalam pembuatan ulang grafik itu, kategori pengalaman belanja konsumen yang sebelumnya digambarkan sepanjang sumbu horisontal X sekarang menjadi sumbu vertikal Y.  

Dalam setiap kategori, panjangnya diagram batang menunjukkan ringkasan indeks pada bisnis kita (biru) dan pesaing (abu-abu) dengan batang yang lebih panjang menunjukkan kinerja yang lebih baik.

Dengan perubahan tampilan visualisasi ini, ada kemudahan untuk melihat dua hal secara cepat, yaitu :

  1. Kita bisa membiarkan mata kita untuk menscanning diagram batang yang biru untuk mendapatkan pemahaman bagaimana kinerja bisnis kita di berbagai kategori. Bisnis kita mendapatkan nilai yang tinggi pada kategori Harga dan Kenyaman dan nilai yang lebih rendah pada kategori Hubungan. Dan bisnis kita sedang berjuang dalam kategori Layanan dan Seleksi sebagaimana ditunjukkan dengan nilai kinerja yang rendah pada kategori tersebut.
  2. Dalam kategori tertentu, kita dapat membandingkan diagram batang yang biru dengan diagram batang yang abu-abu untuk melihat bagaimana bisnis kita berjalan relatif terhadap pesaing. Bisnis kita unggul pada kategori Harga dan kalah pada kategori Layanan dan Pemilihan.

Pesaing dibedakan satu sama lainnya berdasarkan urutannya dimana mereka muncul. Pesaing A muncul setelah bisnis kita. Pesaing B muncul setelah pesaing A. Pesaing C muncul setelah pesaing B dan seterusnya.

Dalam slide yang telah diperbaiki, tampilan kategori diatur dalam urutan indeks kinerja yang menurun untuk bisnis kita yang memberikan kemudahan bagi audiens untuk mengetahui dengan cepat bagaimana peringkat bisnis kita pada setiap kategori dalam kaitannya dengan pesaing.

Anda dapat memperhatikan disini bagaimana penggunaan kontras yang efektif menjadikan proses memahami informasi menjadi lebih cepat, mudah dan nyaman.

Demikianlah, 3 strategi yang dapat membantu interpretasi visualisasi data untuk kenyamanan audiens Anda.

Clutter adalah musuh kita, Oleh karena itu, hilangkan mereka dari visual kita.

Manfaatkan alignment dari elemen visual kita dan ciptakanlah white space untuk membantu interpretasi visual kita menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi audiens kita. Selain itu, gunakanlah kontras secara strategis.

 

 

 

Cara Alternatif Membuat Visualisasi Data Dengan Basic Shape

Tampilan slide presentasi yang menarik secara visual menjadi hal yang sangat penting untuk Anda buat ketika Anda ingin melakukan presentasi. Menurut Wharton School of Businnes seperti yang dijelaskan dalam https://neomam.com/interactive/13reasons/ menyebutkan bahwa 67 % audiens dapat dibujuk oleh presentasi verbal yang dipadukan oleh tampilan slide yang bersifat visual.

Slide presentasi power point dapat menjadi media yang tepat untuk menampilkan data menjadi lebih menarik secara visual. Slide presentasi power point yang ditampilkan bukan hanya ditujukan agar audiens mempunyai minat terhadap visualisasi yang Anda sajikan, tetapi juga  agar audiens dapat memahami pesan yang ingin disampaikan melalui penyajian datanya.

Kadang kala sering terjadi ketika kita membuat visualisasi data, maka kita langsung meng-copy paste data yang kita olah melalui excel, sehingga banyak informasi yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan ke dalam slide. Padahal, sebenarnya kita hanya perlu memasukkan datanya saja untuk memperkuat pesan yang akan kita utarakan. Informasi yang tidak perlu malah dapat menimbulkan gangguan bagi audiens ketika melihat slide presentasi kita seperti gridlines dan data table.

Sebelum data disajikan, maka Anda perlu memikirkan terlebih dahulu apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada audiens Anda. Hal ini dikarenakan penggunaan data yang tepat harus selalu memunculkan inti sari dari apa yang ingin disampaikan. Data yang tanpa intisari sangatlah tidak efektif.

Misalnya, Anda ingin menyampaikan pesan terkait pembelajaran online bahwa jumlah mahasiswa dengan nilai > 80 meningkat.

Data yang Anda miliki adalah pada kuis 1 ada 50 mahasiswa yang memperoleh nilai di atas 80, kuis 2 ada 70 mahasiswa, kuis 3 ada 90 mahasiswa dan kuis 4 ada 120 mahasiswa.

Data-data tersebut yang Anda tampilkan dalam slide presentasi Anda mesti presisi. Artinya, angka yang tertera menggambarkan ukurannya. Jika data yang ditampilkan tidak presisi ukurannya, maka data tersebut tidak dapat memberikan arti.

Agar audiens Anda mudah untuk memahami pesan yang ingin Anda sampaikan, maka data tersebut dapat Anda sampaikan dalam bentuk diagram batang.

Slide yang ingin Anda tampilkan bentuknya dapat seperti di bawah ini.

Untuk membuat slide di atas, selain Anda dapat menggunakan menu insert chart yang ada di power point, maka Anda juga dapat menggunakan cara lain, yaitu menggunakan basic shape rectangle yang ada di power point.

Mari kita buat slide di atas langkah demi langkah.

Langkah # 1 : Buatlah Diagram Batang Dengan Basic Shape

Langkahnya diawali dengan memasukan basic shape rectangle. Untuk memasukkan basic shape rectangle tersebut, Anda pilih menu home, lalu pilih basic shape rectangle. Hasilnya seperti gambar di bawah ini.

Lalu, klik kanan shape rectangle tersebut dengan mouse, sehingga hasilnya akan seperti gambar di bawah ini.

Kemudian, pilih format shape, klik size, ketik height : 5,64 cm (yang mewakili 50 mahasiswa), dan klik lock aspect ratio, sehingga gambarnya seperti di bawah ini.

Selanjutnya, copy shape rectangle tersebut dengan menggunakan Ctrl+D, sehingga menghasilkan shape kedua.  Tarik shape kedua sejajar dengan shape yang pertama yang ditandai dengan munculnya garis merah di bagian atas dan bawah kedua shape. Hasilnya akan terlihat seperti di bawah ini.

Lalu, dari shape kedua dicopy dengan menggunakan Ctrl+D sebanyak dua kali, sehingga hasilnya seperti gambar di bawah ini.

Kemudian klik shape kedua, pilih format shape, pilih size, hilangkan tanda pada lock aspect ratio, ketik height menjadi 7,90 cm yang mewakili 70 mahasiswa ((70/50) x 5,64 cm).  Hasilnya seperti di bawah ini.

Kemudian klik shape ketiga, pilih format shape, pilih size, hilangkan tanda pada lock aspect ratio, ganti height menjadi 10,15 cm yang mewakili 90 mahasiswa ((90/50) x 5,64 cm).  Hasilnya seperti di bawah ini.

Selanjutnya, klik shape keempat, pilih format shape, pilih size, hilangkan tanda pada lock aspect ratio, ketik height menjadi 13,54 cm yang mewakili 120 mahasiswa ((120/50) x 5,64 cm).  Hasilnya seperti di bawah ini.

Lalu, blok semua keempat shape, klik menu format, klik align, pilih align bottom, sehingga hasilnya seperti gambar di bawah ini.

Kemudian, bawa ke atas keempat shape tersebut masuk ke dalam slide, sehingga hasilnya seperti gambar di bawah ini.

Langkah # 2 : Ubah Warna Keempat Shape

Klik shape pertama; pilih shape fill; pilih warna orange, accent 2, lighter 60 % dan warna yang sama juga untuk shape outline. Kemudian, klik shape kedua; pilih shape fill; pilih warna orange, accent 2, lighter 40 % dan warna yang sama juga untuk shape outline.

Lalu, klik shape ketiga; pilih shape fill; pilih warna orange, accent 2, darker 25 % dan warna yang sama juga untuk shape outline. Terakhir, klik shape keempat; pilih shape fill; pilih warna orange, accent 2, darker 50 % dan warna yang sama juga untuk shape outline.

Hasilnya akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Langkah # 3 : Masukan Teks Yang Terkait

Demikianlah, cara alternatif membuat visualisasi data dengan basic shape.

Cobalah untuk selalu berpikir dan mencoba untuk menampilkan data yang mudah dipahami oleh audiens Anda.

Menampilkan visualisasi data dengan basic shape dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat Anda lakukan.

Disamping itu, dalam menyajikan data, Anda perlu menyampaikan data tersebut dengan presisi dimana angka yang tertera menggambarkan ukurannya. Jika data yang ditampilkan tidak presisi ukurannya, maka data tersebut tidak dapat memberikan arti.

Berlatih, berlatih dan berlatihlah untuk terus membuat visualisasi data yang menarik bagi audiens Anda. Semakin sering Anda berlatih, semakin terampil Anda dapat membuat visualisasi data yang mengesankan bagi audiens Anda.

Jika postingan ini bermanfaat bagi Anda, maka jangan lupa bagikan postingan ini ke kolega Anda agar postingan ini dapat juga bermanfaat bagi banyak orang.