Satu Cara Kreatif dan Mudah Untuk Menyajikan Visualisasi Data Yang Menarik Bagi Audiens Anda

Apakah Anda merasa visualisasi data yang Anda buat dalam slide presentasi Anda tidak menarik ?

Visualisasi data yang tidak menarik dapat mengurangi antusiasme audiens terhadap presentasi Anda.

Begitu audiens Anda melihat visualisasi data yang Anda buat tidak menarik, maka bisa jadi mereka kehilangan minat untuk melihat dan mendengarkan presentasi Anda selanjutnya.

Ketika Anda menampilkan data berupa chart pada slide presentasi power point, maka seperti apa tampilannya ? Apakah cuma sekedar copy paste dari apa yang dibuat dalam Microsoft Excel ?

Jika angka yang ditampilkan banyak dan tidak ada angka yang ditonjolkan, maka tampilan slide presentasi Anda akan sulit untuk dipahami oleh audiens Anda. Pada akhirnya, data yang ditampilkan hanya sekedar memenuhi syarat saja bahwa Anda telah melakukan presentasi. Tampilan presentasi Anda tidak memudahkan audiens untuk mengambil keputusan.

Slide presentasi power point dapat menjadi media yang tepat untuk menampilkan data menjadi lebih menarik. Bukan hanya agar slide power point yang Anda sajikan semakin dapat meningkatkan minat audiens terhadap visualisasi yang Anda tampilkan, tetapi juga yang paling penting adalah audiens Anda mampu memahami pesan yang ingin disampaikan melalui penyajian datanya.

Selain itu, slide power point yang berisi visualisasi data yang menarik dapat mempermudah mereka untuk mengingat apa yang penting dan mengambil tindakan yang membantu mereka untuk mencapai tujuan mereka.

Ada banyak chart yang dapat Anda gunakan. Tetapi, pertanyaannya adalah chart mana yang harus Anda gunakan ? Jawaban singkatnya, tergantung pada tujuannya, yaitu : pada apa yang ingin Anda komunikasikan.

Sebaiknya Anda gunakan chart yang dapat dipahami oleh audiens Anda dengan mudah dan cepat.

Selain menggunakan chart ini, maka anda dapat menggunakan chart lain, yaitu piktogram.

Piktogram adalah jenis chart yang menggunakan icon untuk mewakili data.

Selain membuat data Anda akan terlihat bagus, maka icon yang disusun secara visual untuk mewakili data dapat meningkatkan ingatan audiens tentang data tersebut dan bahkan dapat meningkatkan keterlibatan mereka dengan data tersebut.

Piktogram menggunakan serangkaian icon yang berulang untuk memvisualisasikan data sederhana. Icon dapat disusun dalam beberapa baris dengan setiap icon mewakili sejumlah unit tertentu, bisa 1, 10, atau 100.

Karena piktogram dibuat dari serangkaian icon, maka piktogram sangat baik untuk digunakan pada saat-saat ketika Anda membutuhkan chart yang menarik, tetapi tidak memiliki kemampuan desain grafis.

Sebagai contoh, Anda mempunyai data yang menyebutkan bahwa 68 % kemampuan mahasiswa berpengaruh terhadap prestasi belajar dan 32 % kemampuan mahasiswa tidak berpengaruh terhadap presentasi belajar.

Data tersebut dapat Anda tampilkan menggunakan piktogram yang berisi sejumlah icon seperti yang ditampilkan pada slide di bawah ini.

Untuk membuat slide di atas dengan menggunakan sejumlah icon yang tersusun rapi baris per baris sangatlah mudah.

Anda dapat menggunakan fitur power point Ctrl+D. Fitur Ctrl+D akan memudahkan Anda untuk menduplikat sebuah bentuk icon menjadi sama bentuknya dan memiliki jarak yang presisi antara satu icon dengan icon lainnya.

Mari kita ikuti langkahnya satu demi satu untuk membuatnya.

Langkah # 1 : Masukan Sebuah Icon

Langkah # 2 : Perbanyak Icon Baris Pertama Menjadi Sepuluh

Langkahnya adalah klik icon pada langkah no 1, sehingga akan terlihat seperti tampilan di bawah ini.

Kemudian, copy icon tersebut di atas dengan menggunakan Ctrl+D. Tarik icon kedua agar sejajar dengan icon pertama. Tanda icon pertama dan icon kedua sejajar adalah power point akan memunculkan garis bantu putus-putus berwarna merah di atas dan bawah secara horisontal. Hasilnya akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Selanjutnya, tekan Ctrl+D sebanyak delapan kali, sehingga hasilnya akan tampak seperti gambar di bawah ini.

Langkah # 3 : Buat Icon Baris Pertama Menjadi Baris Kedua

Blok sepuluh icon yang dihasilkan pada langkah kedua, klik kanan mouse, dan pilih group, sehingga hasilnya akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Lalu, tekan Ctrl+D sepuluh icon tersebut yang akan menghasilkan sepuluh icon pada baris kedua. Buat sepuluh icon baris kedua sejajar dengan sepuluh icon baris pertama secara vertikal yang ditandai dengan munculnya garis merah di sisi kiri dan kanan. Hasilnya akan terlihat seperti di bawah ini.

Langkah # 4 : Perbanyak Icon Baris Kedua Menjadi Sepuluh Baris

Dari langkah ketiga, kemudian tekan Ctrl+D sebanyak delapan kali, sehingga akan dihasilkan sepuluh baris yang masing-masing baris akan terdiri dari sepuluh icon. Hasilnya akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Lalu, klik semua sepuluh baris icon tersebut, klik kanan, pilih ungroup. Tujuannya agar Anda dapat memberikan warna yang berbeda dari icon-icon tersebut.

Selanjutnya, beri warna oranye sebanyak 68 icon dan warna abu-abu sebanyak 32 icon dengan menggunakan fitur shape fill dan shape outline yang akan menghasilkan seperti gambar di bawah ini.

Langkah # 5 : Masukan Pesannya

Demikianlah, cara kreatif menyajikan visualisasi data yang menarik bagi audiens Anda dengan sangat mudah.

Cobalah untuk mengubah cara menampilkan data dari yang biasanya Anda tampilkan dalam slide power point.

Piktogram dapat menjadi salah satu pilihan, karena piktogram menggunakan icon yang merupakan representasi data bergambar yang memudahkan untuk menjelaskan data. Dengan menggunakan piktogram akan membuat data lebih mudah diingat.

Teruslah berlatih untuk membuat visualisasi data yang menarik bagi audiens Anda. Semakin sering Anda berlatih, semakin terampil Anda dapat membuat visualisasi data yang memukau bagi audiens Anda.

Jika postingan ini bermanfaat bagi Anda, maka jangan lupa bagikan postingan ini ke kolega Anda agar postingan ini dapat juga bermanfaat bagi banyak orang.

 

 

Enam Elemen Visual Yang Teruji Untuk Memvisualisasikan Slide Presentasi Untuk Kebutuhan Kantor, Bisnis dan Kampus Anda

Apakah Anda bekerja di kantor, memiliki bisnis atau melakukan aktivitas di kampus tentu tidak terlepas dari kegiatan yang namanya presentasi.

Dalam melakukan presentasi tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa Anda ingin agar presentasi yang Anda sampaikan mudah dipahami, diingat dan mendorong suatu tindakan yang Anda inginkan.

Anda dapat menggunakan slide presentasi yang dapat berfungsi sebagai media penguat dari pesan yang Anda sampaikan.

Oleh karena itu, tampilan slide presentasi yang visual menjadi hal yang sangat penting. Menurut Wharton School of Businnes seperti yang dijelaskan dalam https://neomam.com/interactive/13reasons/ menyebutkan bahwa 67 % audiens dapat dibujuk oleh presentasi verbal yang ditemani oleh tampilan slide yang bersifat visual.

Seperti yang dijelaskan dalam https://www.t-sciences.com/news/humans-process-visual-data-better bahwa visualisasi bekerja dari perspektif manusia karena kita merespons dan memproses data visual lebih baik dari pada jenis data lainnya. Faktanya, otak manusia memproses gambar 60.000 kali lebih cepat dari pada teks dan 90 persen informasi yang dikirimkan ke otak adalah visual. Karena kita pada dasarnya visual, maka kita perlu membuat slide presentasi yang visual untuk meningkatkan pemrosesan data dan efektivitas organisasi.

John Medina, seorang neuroscientist seperti yang disebutkan oleh Janine Kurnoff dan Lee Lazarus (2021) mengatakan bahwa ide yang yang disampaikan dalam bentuk visual akan diproses lebih cepat dari pada ide yang sama yang disampaikan dalam bentuk tulisan atau lisan. Visual dapat memanusiakan ide-ide Anda yang memicu emosi dan perasaan. Dan, emosi (bahkan lebih dari logika murni) memotivasi kita untuk bertindak.

Sebaliknya, visual yang mengganggu atau membosankan seperti slide presentasi yang diisi dengan teks atau angka murni akan menumpulkan emosi kita dan memperlambat pengambilan keputusan.

Sayangnya, banyak presentasi yang kita lakukan apakah itu di kantor, bisnis atau kampus terganggu oleh tampilan visual yang buruk. Tampilan slide tersebut banyak dipenuhi oleh teks, charts, dan bullet points.

Untuk memahami mengapa membuat tampilan slide visual yang benar sangat penting, coba tanyakan pada diri Anda satu pertanyaan ini : apa tujuan dari presentasi saya ? Bukankah untuk membantu pengambilan keputusan? Atau meyakinkan audiens Anda ? Atau memajukan percakapan bisnis ?

Visual yang jelas dan sederhana membantu ide-ide Anda diinterpretasikan dengan lebih cepat dan keputusan dibuat lebih cepat karena visual memanusiakan ide-ide Anda dan lebih menanamkan emosi dari pada mengandalkan logika murni. Sebaliknya, visual yang buruk akan memperlambat pengambilan keputusan. Dan, keputusan yang lebih lambat mengakibatkan bisnis yang juga lebih lambat.

Visual yang ditampilkan sering tidak baik ketika kita kekurangan waktu atau strategi cerita untuk membimbing kita. Presenter—dapat dimengerti—selalu ingin menghemat waktu dengan menggunakan kembali slide yang ada. Kita juga sering mengumpulkan slide dari yang ada sebelumnya atau meminjam slide dari rekan kerja tanpa memikirkan maksud dari pesan yang kita coba komunikasikan untuk tujuan tertentu.

Kita mudah untuk menjadi korban dari visual yang buruk. Presentasi yang kita lakukan memasukkan terlalu banyak teks dan data serta sering kali menggunakan warna dan font yang tidak sesuai.

Di sisi lain, bahkan slide yang dibuat tidak selalu dirancang dengan pesan yang jelas dan mudah dicerna, yang pada akhirnya menyebabkan kebingungan dari pada memajukan cerita yang perlu kita sampaikan. Karena itu, Anda perlu strategi cerita yang menawarkan kerangka kerja yang diperlukan yang menentukan segala sesuatu yang harus dimasukkan dalam cerita dan segala sesuatu yang tidak perlu Anda masukan.

Pertanyaannya adalah apa elemen visual yang diperlukan untuk memvisualkan slide untuk presentasi di kantor, bisnis dan kampus Anda ?

Janine Kurnoff dan Lee Lazarus (2021) menyebutkan bahwa ada lima elemen visual yang teruji yang dapat Anda gunakan untuk memvisualkan slide presentasi Anda. Saya menambahkan satu elemen lagi, sehingga ada enam elemen visual yang dapat Anda gunakan untuk membuat slide presentasi Anda.

Keenam elemen visual tersebut adalah :

  1. Foto.
  2. Icon.
  3. Diagram.
  4. Data.
  5. Teks.
  6. Video.

Mari kita ulik satu per satu keenam elemen visual tersebut.

Elemen Visual # 1 : Foto

Foto dapat menjadi alat yang benar-benar kuat dalam storytelling. Foto jauh lebih mudah diingat dari pada teks karena foto memanusiakan pesan Anda dan membantu menghubungkannya dengan audiens Anda pada tingkat emosional. Foto yang digunakan secara tepat dapat membantu pesan Anda mudah dipahami, mampu menggugah emosi audiens Anda dan menarik perhatian mereka.

Elemen Visual # 2 : Icon

Icon menurut Aurora Harley, konsultan di Nielsen Norman Group seperti yang dijelaskan dalam https://www.nngroup.com/articles/icon-usability/ adalah representasi visual dari obyek, aksi atau ide. Jadi, dengan menggunakan icon pada presentasi, audiens Anda akan lebih mudah dan cepat memahami informasi yang ingin Anda sampaikan pada sebelum menggunakan icon

Untuk itulah, penggunaan icon dalam presentasi disarankan. Selain untuk memudahkan audiens Anda dalam menerima informasi, icon juga dapat memperindah tampilan visual pada slide presentasi Anda.

Elemen Visual # 3 : Diagram

Diagram sangat bagus untuk membagi dan mengelompokkan informasi menjadi konsep kecil yang mudah dicerna dengan menggunakan berbagai bentuk shape dan warna.

Diagram dapat menjadi alternatif yang bagus untuk charts dan tabel yang terlalu sering digunakan, bahkan timeline untuk menarik perhatian dan menyampaikan pesan utama Anda.

Elemen Visual # 4 : Data

Data paling sering disajikan dalam bentuk charts, grafik, dan tabel. Namun, jangan takut untuk berpikir di luar charts dengan menggunakan kombinasi angka, teks, dan bentuk basic shapes untuk menarik perhatian audiens Anda dalam memberikan insights dari data yang Anda sajikan dan memajukan cerita yang Anda jelaskan.

Elemen Visual # 5 : Teks

Ya, teks adalah jenis visual. Bahkan, itu adalah visual yang paling umum. Dan sayangnya, itu terlalu sering digunakan. Karena program populer seperti power point secara default langsung menyediakan bullet points dan teks, maka kita sering mendapatkan slide yang penuh dengan kata-kata, sehingga audiens sulit untuk melihat dan mencerna dengan cepat. Tetapi, teks dapat bekerja dengan sangat baik bila digunakan dengan warna dan ukuran yang kontras.

Elemen Visual # 6 : Video

Video adalah cara terbaik untuk mengubah kecepatan, suara, dan media dari cerita bisnis apa pun. Video dapat membantu mengatur nada untuk pembukaan cerita Anda, menghidupkan karakter Anda atau memberikan penutup yang dramatis yang memperkuat ide besar Anda. Yang terbaik dalam penggunaan video dalam presentasi Anda adalah tetap singkat dan tentu saja, benar-benar sesuai dengan pesan yang hendak Anda sampaikan.

Sesungguhnya membuat slide presentasi yang visual dan menarik bagi audiens Anda dengan melakukan berbagai kombinasi dari elemen visual di atas sangatlah mudah. Asalkan Anda mengetahui aspek fundamental, yaitu prinsip dan elemen desain slide presentasi dan aspek teknikal, yaitu fitur kreatif power point dan teknik desain slide presentasi, maka Anda dapat membuat slide presentasi yang visual dan memukau bagi audiens Anda.

Berikut beberapa contoh slide presentasi yang visual dan menarik bagi audiens Anda.

Contoh Slide Visual # 1 : Foto + Teks

Contoh Slide Visual # 2 : Foto + Teks

Contoh Slide Visual # 3 : Foto + Teks

Contoh Slide Visual # 4 : Icon+ Teks + Foto

Contoh Slide Visual # 5 : Diagram+ Icon + Teks

Contoh Slide Visual # 6 : Data+ Teks

Contoh Slide Visual # 7 : Data

Contoh Slide Visual # 8 : Data+ Diagram + Icon + Teks

Demikianlah, 6 elemen visual yang teruji untuk memvisualkan slide presentasi untuk kebutuhan kantor, bisnis dan kampus Anda.

Tidak ada ilmu yang pasti untuk memilih visual yang benar, tetapi adalah ide yang baik untuk menampilkan variasi dari berbagai elemen visual yang ada.

Saya menyarankan untuk tidak pernah jatuh cinta pada satu foto, charts, atau diagram. Selalu perhatikan cerita Anda terlebih dahulu, lalu pilih visual yang pas yang secara langsung mendukung cerita Anda.

Selain itu, untuk membuat slide yang visual dan menarik pelajari dan kuasailah prinsip dan elemen desain slide presentasi serta fitur kreatif power point dan teknik desain slide presentasi.

Teruslah berlatih, berlatih dan berlatih untuk membuat slide presentasi yang visual dan menarik bagi audiens Anda. Semakin sering Anda berlatih, semakin terampil Anda dapat membuat slide presentasi visual tersebut.

Bagi Anda yang ingin mengetahui Cara Mudah Desain Foto Yang WOW Dalam Sebuah Materi Presentasi, kunjungilah blog yang sangat bagus tentang Strategi + Manajemen.

Jika postingan ini bermanfaat bagi Anda, maka jangan lupa bagikan postingan ini ke kolega Anda agar postingan ini dapat juga bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih.

 

 

 

6 Prinsip Gestalt Yang Dapat Anda Gunakan Untuk Memudahkan Audiens Anda Dalam Memproses Visualisasi Data

Setiap elemen yang Anda masukan ke dalam slide presentasi Anda akan menambah beban kognitif bagi audiens Anda. Cole (2015) dalam bukunya Storytelling with Data menyebutkan bahwa beban kognitif merupakan usaha mental yang diperlukan oleh audiens Anda ketika mereka memproses informasi yang Anda sajikan kepada mereka.

Yang perlu kita ketahui adalah otak kita memiliki keterbatasan dalam memproses informasi. Sebagai designer dari visualisasi data, maka kita perlu secara cerdas mengetahui bagaimana kita menggunakan otak dari audiens kita. Kita perlu menghilangkan elemen yang tidak memberikan nilai tambah dan tidak membantu audiens kita untuk memahami data yang kita sajikan.

Sejumlah konsep telah diperkenalkan dari waktu ke waktu dalam upaya menjelaskan dan membantu memberikan petunjuk bagi kita sebagai perancang visualisasi data untuk mengurangi beban kognitif bagi audiens kita.

Edward Tufte dalam bukunya The Visual Display of Quantitative Information mengenalkan konsep data-ink ratio. Ia mengatakan bahwa semakin banya tinta yang digunakan untuk data, semakin baik. Sementara itu, Nancy Duarte dalam bukunya Resonate menjelaskan konsep signal to noise ratio. Ia mengatakan bahwa kita perlu memaksimalkan signal to noise ratio dimana signal (sinyal) adalah informasi yang kita komunikasikan dan noise adalah elemen-elemen yang tidak menambah nilai dari pesan yang ingin kita sampaikan.

Oleh karena itu, dalam menyajikan visualisasi data, maka Anda harus memikirkan untuk meminimalkan beban koqnitif bagi audiens Anda.

Cole (2015) menyebutkan bahwa salah satu penyebab yang dapat berkontribusi pada beban kognitif adalah sesuatu yang disebut sebagai clutter. Clutter adalah elemen visual yang memakan ruang dalam slide, tetapi tidak menambah pemahaman bagi audiens kita. Karena itu, clutter adalah sesuatu yang mesti kita hindari dalam membuat slide presentasi.

Ketika kita harus mengidentifikasi elemen mana dalam slide presentasi kita yang merupakan sinyal (informasi yang ingin komunikasikan) dan noise atau clutter (elemen visual yang memakan ruang dalam slide, tetapi tidak menambah pemahaman bagi audiens kita), maka kita perlu menerapkan Prinsip Gestalt mengenai persepsi visual.

Cole (2015) menyebutkan bahwa ada 6 Prinsip Gestalt yang dapat kita gunakan untuk memudahkan audiens kita dalam memproses visualisasi data.

Mari kita bahas satu per satu prinsip tersebut.

Prinsip Gestalt # 1 : Proximity

Kita cenderung berpikir elemen atau obyek di dalam slide yang secara fisik berdekatan sebagai milik bagian dari sebuah grup.

Prinsip proximity ditunjukan pada gambar di bawah ini. Anda secara alami melihat titik-titik sebagai tiga grup yang berbeda karena kedekatan mereka relatif satu sama lain.

Prinsip proximity ini dalam prakteknya dapat diterapkan dalam visualisasi data. Anda perhatikan slide di bawah ini, kita dapat memanfaatkan prinsip proximity dari Gestalt dengan meletakkan label data (ticket received dan ticket processed) tepat di sebelah data yang disajikan pada slide di bawah.

Prinsip Gestalt # 2 : Similarity

Obyek atau elemen yang memiliki warna, bentuk, ukuran atau orientasi yang sama dianggap terkait atau menjadi bagian dari suatu kelompok. Pada slide di bawah ini, Anda secara alami mengasosiasikan lingkaran biru bersama-sama pada sebelah kiri atau kotak persegi abu-abu bersama-sama pada sebelah kanan.

Jika sebelumnya kita memanfaatkan prinsip proximity dari Gestalt, maka kita juga dapat memanfaatkan prinsip similarity dengan membuat label data berwarna sama dengan data yang disajikan seperti yang dipaparkan pada slide di bawah ini. Penggunaan prinsip similarity ini memberikan isyarat visual untuk audiens kita yang mana mereka dapat mengatakan bahwa itu merupakan dua informasi yang terkait.

Prinsip Gestalt # 3 : Enclosure

Kita berpikir bahwa elemen atau obyek yang secara fisik terlingkupi bersama merupakan milik dari suatu grup. Tidak perlu melingkupi yang kuat untuk melakukannya. Dengan menggunakan kotak atau bayangan (shade) yang halus sudah cukup seperti yang disajikan pada slide di bawah ini.

Satu cara kita dapat memanfaatkan prinsip enclosure adalah dengan menggambar sebuah perbedaan visual dalam data yang kita sajikan seperti yang ditunjukkan pada slide di bawah ini. Daerah shade (bayangan) yang menggunakan warna abu-abu menunjukkan bahwa ada pemisahan data sebelum bulan Agustus dan sejak bulan Agustus.

Penggunaan shade (bayangan) tersebut dapat membantu memudahkan audiens kita untuk memahami informasi yang terjadi sejak bulan Agustus sampai bulan Desember dimana ada perbedaan (gap) antara tiket yang diproses dengan tiket yang diterima.

Karena itu, dengan menggunakan visualisasi data seperti ini, maka Anda dapat menyampaikan kepada audiens Anda bahwa ada yang perlu dilakukan untuk mengatasi perbedaan tersebut. Misalnya, dengan menambah orang yang bekerja di bagian tiket agar tiket yang diproses bisa sama dengan tiket yang diterima.

Prinsip Gestalt # 4 : Closure

Konsep closure mengatakan bahwa orang-orang menyukai hal-hal yang sederhana dan sesuai dengan kontruksi yang sudah ada ada di kepala mereka. Karena hal ini, orang-orang cenderung menganggap sekumpulan elemen individu sebagai sebuah elemen tunggal yang mereka kenal ketika ketika ada elemen yang hilang.

Misalnya, elemen yang ditunjukkan pada slide di bawah ini adalah sebuah lingkaran yang tidak utuh. Orang akan cenderung menganggap sebagai sebuah lingkaran terlebih dahulu sebagai sebuah kontruksi yang sudah ada di kepala mereka dan baru setelah itu menganggap sebagai elemen individu yang merupakan shape yang terpisah.

Adalah umum untuk aplikasi pembuatan chart dengan menggunakan Excel untuk mempunyai  pengaturan sesuai dengan keadaan aslinya (default setting) seperti batas chart (chart border) dan bayangan background (background shading).

Prinsip closure mengatakan kepada kita bahwa batas chart dan bayangan background ini tidak diperlukan. Kita dapat menghilangkannya dan chart kita masih tampak sebagai sebuah entitas yang kohesif. Ketika kita menghilangkan elemen yang tidak diperlukan tersebut, maka data kita tampak lebih menonjol seperti yang diperlihatkan pada slide di bawah ini.

Prinsip Gestalt # 5 : Continuity

Prinsip continuity mirip dengan closure. Ketika kita melihat elemen atau obyek, maka mata kita akan mencari lintasan yang terhalus dan menciptakan secara alami kontinuitas apa yang kita lihat bahkan di tempat yang tidak terlihat secara eksplisit.

Seperti yang diperlihatkan pada slide di bawah ini, jika kita mengambil obyek atau elemen kotak persegi yang atas seperti terlihat pada gambar no 1 dan menariknya ke atas seperti yang tampak pada gambar no 2 yang mana dapat dengan mudah menjadi seperti apa yang ditampilkan pada gambar no 3.

Dalam penerapan prinsip continuity ini, kita dapat menghilangkan sumbu vertikal dari diagram batang seperti slide di bawah ini. Mata kita sesungguhnya masih melihat bahwa diagram batang sebaris dengan data yang di sebelahnya karena adanya lintasan halus yang berupa white space  antara label data yang sebelah kiri (A, B, C, D, E) dan data pada sebelah kanan. Seperti yang kita lihat dengan prinsip closure dalam penerapannya, maka menghilangkan elemen yang tidak perlu akan membuat data kita tampak lebih menonjol.

Prinsip Gestalt # 6 : Connection

Prinsip Gestalt yang terakhir adalah connection. Kita cenderung berpikir elemen atau obyek yang terhubung secara fisik sebagai bagian dari suatu kelompok. Elemen yang terhubung mempunyai nilai asosiatif yang lebih kuat dari pada warna, ukuran atau bentuk yang serupa.

Perhatikan slide di bawah ini. Mata kita akan shape yang berpasangan yang terhubung dengan garis dari pada shape dengan warna atau ukuran yang sama. Itulah prinsip connection dalam prakteknya.

Elemen atau obyek yang terhubung dengan prinsip connection sesungguhnya tidak lebih kuat dari elemen yang menggunakan prinsip enclosure, tetapi kita dapat memberikan impak hubungannya melalui ketebalan dan kegelapan warna kotak untuk menciptakan hirarki visual yang diinginkan.

Hirarki visual adalah struktur visual yang memberi tahu tingkat kepentingan suatu elemen desain dibandingkan dengan elemen yang lain.

Salah satu cara yang kita sering manfaatkan untuk penerapan prinsip connection ini adalah menghubungkan titik-titik dengan garis yang membantu mata audiens kita melihat keteraturan dalam data seperti yang ditunjukkan pada slide di bawah ini.

Demikianlah, 6 prinsip Gestalt yang dapat Anda gunakan untuk memudahkan audiens Anda dalam memproses data visual. Pertama, proximity. Kedua, similarity. Ketiga, enclosure. Keempat, closure. Kelima, continuity. Dan keenam, connection.

Seperti yang Anda lihat, prinsip Gestalt dapat membantu kita memahami bagaimana orang melihat elemen atau obyek dalam slide presentasi kita. Prinsip Gestalt ini dapat kita gunakan untuk mengidentifikasi elemen yang tidak diperlukan dan memudahkan pemrosesan komunikasi visual kita bagi audiens kita.

 

 

9 Jenis Chart Yang Dapat Anda Gunakan Untuk Visualisasi Data Dalam Presentasi Anda

Ada banyak pilihan chart untuk menampilkan data Anda. Jadi bagaimana Anda memilih salah satu nya yang akan membuat angka pada data Anda menjadi bersinar ? Lebih baik lagi, bagaimana Anda tahu chart mana yang akan menceritakan kisah yang paling berkesan dan berdampak bagi audiens Anda ?

Mempunyai pengetahuan tersebut sangat penting. Dan, untungnya, tidak sulit untuk mencari tahu chart mana yang pas dengan pola pikir yang benar.

Namun, pertama-tama, Anda harus memahami aturan mendasar dalam bercerita dengan data, yaitu : pastikan bahwa Anda memiliki pesan kunci yang sederhana dan mudah dilihat. Dengan kata lain, apa satu hal yang Anda ingin audiens Anda ingat ?

Sayangnya, masih banyak presenter yang benar-benar tidak tahu apa pesan utama yang akan mereka sampaikan. Sebaliknya, mereka mencoba memasukkan sebanyak mungkin data ke dalam slide presentasi mereka. Mereka berharap setelah mereka memasukan data demi data ke dalam slide presentasi mereka, maka audiens akan melihat inti dari slide presentasi mereka.

Saatnya untuk berhenti berpikir bahwa hanya karena Anda telah mengumpulkan semua angka, maka Anda harus memamerkan semuanya.

Bercerita dengan data meminta Anda untuk mengidentifikasi insight dari data yang Anda punyai dan hanya menyertakan informasi yang secara langsung mendukung pesan yang hendak Anda sampaikan. Data yang tidak berkaitan dapat Anda abaikan.

Jadi, bagaimana Anda memilih chart yang menceritakan sebuah kisah dan mendorong tindakan ? Hal utama yang harus diingat adalah bahwa tujuan dari semua chart adalah untuk menunjukkan hubungan dalam data Anda. Pikirkan tentang grafik, tabel atau diagram apa yang paling menonjolkan hubungan yang paling sesuai dengan cerita atau pesan yang ingin Anda  sampaikan.

Berita baiknya, ada 9 jenis chart yang dapat Anda gunakan untuk cerita atau pesan dalam presentasi Anda.

Untuk penjelasan kebutuhan chart tersebut, data yang digunakan bukan data yang sebenarnya.

Mari kita bahas satu persatu jenis chart tersebut.

Chart # 1 : Teks Sederhana (Simple Text)

Cole (2015) mengatakan bahwa ketika Anda hanya memiliki satu atau dua angka untuk disajikan, maka penggunaan teks yang sederhana dapat menjadi cara yang bagus untuk penggunaannya dalam presentasi.

Hanya karena Anda memiliki angka tidak berarti Anda memerlukan sebuah grafik.

Pikirkan hanya menggunakan angka dengan membuatnya semenarik mungkin dan ditambahkan beberapa kata pendukung untuk memperjelas maksudnya.

Menempatkan satu atau dua angka dalam tabel atau grafik sederhana tidak membantu banyak dalam menginterpretasikan angka yang disajikan. Ketika Anda memiliki satu atau dua angka yang ingin Anda komunikasikan, maka pikirkan tentang menggunakan angka itu sendiri.

Contoh berikut ini bisa membantu menjelaskannya.

Chart # 2 : Tabel

Untuk saat-saat ketika Anda yakin audiens Anda akan mendapat manfaat dari melihat kumpulan data yang lebih besar, maka gunakanlah tabel. Tabel menampilkan rincian data yang akan hilang, jika Anda menggunakan grafik.

Penting bagi Anda untuk menyebutkan temuan Anda yang paling signifikan secara visual agar tabel itu menceritakan sebuah cerita atau menggerakkan cerita Anda yang lebih besar lagi.

Perhatikan tabel di bawah ini bagaimana shape yang berwarna biru mendukung pesan yang ditunjukkan dalam judul slide agar audiens Anda langsung membidik informasi penting tersebut.

Chart # 3 : Diagram Garis

Diagram garis paling sering digunakan untuk memplot data kontinyu. Diagram garis menunjukkan perubahan relatif terhadap sesuatu selama periode waktu tertentu. Seringkali, data kontinyu yang digunakan dalam bentuk unit waktu, seperti : hari, bulan, kuartal, atau tahun.

Perhatikan bagaimana temuan yang paling signifikan diarahkan langsung ke pandangan audiens Anda.

Data yang Anda sajikan harus selalu menjadi elemen kunci dari cerita Anda. Contoh nya adalah seperti ditampailkan pada slide di bawah ini.

Dengan menggunakan slide di atas, dalam presentasi Anda dapat mengatakan bahwa “Penjualan cenderung meningkat sejak peluncuran Cloud karena … yang berarti… dan seterusnya…”

Chart # 4 : Diagram Batang

Diagram batang menampilkan hubungan antar variabel, biasanya untuk tujuan perbandingan.

Diagram batang mudah dibaca oleh mata kita.

Mata kita membandingkan point akhir dari diagram batang, sehingga mata kita mudah untuk melihat dengan cepat kategori mana yang terbesar dan kategori mana yang terkecil.

Slide di bawah ini menunjukkan perbandingan penyelesaian proyek kepada audiens dengan menyorot informasi utama yang diberi warna hijau yang kemudian ditambahkan info dan melemahkan informasi yang lain dengan memberikan warna abu-abu.

Selalu gunakan diagram batang dua dimensi, karena penggunaannya memudahkan untuk interpretasi datanya.

Chart # 5 : Diagram Donat (Donut Chart)

Diagram donat menunjukkan bagaimana persentase berhubungan satu sama lain secara keseluruhan. Setiap irisan dari diagram donat harus selalu sama dengan 100% dari total.

Slide di bawah ini menceritakan kisah visual tentang apa yang mendominasi kategori tertentu. Ceritanya adalah telepon selular mengubah cara orang berbelanja dan membeli. Diagram donat yang digunakan mendukung cerita atau pesan tersebut.

Penggunaan diagram donat secara visual lebih memudahkan mata untuk membedakan perbedaan dalam segmen linier dari pada area irisan diagram pie yang lebih samar.

Penting untuk diperhatikan bahwa jenis diagram ini hanya dapat digunakan untuk mewakili snapshot dari satu momen waktu tertentu.

Chart # 6 : Diagram Pie

Diagram pie dapat digunakan untuk perbandingan komponen. Perbandingan komponen menunjukkan ukuran setiap komponen sebagai persentase dari total.

Frase penggunaan kata share dari penjualan perusahaan merupakan petunjuk untuk perbandingan komponen.

Contoh slide dibawah ini menunjukkan komponen disusun searah dengan jarum jam yang diawali dengan prosentase terbesar sampai kepada prosentasi yang terkecil. Posisi perusahaan PT ABC menunjukkan share kedua terbesar. Untuk menekankan share PT ABC digunakan warna tertentu dimana komponen lainnya menggunakan warna abu-abu untuk menunjukkan kontras.

Chart # 7 : Peta (Maps)

Peta dapat digunakan untuk menampilkan lokasi, wilayah penjualan, distribusi karyawan, dan pelanggan dalam sebuah presentasi.

Gunakanlah peta untuk menunjukkan lokasi, cabang, dan kota tempat perusahaan Anda aktif. Sebuah peta yang rinci adalah cara terbaik untuk menyajikan dan menyoroti lokasi geografis.

Peta yang terperinci sangat bagus untuk menampilkan wilayah penjualan baik berdasarkan wilayah maupun kode pos.

Anda dapat menggunakan suatu warna tertentu untuk menyoroti wilayah. Slide di bawah ini merupakan contoh penggunaan peta yang menunjukkan lokasi tertentu dengan jumlah penjualan HP. Wilayah yang disorot bisa menggunakan suatu warna tertentu untuk mengarahkan pandangan audiens kepada wilayah tersebut, sementara wilayah yang lain diberi warna yang lemah seperti abu-abu untuk menunjukkan kontras.

Chart # 8 : Grafik Daerah Persegi (Square Area Graph)

Grafik Daerah Persegi dapat digunakan untuk menunjukkan kemajuan dari suatu target atau persentase dari suatu pencapaian. Ada kotak kecil berbentuk segi empat dimana sel berwarna mewakili suatu data tertentu.

Grafik Dearah Persegi dapat terdiri dari satu kategori atau beberapa kategori. Beberapa grafik daerah persegi dapat disatukan untuk menunjukkan perbandingan antara grafik yang berbeda.

Slide di bawah ini menggambarkan suatu cerita dari seorang pemilik restoran yang mengetahui kekuatan pemesanan online. Di dalam slide di bawah ini digunakan sebuah kotak kecil yang mewakili suatu angka tertentu, yaitu 1 % yang diberi suatu warna tertentu. Ada 3 kategori data yang digunakan dalam slide di bawah ini yang menggambarkan 3 grafik yang berbeda.

Jadi, dengan menggunakan grafik daerah persegi, maka Anda dapat menyajikan tampilan yang berbeda ketika Anda ingin menggambarkan suatu pencapaian tertentu dari total keseluruhan sebesar 100 %.

Chart # 9 : Slopegraph

Slopegraphs dapat berguna ketika Anda memiliki dua periode waktu atau point perbandingan dan ingin cepat menunjukkan peningkatan dan penurunan relatif atau perbedaan di berbagai kategori antara dua data.

Cara terbaik untuk menjelaskan penggunaan slopegraph adalah melalui contoh tertentu. Bayangkan Anda sedang menganalisis dan mengkomunikasikan data dari survei mengenai perspektif orang tua dan murid terhadap lima kategori data. Untuk menunjukkan perubahan relatif dalam kategori survei dari orang tua ke murid, slopegraph dapat terlihat seperti slide di bawah ini.

Demikianlah, 9 jenis tampilan visual yang dapat Anda gunakan untuk kebutuhan visualisasi data dalam presentasi Anda.

Untuk presentasi Anda selanjutnya, jangan lupa untuk terlebih dahulu memeriksa insight dari data yang Anda miliki untuk mendukung pesan utama atau cerita yang hendak Anda komunikasikan.

Pertimbangkan chart apa yang akan mendukung cerita Anda. Jangan memasukan data yang tidak relevan ke dalam slide presentasi hanya karena Anda sudah memilikinya.

Tampilkanlah data yang relevan dengan menggunakan chart yang tepat dan simpan sisa data Anda yang tidak relevan dengan pesan atau cerita Anda. Akan tetapi, data tersebut perlu tersedia jika diperlukan. Anda dapat menyimpannya dalam slide lampiran atau materi pendukung lainnya.

Untuk bercerita dengan data, maka penggunaan chart yang tepat akan membantu Anda dalam menyampaikan pesan atau cerita Anda.

 

 

 

 

 

Satu Pertanyaan Yang Sangat Penting Yang Perlu Anda Tanyakan Ketika Membuat Visualisasi Data Untuk Slide Presentasi Anda

Ketika Jeff Bezos, CEO Amazon.com mengatakan dalam surat tahunannya pada tahun 2018 kepada para pemangku kepentingan bahwa “Kami tidak menggunakan Power Point”, maka Anda mungkin mendengar bahwa harga saham Microsoft meluncur ke bawah.

Akibatnya, perancang presentasi di seluruh dunia mulai mencari pekerjaan sampingan. CEO di organisasi lain mulai mengikutinya, karena apa pun yang dilakukan Jeff Bezos adalah emas.

Memang, sebagian besar presentasi Power Point tidak menarik untuk dilihat. Slide power point yang ditampilkan cenderung menyebabkan kebingungan dan membuang waktu semua orang.

Namun, ketika slide Power Point dibuat dengan benar, maka presentasi yang baik benar-benar dapat membantu organisasi untuk membuat keputusan bisnis.

Jadi, isunya adalah bukan di alatnya—PowerPoint, tetapi isunya lebih kepada bagaimana kita menggunakannya.

Ketika Anda membuat slide presentasi dengan menggunakan Power Point, misalnya untuk visualisasi data, maka ada satu pertanyaan yang sangat penting yang perlu Anda tanyakan.

Stephanie (2020) mengatakan bahwa pertanyaan tersebut adalah “Apa point yang ingin Anda sampaikan dalam slide Power Point ingin Anda tampilkan” ?

Serius.

Itu pertanyaan yang paling penting untuk ditanyakan ketika Anda ingin membuat visualisasi data. Dan itu adalah alasan utama kita melakukan visualisasi data, karena kita mempunyai point untuk dikomunikasikan kepada audiens kita.

Selain itu, karena kita mempunyai temuan menarik untuk dibagikan, yaitu : sebuah ide besar yang kita peroleh dari analisis kita yang perlu kita bagikan kepada orang-orang atau audiens kita. Itulah point.

Mengartikulasikan point tersebut menghasilkan sebuah jawaban yang menggerakkan hampir semuanya yang terkait dengan visualisasi data.

Untuk memahaminya, mari kita perhatikan percakapan berikut ini antara designer power point (Dika) dengan kliennya.

Klien: “Terima kasih telah bekerja sama dengan kami, Pak Dika. Kami memiliki data ini yang berkaitan dengan orang tua dan siswa yang disajikan dalam bentuk diagram batang. Kami yakin grafik ini bisa ditampilkan lebih baik, tetapi kami tidak tahu bagaimana caranya.

Dika : “Saya dapat membantu memperbaiki tampilan grafik itu. Tapi, ada satu pertanyaan yang perlu Anda jawab— Apa point yang ingin Anda sampaikan dalam slide Power Point tsb” ?

Klien : “Maaf?”

Dika : “Apa gunanya menunjukkan data tentang perspektif orang tua dan siswa itu ? Sepertinya Anda ingin orang membandingkan orang tua dan siswa. Itukah maksud Anda ?”

Klien: “Sebenarnya tidak. Itulah adalah pertanyaan yang paling jelas yang bisa Anda tanyakan kepada kami. Maksud kami adalah bahwa umumnya kami mengharapkan siswa untuk melaporkan lebih banyak dari pada orang tuanya pada semua pertanyaan itu. Akan tetapi, data di atas menunjukkan bahwa siswa memiliki keinginan yang jauh lebih rendah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dari pada orang tua mereka. Dan, itu memicu beberapa lonceng peringatan bagi kami. “

Dan inilah saat Dika diam-diam dalam hati gembira, karena klien menjawab pertanyaan yang paling penting dan sekarang Dika tahu cara menampilkan data tersebut dengan lebih baik.

Dika : “Hal pertama yang akan kita lakukan adalah mengambil apa yang baru saja Anda katakan, dan menjadikannya judul grafik. Kita akan mengganti judul umum dari slide power point yang Anda buat di atas dengan point utama  yang tadi Anda katakan. Hal berikutnya yang akan kita lakukan adalah mengganti jenis grafik yang berbeda. Grafik kemiringan (slope graph) dapat kita gunakan, karena grafik tersebut cukup bagus untuk ditampilkan ketika satu hal mengalami penurunan dan sisanya naik. Beri saya waktu satu hari untuk bermain dengan beberapa ide dan mari kita bicara besok.”

Keesokan harinya.

Dika : “Selamat pagi, Klien. Apa pendapat Anda tentang slope graph seperti yang ditampilkan pada slide di bawah ini yang telah kukirimkan padamu semalam ?”

Klien: “Grafik tersebut di atas benar-benar mengatakan dengan tepat apa ingin kami  tunjukkan. Setelah pembicaraan kita kemarin, saya berbicara lebih banyak dengan rekan-rekan saya di kantor dan bertanya kepada mereka “Apa point yang ingin kita tunjukkan ?. Kami memutuskan bahwa intinya sebenarnya adalah begitu sedikit siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Lupakan orang tua, karena hal itu masalah sekunder sekarang. Pertanyaan “Apa point yang ingin kami tunjukkan ?” sangat membantu dalam mengasah pemikiran kami.”

Dika : “Kalau begitu, maka Anda punya pilihan lain untuk menunjukkan point tersebut itu. Slide presentasi di bawah ini bisa menjadi alternatif untuk menunjukkan point Anda.”

Klien: “Dua grafik di atas yang Anda sarankan menjawab apa yang ingin kami tunjukkan. Kami akan memilih salah satunya hari ini. Terima kasih Pak Dika.”

Demikianlah, mengajukan pertanyaan “Apa point yang ingin Anda sampaikan dalam slide Power Point ingin Anda tampilkan” ? akan mempertajam pemikiran dan pesan terkait dengan visualisasi data yang akan Anda sajikan. Menanyakan pertanyaan itu adalah cara terbaik untuk memvisualisasikan data. Saat Anda mengalami kesulitan dengan grafik yang ingin Anda tampilkan, maka teruslah bertanya “Apa point yang ingin saya tunjukkan ?”