SAMPAIKANLAH PESAN ANDA, UBAHLAHLAH DUNIA

Setiap Orang WAJIB BICARA, Tetapi Bukan Asal Bicara

Jadilah, MESSENGER Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

4 Jenis Komunikasi Beracun Yang Perlu Anda Hindari dan Penangkalnya Untuk Membangun Komunikasi Yang Produktif

Anda tahu bahwa kata-kata yang Anda ucapkan dapat berdampak pada audiens atau partner bicara Anda.

Misalnya, Anda mengatakan kepada rekan kerja Anda, “Kamu selalu terlambat untuk menyampaikan laporan yang telah kita sepakati. Kamu tidak dapat diandalkan”.

Contoh komunikasi yang Anda lakukan itu disebut sebagai komunikasi beracun.

Kenapa disebut sebagai komunikasi beracun ?

Karena apa yang Anda sampaikan itu dapat menimbulkan konflik dalam hubungan Anda sebagai hubungan antar manusia. Kata-kata yang Anda sampaikan dapat menimbulkan sakit hati pada partner bicara Anda dan keretakan hubungan antara Anda dengan dia.

Semua hubungan, bahkan yang paling sukses sekalipun, memiliki konflik. Itu tidak bisa dihindari. Yang penting adalah bagaimana Anda dapat mengelola konflik yang dapat memprediksi keberhasilan atau kegagalan suatu hubungan.

Hal yang sangat penting dalam mengelola konflik secara efektif adalah mengidentifikasi komunikasi beracun dan menemukan penangkalnya.

Untungnya, Dr. John Gottman, Professor Psikologi dari University of Washington telah melakukan penelitian selama lebih dari 40 tahun dan mewancarai lebih dari 3000 pasangan yang menemukan indikator yang menyebabkan kerusakan dari suatu hubungan.

Sekalipun penelitian dari Dr John Gottman dilakukan pada pasangan suami istri, tetapi hasil penelitiannya dapat Anda terapkan ketika Anda melakukan komunikasi dengan partner bicara Anda.

Ada empat hal yang dapat merusak suatu hubungan yang masuk dalam kategori komunikasi beracun dan cara menangkalnya.

Mari kita bahas satu per satu sambil menikmati secangkir kopi yang hangat.

Jenis Komunikasi Beracun dan Penangkal # 1 : Kritikan dan Gunakan Permulaan Yang Lembut

Keluhan berfokus pada perilaku tertentu, tetapi kritikan menyerang karakter seseorang. Kritikan dicirikan dengan penggunaan pernyataan “Kamu”.

Pernyataan ‘Kamu’ seringkali terdengar kasar. Sering kali terdengar seperti “Kamu selalu ….” atau “Kamu tidak pernah ….” atau “Kamu tidak …”

Ketika pernyataan “Kamu” digunakan, sering kali pernyataan tersebut terasa seperti serangan terhadap kepribadian Anda. Misalnya, “Kamu sangat malas!” “Kamu bukan orang yang baik!” “Kamu tidak pernah memikirkan siapa pun kecuali dirimu sendiri. Kamu egois.” “Kamu selalu terlambat. Kamu sangat tidak pengertian.”

Penangkal kritikan adalah mengeluh tanpa menyalahkan dengan menggunakan permulaan yang lembut. Hindari mengatakan “Anda” yang dapat menunjukkan kesalahan. Sebaliknya, bicarakan perasaan Anda menggunakan pernyataan “Saya” dan ungkapkan apa yang Anda butuhkan dengan cara yang positif.

Sederhananya, pikirkan dua hal berikut untuk merumuskan permulaan yang lembut, yaitu Apa yang saya rasakan ? dan Apa yang saya butuhkan ?

Dr. John Gottman menyarankan format “Saya merasa (menyisipkan kata emosi) tentang (masukkan deskripsi situasi – bukan deskripsi partner bicara Anda), dan yang saya butuhkan adalah (masukkan permintaan tindakan).”

Contoh kritikan dan penangkalnya :

Kritikan : “Kamu malas menyelesaikan laporan penjualan ini”

Penangkal : “Saya merasa bahwa laporan penjualan ini tidak diselesaikan dengan tepat waktu. Yang saya butuhkan adalah agar kita berbicara tentang bagaimana dapat menyelesaikan laporan penjualan ini dengan lebih cepat”.

Perhatikan bahwa penawarnya dimulai dengan “Saya merasa,” mengarah kepada “Saya membutuhkan”, dan kemudian dengan hormat meminta untuk memenuhi kebutuhan itu. Tidak ada kesalahan atau kritikan yang mencegah diskusi meningkat menjadi argumen.

Jenis Komunikasi Beracun dan Penangkal # 2 : Pembelaan Diri dan Ambil Tanggung Jawab

Pembelaan diri (defensive) didefinisikan sebagai perlindungan diri dalam upaya menangkal serangan yang dirasakan. Banyak orang menjadi defensive ketika dikritik. Tetapi, masalahnya adalah bersikap defensive tidak pernah membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Pembelaan diri dapat dilakukan dalam dua cara.

Pertama, serangan balik. Menghadapi kritikan dengan kritikan balasan. Misalnya, partner bicara Anda berkata, “Analisis penjualan kamu banyak yang tidak benar”. Anda melakukan serangan balik dengan mengatakan, “Anda seharusnya dapat memberikan data yang benar”.

Kedua, mengambil sikap korban dengan nada cengeng. Misalnya, rekan Anda berkata, “Analisis penjualan kamu banyak yang tidak benar”. Anda meresponsnya dengan berkata dengan nada cengeng, “Itu tidak adil. Saya dapat data dari Anda baru kemarin sore. Padahal, untuk mendapat analisis yang benar, saya butuh 2 hari untuk mengerjakannya”

Sikap defensive adalah cara menyalahkan partner bicara Anda. Anda mengatakan bahwa masalahnya bukan aku, tetapi masalahnya adalah kamu. Akibatnya, masalah tidak terselesaikan dan konflik semakin meningkat. Penawarnya adalah menerima tanggung jawab, meskipun hanya untuk sebagian konflik.

Contoh pembelaan diri dan penangkalnya :

Pembelaan diri (defensive) : “Bukan salahku kalau analisis penjualan yang saya hasilkan tidak benar. Itu salahmu, karena kamu memberikan memberikan data yang tidak valid”.

Penangkal : “Saya tidak suka menghasilkan analisis penjualan yang tidak benar. Saya akan berupaya untuk memeriksa apakah data yang digunakan valid atau tidak”.

Dengan mengambil tanggung jawab atas sebagian konflik, yaitu memeriksa validitas data, maka komunikasi yang akan mencegah konflik dapat dihindari dengan mengakui peran masing-masing dalam konflik tersebut. Dari sini, Anda dan partner bicara Anda dapat bekerja menuju suatu kompromi.

Jenis Komunikasi Beracun dan Penangkal # 3 : Penghinaan dan Bangun Budaya Penghargaan dan Respek

Penghinaan muncul dalam pernyataan yang berasal dari posisi superioritas dari partner bicara. Beberapa contoh penghinaan termasuk sarkasme, sinisme, menyebut nama, memutar mata, mencibir, ejekan, dan humor yang tidak menyenangkan. Penghinaan itu merusak hubungan. Karena itu, penghinaan harus dihindari dengan segala cara.

Penangkal penghinaan adalah dengan membangun budaya penghargaan dan rasa hormat dalam hubungan Anda.

Ada beberapa cara untuk melakukannya. Salah satunya adalah melakukan hal-hal kecil dengan sering. Jika Anda secara teratur mengungkapkan penghargaan, dan rasa hormat untuk partner bicara, maka Anda akan menciptakan perspektif positif dalam hubungan Anda yang bertindak sebagai penyangga perasaan negatif. Semakin positif perasaan Anda, semakin kecil kemungkinan Anda akan merasa atau mengungkapkan penghinaan.

Cara lainnya adalah tentang “rasio ajaib 5:1” dari interaksi positif ke negatif yang harus dimiliki dalam sebuah hubungan agar berhasil. Jika Anda memiliki lima interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif, maka Anda melakukan setoran rutin ke rekening bank emosional partner bicara Anda yang dapat menjaga hubungan Anda tetap baik dengannya.

Contoh penghinaan dan penangkalnya :

Penghinaan: “Anda lupa lagi untuk menyerahkan laporan dengan tepat waktu ? Ugh. Kamu sangat malas” (Memutar mata).

Penangkal: “Saya mengerti bahwa Anda sibuk akhir-akhir ini, tetapi bisakah Anda ingat untuk menyampaikan laporan dengan tepat waktu. Saya sangat menghargainya ketika Anda melakukan hal itu”.

Penangkal disini bekerja dengan sangat baik, karena mengungkapkan pemahaman langsung.  Anda menunjukkan bagaimana partner bicara Anda terlambat menyerahkan laporan, bukan karena kemalasannya, tetapi karena kesibukannya. Anda tidak membuat pernyataan menghina tentang partner bicara Anda atau mengambil posisi superior terhadap partner bicara Anda.

Sebaliknya, penawar ini adalah permintaan dengan hormat dan diakhiri dengan pernyataan penghargaan.

Jenis Komunikasi Beracun dan Penangkal # 4 : Penutupan Diri dan Lakukan Penenangan Diri

Menutup diri (stonewalling) adalah ketika seseorang menarik diri sepenuhnya dari pembicaraan dan tidak lagi menanggapi partner bicaranya. Ini biasanya terjadi ketika Anda merasa kewalahan secara emosional, sehingga reaksi Anda adalah menutup diri, berhenti berbicara, dan melepaskan diri.

Pada titik ini, Anda tidak dapat berpikir secara rasional atau logis. Apapun yang dikatakan pada saat ini hanya akan merusak percakapan dan hubungan Anda.

Penangkal dari menutup diri (stonewalling) adalah menenangkan diri secara fisiologis. Ini adalah upaya untuk menenangkan diri sendiri dan mungkin memperlambat percakapan saat Anda melakukan pernafasan yang dalam. Anda dapat melakukan istirahat selama 20 hingga 40 menit dimana Anda dapat berjalan-jalan, mendengarkan musik, membaca, berolahraga, bermeditasi atau meluangkan waktu untuk berpikir tentang apa yang sebenarnya ingin Anda ungkapkan.

Setelah Anda tenang adalah sangat penting untuk terhubung kembali dengan partner bicara Anda. Anda tidak harus melanjutkan percakapan Anda. Anda hanya perlu terhubung kembali.

Anda bisa mengatakan sesuatu seperti, “Maaf saya perlu istirahat dulu. Bisakah kita melakukan percakapan itu lagi setelah kita selesai makan siang ?”.

Kuncinya adalah terhubung kembali, bukan menghindari percakapan. Terhubung kembali menunjukkan kesediaan Anda untuk terus mengupayakan perbaikan komunikasi dan hubungan.

Demikianlah, 4 jenis komunikasi beracun yang perlu Anda hindari dan penawarnya untuk membangun komunikasi yang produktif.

Pertama, Kritikan dan Gunakan Permulaan Yang Lembut.

Kedua, Pembelaan Diri dan Ambil Tanggung Jawab.

Ketiga, Penghinaan dan Bangun Budaya Penghargaan dan Respek.

Keempat, Penutupan Diri dan Lakukan Penenangan Diri.

Keempat komunikasi beracun itu merupakan vicious cycle alias siklus yang berkelanjutan. Kritikan Anda menimbulkan sikap defensif dari partner bicara Anda. Sikap defensif dia membuat dia memandang rendah Anda yang kemudian berlanjut pada silent treatment alias partner bicara Anda tidak bicara dengan Anda. 

Ketika Anda dan partner bicara Anda menggunakan 4 komunikasi beracun tersebut selama percakapan, maka konflik menjadi lebih memanas dan menyakitkan.

Sebaliknya, ketika Anda dan partner bicara Anda menggunakan penangkal sebagai gantinya, maka pembicaraan Anda menjadi lebih tenang dan partner bicara Anda merasa lebih terhubung di akhir pembicaraan. Oleh karena itu, gunakanlah penangkal tersebut dalam komunikasi agar Anda dapat mengelola konflik dalam komunikasi dengan partner bicara Anda.

Misalnya, segera setelah Anda mendapat kritikan atau penghinaan, maka ingatlah penawarnya. Waspadalah. Semakin Anda bisa menahan diri untuk melakukan 4 komunikasi beracun dan menggunakan penangkalnya sebagai gantinya, maka semakin besar kemungkinan Anda memiliki hubungan yang sehat dan bahagia dengan partner bicara Anda.

 

Gunakan 4 Tips Ini Untuk Mengoptimalkan Intonasi Suara Untuk Menyakinkan Audiens Presentasi Anda

 Apakah Anda pernah mengalami frustasi dalam menyampaikan presentasi ?

Anda mengira bahwa Anda telah menyampaikan pesan presentasi Anda dengan baik, tetapi respon dari audiens Anda tidak sesuai dengan pesan yang Anda sampaikan.

Sebagai contoh, ketika Anda mengatakan pada audiens, “Saya merasa semangat berada disini”, akan tetapi dalam menyampaikannya nada suara Anda terdengar datar dan tidak bersemangat,  maka audiens Anda tidak akan mempercayai kata-kata Anda. Mereka lebih percaya pada interpretasi dari intonasi suara Anda yang terkesan datar dan tidak bersemangat.

Intonasi suara yang Anda keluarkan dapat membuat kesuksesan atau kegagalan presentasi Anda. Tidak peduli seberapa baik pesan presentasi yang telah Anda siapkan, hal itu tidak menjamin bahwa pesan Anda akan didengar. Untuk memikat audiens dan mempertahankan minat mereka, maka Anda juga perlu menyampaikannya dengan baik.

Saat itulah intonasi suara Anda ikut bermain. Tanpa keraguan, perannya sangat penting dalam menyampaikan pesan Anda. Intonasi suara yang Anda gunakan akan sangat berperan dalam penyampaian presentasi Anda, karena itu akan mencerminkan kepribadian Anda, kepercayaan diri dan minat Anda terhadap subjek tersebut.

Laporan yang dikeluarkan oleh Universitas Minnesota (2016) yang berjudul “Communication in the Real World” menyebutkan bahwa penyampaian vokal (vocal delivery) mencakup komponen penyampaian ucapan yang berhubungan dengan suara Anda. Ini termasuk cepat/lambat (rate), keras/lemah (volume), tinggi/rendah (pitch), artikulasi (articulation), pengucapan (pronunciation), dan kefasihan (fluency) dari suara Anda.

Penyampaian vokal ini yang ditunjukkan dengan intonasi suara merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan saat Anda menyampaikan presentasi. Ada dua alasan utama yang mendasarinya.

Pertama, penyampaian vokal dapat membantu Anda untuk melibatkan dan menarik perhatian audiens Anda (speaking for engagement) dengan memperhatikan variasi dalam cepat/lambat (rate), keras/lemah (volume) dan tinggi/rendah (pitch) suara. Kedua, penyampaian vokal membantu memastikan bahwa ide-ide Anda dikomunikasikan dengan jelas (speaking for clarity) dengan memperhatikan unsur artikulasi, pengucapatan dan kefasihan.

Jadi, bagaimana mengoptimalkan intonasi suara Anda untuk menyampaikan presentasi yang menonjol ?

Untuk menjadikannya sebagai senjata yang ampuh, berikut ini ada 4 tips untuk mengoptimalkan intonasi suara Anda dengan kekuatan dan otoritas.

Tip Optimalisasi Suara # 1 : Hangatkan Suara Anda

Saat melakukan presentasi, menampilkan diri yang terbaik sangat penting agar Anda dapat terhubung dengan audiens Anda. Itu termasuk menguasai nada suara Anda yang perlu terdengar berwibawa dan mudah didekati. “Nada suara” tersebut adalah komponen penting untuk membangun kehadiran pribadi Anda sebagai presenter.

Karena itu, sebelum Anda naik ke atas panggung untuk menyampaikan presentasi, Anda perlu melakukan pemanasan. Ada banyak cara untuk melakukannya termasuk melatih artikulasi dan pernapasan Anda. Berikut tiga latihan cepat dan sederhana yang bisa Anda coba :

  • Tarik napas dalam beberapa kali. Tarik napas perlahan selama 4 hitungan, tahan 2 hitungan, lalu buang napas perlahan selama 4 hitungan. Lakukan minimal 6 putaran.
  • Menguap beberapa kali. “Latihan” dasar ini akan melepaskan ketegangan di rahang, tenggorokan, dan pita suara Anda.
  • Lakukan tongue twister. Tongue twister adalah serangkaian kata atau kalimat yang memiliki bentuk dan pengucapan yang hampir sama. Biasanya, tongue twister bisa berisi kata-kata bermakna yang berbeda, tetapi susunan hurufnya nyaris sama. Anda dapat mengatakan : “I slit a sheet.  A sheet I slit.  And, on that slitted sheet, I sit”.  Tidak hanya akan membantu pemanasan, tetapi tongue twister juga akan mengkondisikan suara Anda untuk mengartikulasikannya dengan lebih baik.

Menghabiskan waktu 2 menit untuk latihan sederhana ini sudah cukup untuk menyiapkan Anda atau setidaknya suara Anda untuk presentasi yang sukses.

Tip Optimalisasi Suara # 2 : Bicaralah Dengan Percaya Diri dan Jelas

Jika Anda ingin didengar dan dipahami, maka rasa malu perlu dihindari dalam melakukan presentasi. Jika Anda menggunakan mikrofon, maka selalu letakkan di posisi yang memungkinkan terjadinya peningkatan volume suara.

Presenter cenderung merendahkan suaranya untuk menghindari distorsi dari suara mikrofon, tetapi kesalahan umum ini memberikan dampak pada ucapan Anda yang membuat Anda terdengar ragu-ragu. Pastikan semuanya mengarah kepada upaya untuk membuat nada suara Anda yang kuat dan percaya diri.

Untuk menghindari Anda terlihat tidak yakin atau gugup, maka berlatih, berlatih dan berlatihlah. Semakin baik persiapan Anda, semakin percaya diri yang akan Anda rasakan, tampilkan, dan suarakan.

Persiapan yang baik juga akan membantu menjernihkan ucapan Anda dari filler words seperti Eeee atau Ehmm. Kata-kata itu digunakan biasanya sebagai pengisi kekosongan. Biasanya presenter masih berpikir akan kata-kata apa yang berikutnya hendak mereka sampaikan, sehingga mereka mengisinya dengan Eeee atau Ehmm.

Hal itu bisa sangat merusak saat Anda menyampaikan ide atau rekomendasi, karena dapat merusak keyakinan dalam suara Anda. Karena itu, persiapan yang cermat di awal adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan, sehingga Anda sudah menguasai pesan utama dari presentasi Anda di dalam benak Anda yang dapat bermanfaat untuk menghindari kekacauan kosakata yang ingin Anda sampaikan.

Tip Optimalisasi Suara # 3 : Variasikan Kecepatan Bicara dan Gunakan Jeda

Kontras sangat penting untuk dampak keseluruhan dari sebuah presentasi. Tidak ada yang lebih buruk dari presenter yang menatap catatan mereka atau berbicara seperti robot. Anda perlu menghidupkan presentasi Anda agar audiens Anda mau mendengarkannya. Jika Anda hadir dengan suara yang monoton, maka Anda secara pasti akan menghilangkan minat mereka.

Anda jangan berbicara terlalu cepat, karena hal itu akan membuat Anda terlihat gugup dan sulit untuk diikuti. Sebaliknya, jika Anda berbicara terlalu lambat, maka Anda akan tampak ragu-ragu dan membuat audiens bosan.

Anda perlu menemukan keseimbangan yang tepat. Cara termudah untuk melakukan ini adalah memperlakukan presentasi Anda seperti percakapan, bukan pertunjukan. Jika Anda dapat melakukan ini, maka segala sesuatunya akan berjalan dengan sendirinya tanpa Anda memikirkannya.

Adakalanya Anda berbicara lebih lambat untuk memberikan penekanan pada sebuah kata atau kalimat. Di sisi lain, adakalanya Anda perlu berbicara lebih cepat untuk menunjukkan semangat dan jiwa dinamis.

Ingatlah bahwa jeda bisa menjadi cara yang bagus untuk menarik perhatian kepada aspek yang penting dari presentasi Anda. Misalnya, diam sejenak sebelum menyampaikan poin penting. Dengan cara ini, maka efek dramatik akan tercipta dan sekaligus akan membuat informasi yang disampaikan menjadi pesan yang kuat dan mudah diingat. Selain itu, jeda juga memberi audiens Anda waktu untuk merenungkan dan mencerna apa yang Anda sampaikan yang sangat penting untuk mempertahankan keterlibatan mereka.

Tip Optimalisasi Suara # 4 : Variasikan Tinggi/Rendah (Pitch) dan Keras/Lemah (Volume) Suara

Mirip seperti hal di atas, tinggi/rendah dan keras/renda suara dapat memberikan kontras yang sangat penting untuk membuat audiens Anda tetap terlibat. Sangat penting bahwa bagian tertentu dari presentasi Anda diberi penekanan khusus dengan tinggi/rendah dan keras/rendah suara. Hal itu akan membantu Anda meyakinkan audiens bahwa Anda peduli dan tahu tentang apa yang Anda sajikan.

Dalam presentasi, kuncinya adalah jangan berpresentasi dengan pitch yang monoton yang menggunakan nada yang sama dari awal sampai akhir. Misalnya, dalam cerita yang anda sampaikan bahwa Anda sedang prihatin, maka perlihatkan itu dengan pitch yang rendah (cenderung ngebass, berat dan dalam). Ketika Anda sedang gembira, perlihatkanlah juga dengan pitch yang tinggi (halus, indah dan manis).

Selain itu, Anda juga kadang perlu berbicara dengan volume suara yang lebih keras untuk menunjukkan sesuatu yang penting. Anda juga perlu berbicara lebih keras untuk memastikan bahwa audiens Anda bisa mendengar suara Anda. Suara yang keras juga Anda perlukan untuk menunjukkan bahwa Anda antusias dalam presentasi Anda. Ingat bahwa antusias itu menular. Jika Anda terdengar kurang antusias dalam menyampaikan presentasi, maka Anda tidak dapat berharap audiens Anda akan antusias untuk mendengarkan presentasi Anda.

Selain suara yang keras, Anda juga perlu memvariasikan suara Anda dengan suara yang lemah. Misalnya, ketika suasana yang lebih syahdu dibutuhkan, maka Anda perlu berbicara sedikit lebih pelan.

Demikianlah, 4 tips mengoptimalkan intonasi suara Anda untuk meyakinkan audiens presentasi Anda.

Pertama, hangatkan suara Anda

Kedua, bicaralah dengan percaya diri dan jelas

Ketiga, variasikan kecepatan bicara dan gunakan jeda

Keempat, variasikan tinggi/rendah (pitch) dan keras/lemah (volume) suara

Intonasi suara ketika presentasi sangat penting untuk diperhatikan. Sinkronkan antara kata-kata yang Anda sampaikan dengan intonasi suara Anda. Berlatih untuk mengoptimalkan intonasi suara Anda sebelum presentasi merupakan pekerjaan rumah yang perlu Anda lakukan. Cobalah untuk tetap alami dan terlibat dengan audiens Anda. Intonasi suara Anda secara alami perlu bervariasi bergantung pada apa yang Anda akan katakan dan seberapa pentingnya hal itu.

 

Hindari 8 Kesalahan Bahasa Tubuh Ini Ketika Anda Memberikan Presentasi

Riset yang dilakukan oleh Prof. Albert Mehrabian dari University of California, Los Angeles  menjelaskan bahwa dalam komunikasi besarnya pengaruh dari masing-masing komponen adalah  bahasa tubuh (55 %); intonasi suara (38 %); kata-kata (7 %). Makna dari hasil riset tersebut adalah ketika terjadi ketidaksinkronan dalam berkomunikasi, maka yang dipercaya adalah faktor yang mempunyai persentase yang lebih besar.

Contohnya, ketika Anda mengatakan pada audiens, “Saya merasa senang disini”, akan tetapi bahasa tubuh Anda loyo, pandangan mata sayu sambil berdiri bersandar, maka audiens Anda tidak akan mempercayai kata-kata Anda. Mereka lebih mempercayai apa yang mereka tangkap melalui bahasa tubuh Anda.

Oleh karena itu, bahasa tubuh menjadi satu aspek penting yang harus Anda perhatikan ketika Anda memberikan presentasi.

Bahasa tubuh dapat membuat perbedaan yang besar antara presentasi yang statis dan membosankan dengan presentasi yang dinamis dan menarik. Presentasi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh bahasa tubuh si presenter. Bahasa tubuh memiliki banyak elemen berbeda. Etonx.com membagi bahasa tubuh menjadi lima kategori:

  1. Ekspresi wajah
  2. Kontak mata
  3. Postur tubuh
  4. Gestur
  5. Posisi dan gerakan

Beberapa diantaranya mungkin tampak sederhana, tetapi berdampak besar pada bagaimana presentasi Anda ditampilkan. Ketika bahasa tubuh Anda bekerja sama dengan aspek lain dari presentasi Anda, seperti kata-kata dan intonasi suara, maka Anda pasti akan dapat memenangkan hati audiens Anda.

Karena pentingnya bahasa tubuh ketika Anda menyampaikan presentasi, maka Anda mesti menghidari bahasa tubuh yang tidak tepat supaya Anda tidak memberikan persepsi yang keliru kepada audiens Anda.

Ada 8 kesalahan bahasa tubuh yang perlu Anda hindari saat Anda melakukan presentasi.

Mari kita bahas satu per satu 8 kesalahan bahasa tubuh tersebut yang mencakup ekspresi wajah, kontak mata, postur tubuh, gesture serta posisi dan gerakan.

Kesalahan Bahasa Tubuh # 1 : Lupa Tersenyum

Jika Anda tidak tersenyum pada audiens Anda, maka mereka mungkin akan melihat Anda sebagai orang yang serius, bahkan mungkin tidak bersahabat. Bisa jadi mereka akan menghindari mengajukan pertanyaan. Dan, mereka mungkin tidak akan berpartisipasi dalam diskusi apa pun yang mungkin ingin Anda mulai.

Oleh karena itu, tersenyumlah, karena tersenyum adalah cara yang bagus untuk membuat audiens Anda merasa nyaman dan ingin mendengarkan presentasi Anda. Ketika Anda Anda tersenyum, maka Anda tidak hanya tampak lebih menyenangkan dan sopan, akan tetapi Anda benar-benar tampak lebih kompeten.

Senyumlah yang tulus, karena hal itu akan memberikan kekuatan pada presentasi Anda. Tersenyumlah secara natural. Senyuman Anda akan menunjukkan rasa percaya diri Anda. Hal itu akan menyebar kepada audiens Anda.

Kesalahan Bahasa Tubuh # 2 : Menghindari Kontak Mata

Menghindari kontak mata adalah sesuatu yang tidak pas yang dilakukan seorang presenter secara tidak sadar ketika mereka melakukan presentasi untuk menghindari konfrontasi. Tetapi, seorang presenter perlu merasa aman dan percaya diri, dan salah satu cara untuk menunjukkannya adalah dengan menatap mata orang lain.

Melakukan kontak mata dapat membantu Anda terhubung dengan audiens Anda. Selain itu, kontak mata juga membantu Anda untuk mengevaluasi respons dari audiens Anda.

Ketika Anda melakukan presentasi, arahkan pandangan Anda ke hadapan audiens Anda. Jika audiens Anda tersebar di seluruh ruangan, maka bagi pandangan Anda ke sebelah kiri, tengah dan kanan. Dengan cara ini, maka seluruh audiens akan merasa diperhatikan dan mereka pun akan membalas dengan memperhatikan presentasi Anda.

Kesalahan Bahasa Tubuh # 3 : Menatap Hanya Satu Tempat Di Antara Audiens

Menatap hanya satu titik dimana audiens berada bukanlah pilihan yang baik. Karena audiens memperhatikan Anda ketika Anda tidak melihat siapa pun dan seperti membuat gerakan mata ke atas, menatap satu tempat, maka akan membuat Anda terlihat seperti tidak yakin dengan diri sendiri.

Sebaliknya, cobalah melihat berbagai orang di antara audiens. Dengan cara ini, audiens akan merasa bahwa mereka penting dan mereka akan memperhatikan Anda sebagai gantinya.

Kesalahan Bahasa Tubuh # 4 : Menyilangkan Tangan/Kaki

Saat Anda menyilangkan tangan, Anda mengirimkan pesan halus bahwa Anda tidak terbuka kepada orang lain dan bahwa Anda merasa terancam. Bagi audiens, Anda seolah-olah bersikap defensif. Dan ini adalah kebalikan dari pesan yang ingin Anda sampaikan.

Selain itu, menyilangkan kaki saat berdiri juga tidak bagus. Ini menunjukkan kegugupan dan kurangnya profesionalisme. Tentu, kesan seperti ini yang tidak ingin Anda sampaikan.

Saat Anda menyampaikan presentasi, Anda harus memfasilitasi komunikasi. Anda harus tampil sebagai orang yang mudah didekati. Dan Anda harus terlihat seolah-olah Anda memiliki keyakinan pada pesan Anda. Untuk mencapai ini, jaga punggung Anda tetap lurus, kepala tinggi, dan dada serta tangan terbuka.

Kesalahan Bahasa Tubuh # 5 : Berjalan Terlalu Cepat dan Lama

Meskipun disarankan Anda untuk berjalan di sekitar tempat Anda berada, jangan bergerak secara berlebihan. Jika Anda terus berjalan atau jika Anda berjalan terlalu cepat, maka audiens Anda akan mengira Anda gugup dan mereka juga akan mulai merasa gugup. Jelas, itu bukan tujuan Anda.

Anda harus bergerak kapan pun masuk akal dan membantu menyampaikan pesan. Misalnya, jika Anda menyapa seseorang di antara audiens, maka pindahlah ke tempat dimana Anda lebih dekat dengan orang tersebut. Jika Anda sedang mempresentasikan daftar tiga poin yang berbeda, maka bicarakan poin ke-1 saat Anda berada di posisi pertama, lalu ambil dua langkah dan bicarakan poin ke-2, kemudian ambil tiga langkah lagi untuk membicarakan poin ke-3.

Kesalahan Bahasa Tubuh # 6 : Sering Mengulangi Gerakan Tangan

Pernahkah Anda melihat presenter yang selalu melakukan gerakan tangan (gesture) yang sama, terlepas dari pesan yang sedang disampaikannya ? Apakah itu masuk akal ? Tentu tidak. Gerakan tangan Anda harus berfungsi untuk menekankan pesan Anda dan bukan menjadi penopang ketika Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangan Anda.

Anda harus memberi isyarat untuk membantu menyampaikan pesan. Jika tidak, maka gerakan tangan Anda hanyalah menjadi penghambat komunikasi. Jadi, cobalah untuk memvariasikan gerakan tangan Anda sebanyak yang Anda bisa, tetapi biarkan gerakan tersebut datang dengan cara yang alami yang ditujukan untuk menekankan pesan Anda.

Kesalahan Bahasa Tubuh # 7 : Memalingkan Muka Dari Audiens

Membelakangi audiens Anda adalah hal yang paling tidak boleh dilakukan. Jangan pernah berpaling dari audiens Anda, kecuali Anda ingin kehilangan mereka saat Anda melakukannya. Memalingkan muka memberi tahu audiens bahwa Anda tidak terlalu peduli dengan mereka. Dan, itu memunculkan kesan bahwa Anda tampak tidak sopan kepada mereka.

Pastikan Anda memiliki catatan atas slide yang Anda bawakan atau cukup melirik sebentar slide yang sedang tampil. Bicaralah kepada audiens Anda.

Audiens Anda perlu melihat wajah, mata, dan mulut Anda jika mereka ingin berinteraksi dengan Anda. Jadi, jika Anda ingin menarik perhatian ke sesuatu di layar, maka geraklah ke samping dan tunjuklah. Sebuah laser pointer dapat bisa membantu pada situasi ini.

Kesalahan Bahasa Tubuh # 8 : Berdiri di Posisi Yang Sama Untuk Keseluruhan Presentasi

Jika Anda seorang presenter yang berdiri di tempat yang sama karena takut tersandung dan jatuh, maka Anda perlu tahu bahwa kemungkinan ketakutan itu sangat tinggi. Untuk menghindari ketakutan tersebut, kenakan sepatu yang nyaman.

Otak Anda membutuhkan gerakan untuk tetap waspada. Dan bergerak di sekitar tempat Anda berada saat Anda melakukan presentasi adalah cara yang ampuh untuk menjaga perhatian audiens. Jadi, jangan sia-siakan cara yang ampuh ini, karena Anda takut akan sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi.

Demikianlah, 8 kesalahan bahasa tubuh yang perlu Anda hindari ketika Anda melakukan presentasi.

Pertama, lupa tersenyum

Kedua, menghindari kontak mata

Ketiga, menatap hanya satu tempat di antara audiens

Keempat, menyilangkan tangan/kaki

Kelima, berjalan terlalu cepat dan lama

Keenam, sering mengulangi gerakan tangan

Ketujuh, memalingkan muka dari audiens

Kedelapan, berdiri di posisi yang sama untuk keseluruhan presentasi

Bahasa tubuh Anda mengungkapkan banyak hal tentang Anda sebagai seorang presenter. Hal itu  dapat menunjang keberhasilan atau kegagalan presentasi Anda. Luangkan waktu untuk berlatih tidak hanya kata-kata dan intonasi suara, tetapi juga melatih bahasa tubuh Anda. Dengan memiliki bahasa tubuh yang baik, maka Anda akan memiliki audiens yang terlibat dengan Anda dan pesan presentasi Anda akan didengar oleh mereka.

Apabila Anda menilai tulisan ini bermanfaat, mohon kiranya tulisan ini dapat disebarkan ke Grup WA atau Social Media yang Anda ikuti, agar semakin banyak orang yang mendapatkan manfaatnya.

Dan, jika Anda memiliki komentar atau pertanyaan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar di bawah ini.

Sharing knowledge for a better presentation/communication.

 

 

1 Struktur Komunikasi Jitu Yang Dapat Anda Gunakan Untuk 4 Situasi Komunikasi Yang Berbeda

Pernahkah Anda memperhatikan seseorang melakukan komunikasi dalam suatu situasi tertentu, misalnya memperkenalkan seseorang/sesuatu atau menjawab pertanyaan ?

Dalam aktivitas sehari-hari, tentu saja Anda tidak terlepas dari yang namanya komunikasi, namun seringkali tidak mudah untuk menyampaikan pesan Anda dengan jelas dalam situasi komunikasi tertentu. Apakah itu komunikasi untuk memperkenalkan seseorang/sesuatu sampai kepada menjawab pertanyaan.

Karena kesulitan tersebut, Anda tidak dapat menyampaikan pesan komunikasi Anda dengan mudah dimengerti. Akibatnya, audiens Anda tidak dapat menangkap maksud pembicaraan Anda dengan baik. Sehingga, tujuan Anda melakukan komunikasi tidak tercapai, karena sesungguhnya tujuan Anda melakukan komunikasi adalah agar audiens Anda dapat memahami pesan yang Anda sampaikan.

Prof. Matt Abrahams yang mengajarkan Komunikasi Strategik pada Sekolah Pascasarjana Bisnis di Stanford University dan Keterampilan Presentasi untuk Program Studi Berkelanjutan di Stanford University menjelaskan bahwa menerapkan struktur komunikasi dapat membantu membuat percakapan menjadi lebih efisien dan efektif.

Memanfaatkan struktur komunikasi adalah kunci untuk mengelola berbagai jenis komunikasi. Struktur komunikasi berfungsi sebagai pengarah untuk pesan Anda. Struktur komunikasi memungkinkan Anda untuk memulai pesan dari titik awal yang mudah, transisi, dan akhir yang jelas. Struktur komunikasi membantu Anda dalam menyusun pesan yang ringkas dan relevan. Informasi yang terstruktur lebih mudah diproses dan diingat oleh audiens Anda.

Berita baiknya, ada satu struktur komunikasi yang dapat Anda gunakan untuk 4 situasi komunikasi yang berbeda, yaitu : memperkenalkan seseorang/sesuatu, memulai percakapan kecil, memberikan umpan balik, dan menjawab pertanyaan.

Struktur komunikasi tersebut adalah : What ? So What ? Now What ?

Berikut ini uraian dari struktur komunikasi : What ? So What ? Now What ?

What ?

Pertama, tentukan atau jelaskan ide atau argumen utama Anda. Lakukan dengan cara yang jelas dan ringkas tanpa jargon (kata-kata teknis yang digunakan secara terbatas dalam bidang ilmu, profesi, atau kelompok tertentu). Tanyakan pada diri Anda, “Apa informasi penting yang perlu saya sampaikan ?”

So What ?

Bagian kedua ini membuat Anda berfokus pada relevansi ide atau argumen Anda yang berhubungan audiens Anda, yaitu manfaatnya untuk audiens Anda. Anda harus mempertimbangkannya dari perspektif audiens Anda. Ingat, jika Anda ingin memaksimalkan pesan komunikasi Anda untuk diingat, maka hal itu bukan tentang apa yang ingin Anda katakan, melainkan lebih banyak tentang apa yang perlu didengar audiens Anda. Katakan pada diri sendiri: “Intinya bagi audiens saya adalah …”

Now What ?

Terakhir, Anda menyoroti pikiran, perasaan, dan tindakan yang Anda inginkan agar dipegang atau dilakukan oleh audiens Anda. Berkatalah dengan jelas dan langsung yang ditujukan untuk menghilangkan makna pesan yang lebih dari satu penafsiran (ambigu). Perhatikan nada yang Anda gunakan untuk menyampaikan pesan tersebut, misalnya, urgensi, kepercayaan diri, kegembiraan, dan lain-lain yang secara langsung memengaruhi persepsi audiens tentang Anda dan pesan Anda.

Mari kita bahas penerapan struktur komunikasi What ? So What ? Now What ? pada 4 situasi komunikasi yang berbeda.

Situasi Komunikasi # 1 : Memperkenalkan Seseorang/Sesuatu

Memperkenalkan seseorang/sesuatu sering kali bertele-tele dan membingungkan. Menggunakan struktur ini dapat membantu Anda menjelaskan dan menetapkan ekspektasi untuk apa yang ingin Anda katakan selanjutnya.

Memperkenalkan seseorang :

  • What ? Saya merasa terhormat untuk memperkenalkan Dr. Imam yang hadir untuk mendiskusikan wawasannya tentang teori permainan.
  • So What ? Karyanya telah mengubah cara banyak orang membuat keputusan sehari-hari. Saya yakin Anda akan berpikir secara berbeda ketika Anda selesai mengikuti acara ini pada malam hari ini.
  • Now What ? Tanpa basa-basi, bergabunglah dengan saya untuk menyambut Dr. Imam.

Memperkenalkan sesuatu :

  • What ? Saya sangat senang memperkenalkan versi terbaru dari produk kami. Dalam rilis kali ini, kami telah menambahkan banyak peningkatan kegunaan dan meningkatkan kecepatannya dalam menyelesaikan pekerjaan.
  • So What ? Sekarang klien kami dapat lebih mudah menyelesaikan tugas mereka dan menghemat waktu dan uang.
  • Now What ? Jika Anda keluar dari sesi konferensi ini, maka cobalah produk kami ini.

Situasi Komunikasi # 2 : Memulai Percakapan Kecil

Banyak dari kita berjuang untuk terlibat dalam obrolan ringan terutama dengan orang yang tidak kita kenal dengan baik. Struktur ini dapat membantu Anda terlibat dan mempertahankan percakapan awal. Cukup gunakan tiga pertanyaan untuk membuat audiens Anda mengekspresikan dirinya.

  • What ? Apa yang Anda ketahui tentang upaya terbaru untuk mengurangi konsumsi energi ?
  • So What ? Menurut Anda, mengapa sangat penting untuk mengurangi energi ?
  • Now What ? Apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu mengurangi penggunaan energi saya ?

Situasi Komunikasi # 3 : Memberikan Umpan Balik

Memberikan umpan balik yang membangun dapat memanfaatkan struktur ini. Misalnya, Anda memiliki rekan kerja yang gagal menyelesaikan laporannya tepat waktu.

  • What ? Saya melihat bahwa laporan Anda tidak dikirimkan dalam waktu yang telah kita sepakati.
  • So What ? Hal ini menempatkan kita pada posisi yang kurang menguntungkan dalam membicarakan usulan kita pada klien kita dan mungkin membahayakan pertemuan kita dengan klien kita.
  • Now What ? Saya ingin Anda menyelesaikan laporan ini besok pagi. Tolong beritahu saya apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda.

Situasi Komunikasi # 4 : Menjawab Pertanyaan

Menjawab pertanyaan adalah peluang yang bagus untuk menerapkan struktur ini. Misalnya, bayangkan dalam wawancara kerja dimana Anda ditanya: “Mengapa Anda memenuhi syarat untuk pekerjaan ini?”

  • What ? Saya memiliki lebih dari 12 tahun pengalaman kerja dalam menghadapi pelanggan untuk mengatasi tantangan seperti bermigrasi ke sistem baru dan menerapkan proses baru.
  • So What ? Pengalaman ini akan membantu saya memberikan hasil yang berkualitas tinggi kepada pelanggan Anda, sekaligus membantu Anda menyederhanakan proses penerapannya.
  • Now What ? Saya senang Anda mendiskusikan kualifikasi saya dengan beberapa mantan klien saya.

Demikianlah, struktur komunikasi What ? So What ? Now What ? yang dapat Anda gunakan untuk 4 situasi komunikasi yang berbeda.

Pertama, memperkenalkan seseorang/sesuatu.

Kedua, memulai percakapan kecil.

Ketiga, memberikan umpan balik.

Keempat, menjawab pertanyaan.

Struktur Komunikasi : What ? So What ? Now What ? memberikan Anda cara untuk menyampaikan pesan dengan jelas, sehingga Anda dapat fokus pada rincian spesifik dari apa yang ingin Anda katakan. Dengan sering berlatih, maka Anda dapat belajar untuk mengelola rentetan situasi komunikasi yang Anda hadapi dengan menggunakan struktur komunikasi tersebut.

Apabila Anda menilai tulisan ini bermanfaat, mohon kiranya tulisan ini dapat disebarkan ke Grup WA atau Social Media yang Anda ikuti, agar semakin banyak orang yang mendapatkan manfaatnya.

Dan, jika Anda memiliki komentar atau pertanyaan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar di bawah ini.

Sharing knowledge for a better presentation/communication.

 

 

 

Hal Terpenting Dalam Penyampaian Pesan Presentasi Untuk Meyakinkan Audiens Anda

Pesan presentasi yang testruktur, slide presentasi yang menarik tidak akan berarti apa-apa jika Anda tidak mampu membawakan presentasi dengan meyakinkan. Dalam banyak presentasi, sering kita temui presenters memliki pesan presentasi yang bagus, slide yang memesona, tetapi karena penyampaiannya tidak meyakinkan yang disampaikan tetap saja membosankan.

Perlu Anda ketahui bahwa Anda adalah aktor utama presentasi. Audiens hadir untuk melihat dan mendengarkan presentasi Anda. Mereka tidak peduli seberapa lama persiapan Anda. Mereka tidak mau tahu. Mereka tidak akan menilai persiapan Anda, tetapi mereka menilai penyampaian presentasi Anda.

Oleh karena itu, penyampaian presentasi juga merupakan bagian yang sangat penting dan menentukan keberhasilan presentasi Anda, selain penyusunan pesan yang terstruktur dan pembuatan slide yang menarik.

Jika Anda tidak menguasainya, maka bisa terjadi pesan dan slide presentasi yang sudah Anda siapkan dengan serius akhirnya menjadi tidak bermanfaat, karena audiens Anda tidak benar-benar menangkap apa yang Anda sampaikan.

Akan tetapi, jika Anda dapat menyampaikan presentasi secara meyakinkan, maka audiens Anda akan mampu menyerap informasi dengan baik. Akibatnya, Anda akan mampu menarik perhatian mereka dan mereka benar-benar dapat terhubung dengan mereka.

Jika tahap penyusunan pesan presentasi merupakan bentuk komunikasi verbal, maka teknik penyampaian presentasi lebih banyak berkaitan dengan komunikasi non verbal. Komunikasi non verbal terdiri dari 2 komponen, yaitu bahasa tubuh dan intonasi suara.

Yang termasuk bahasa tubuh yang perlu Anda perhatikan adalah cara berdiri, pergerakan badan, kontak mata, ekspresi wajah, dan gesture. Sementara, yang termasuk dalam intonasi suara yang perlu Anda kuasai adalah : tinggi rendah suara, cepat lambat berbicara, dan keras lemah suara.

Dalam komunikasi, kata-kata pembicara hanyalah sebagian kecil dari usahanya. Tinggi rendah suara, cepat lambat berbicara, keras lemah kata yang diucapkan, dan jeda di antara kata-kata itu dapat mengungkapkan lebih dari apa yang dikomunikasikan dengan kata-kata saja. Selanjutnya, gerak tubuh, cara berdiri, kontak mata, ekspresi wajah, dan gesture biasanya menyampaikan berbagai sinyal halus. Elemen non verbal ini dapat memberikan indikasi kepada audiens sebuah petunjuk penting tentang pikiran dan perasaan pembicara yang dapat memperkuat atau bertentangan dengan  kata-katanya.

Nagesh Belludi (2008) menyebutkan bahwa jika kita berbicara tentang komunikasi non verbal, maka banyak orang mengutip sebuah riset yang dilakukan oleh Prof. Albert Mehrabian dari University of California, Los Angeles. Riset tersebut menjelaskan bahwa dalam komunikasi besarnya pengaruh dari masing-masing komponen adalah sebagai berikut :

  • Bahasa tubuh 55 %
  • Intonasi suara 38 %
  • Kata-kata 7 %

Dengan memperhatikan informasi ini mungkin Anda berkomentar, “ternyata komunikasi non verbal (bahasa tubuh dan intonasi suara) memegang peranan besar yang kalau keduanya dijumlahkan mencapai 93 %. Jika saya melakukan presentasi asalkan bahasa tubuh dan intonasi suara sudah sesuai, maka kata-kata nggak penting-penting amat karena kata-kata hanya 7 %.

Komentar tersebut menunjukkan bahwa banyak orang yang kurang tepat memaknai hasil riset tersebut. Maksud dari hasil riset tersebut adalah jika terjadi ketidaksinkronan dalam berkomunikasi, maka yang dipercaya adalah faktor yang mempunyai persentase yang lebih besar.

Sebagai contoh, jika Anda mengatakan pada audiens, “Aku tidak punya masalah denganmu!” sambil Anda menghindari kontak mata, terlihat cemas, dan mempertahankan bahasa tubuh yang tertutup, maka audiens Anda tidak akan mempercayai Anda. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka tangkap melalui bahasa tubuh Anda.

Demikian juga halnya, ketika Anda mengatakan pada audiens “saya merasa senang berada disini”, akan tetapi dalam menyampaikannya nada suara Anda terdengar datar dan tidak bersemangat, maka audiens juga tidak akan percaya. Mereka akan lebih percaya pada interpretasi dari intonasi suara Anda yang terkesan datar dan tidak semangat.

Karena begitu pentingnya aspek non verbal dalam penyampaian presentasi, maka satu aspek terpenting yang harus Anda ketahui dalam penyampaian pesan presentasi adalah membuat sinkronisasi antara kata-kata yang Anda sampaikan dengan bahasa tubuh dan intonasi suara Anda.

Sesuaikanlah bahasa tubuh Anda dengan kata-kata yang Anda sampaikan. Misalnya, tampilkanlah antusiasme dalam ekspresi wajah Anda ketika Anda menyampaikan pesan presentasi. Antusiasme itu menular. Artinya bahwa jika Anda tampil antusias, maka audiens pun juga akan tertular antusiasme Anda.

Contoh lainnya, jika Anda memperhatikan para presenter hebat, mereka memanfaatkan anggota tubuhnya untuk ikut berbicara. Steve Jobs dalam peluncuran produk iphone pada bulan Januari 2007 ketika menjelaskan bahwa iphod mempengaruhi seluruh industri musik, dia menggerakan tangannya dari kiri ke kanan untuk menekankan bahwa iphod mempengaruhi seluruh industri musik.

Begitu pula, hindarilah penyampaian pesan presentasi dengan nada yang monoton yang dapat membuat audiens mengantuk. Untuk itu, berikanlah variasi pada intonasi suara Anda. Ada saatnya Anda berbicara lebih lambat untuk memberikan penekanan pada pesan presentasi yang penting. Di sisi lain, adakalanya Anda perlu berbicara lebih cepat untuk menunjukkan semangat.

Selain itu, Anda perlu berbicara dengan volume suara yang lebih keras untuk menunjukkan pesan yang penting atau ketika suasana lebih tenang dibutuhkan, Anda dapat berbicara dengan volume sedikit lebih kecil.

Bahkan, Anda tidak harus berbicara setiap saat. Berikan jeda sesekali. Sedikit diam akan mengajak audiens Anda berpikir dan merenung. Dengan cara ini, maka Anda dapat menciptakan efek dramatik, namun sekaligus membuat pesan yang Anda sampaikan menjadi pesan yang kuat dan mudah diingat.

Demikianlah, hal terpenting yang perlu Anda kuasai untuk penyampaian pesan presentasi  yang dapat meyakinkan audiens Anda, yaitu mensinkronkan antara kata-kata yang Anda sampaikan dengan bahasa tubuh dan intonasi suara Anda.