
Dalam dunia yang terus berubah dengan cepat dan masif, setiap sektor kehidupan menghadapi tuntutan baru. Menguatnya pemanfaatan artificial intelligence, big data dalam pengambilan keputusan, dan perubahan interaksi serta pelayanan yang mengarah pada sistem daring adalah beberapa contohnya. Tidak hanya di sektor teknologi, perubahan juga terjadi di berbagai bidang kehidupan bernegara seperti sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Karakteristik Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) dari perubahan ini membutuhkan pengambil kebijakan yang responsif dan adaptif.
Selain itu, era pandemi Covid-19 memperburuk tantangan ini dengan munculnya BANI (Brittle, Anxiety, NonLinier, dan Incomprehensive) yang menuntut organisasi untuk bergerak cepat dan fleksibel. Dalam konteks ini, pengambil kebijakan dituntut untuk membuat berbagai pilihan kebijakan untuk merespons perubahan tersebut. Kebijakan yang dimaksudkan tidak hanya berupa peraturan perundang-undangan formal, tetapi juga termasuk keputusan yang terkait dengan program, kegiatan, atau agenda pemerintah lainnya untuk merespon permasalahan atau isu publik (LAN, 2023).
Terkait dengan hal itu, maka kebutuhan informasi bagi pengambil keputusan semakin diperlukan. Kegiatan analisis kebijakan sebagai proses penerapan berbagai disiplin ilmu terapan yang diarahkan untuk memberikan rekomendasi kepada pengambil keputusan menjadi hal yang sangat penting untuk penyediaan kebutuhan informasi tersebut. Analisis kebijakan tersebut memanfaatkan berbagai metode dalam ilmu sosial, teori-teori, dan temuan substantif untuk menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi oleh publik (Dunn, 2018). Hasil proses analisis kebijakan ini menjadi informasi berharga bagi pengambil keputusan untuk merespon setiap permasalahan atau isu publik secara rasional, tepat, dan cepat.
Komunikasi hasil analisis kebijakan itu menjadi hal yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian dan digunakan dalam pengambilan keputusan. Salah satu bentuk dokumentasi kebijakan yang tepat untuk menjawab kebutuhan informasi yang ringkas dan cepat tersebut adalah policy brief. Policy brief adalah dokumen ringkas dan netral yang berfokus pada isu tertentu yang membutuhkan perhatian pengambil kebijakan, yang memaparkan alasan/rasional pemilihan alternatif kebijakan tertentu yang ada pada tataran perdebatan kebijakan (LAN, 2015).
Dalam penulisan policy brief, paragraf menjadi komponen yang sangat penting. Paragraf merupakan unit dasar dalam penulisan yang digunakan untuk menyampaikan ide atau gagasan secara terstruktur (indonesiana, 2025). Penuangan gagasan dalam paragraf tersebut memberikan bentuk apa yang dipikirkan oleh penulis policy brief melalui rangkaian kalimat agar gagasan penulis policy brief dapat dipahami oleh pengambil keputusan.
Paragraf yang baik mencirikan adanya kesatuan (ada satu gagasan utama), kepaduan (kalimat dalam paragraf dan antar paragraf yang mengalir/koheren), dan kelengkapan (ada kalimat utama dan kalimat penjelas). Berdasarkan tujuannya, ada lima jenis paragraf, yaitu : deskriptif, naratif, ekspositif, argumentatif, dan persuasif.
Dalam penulisan policy brief, jenis paragraf yang dominan untuk digunakan adalah paragraf ekspositif, argumentatif, dan persuasif di mana penyusunan paragraf tersebut didasarkan pada data dan fakta yang terkait. Mari kita lihat contoh-contoh paragraf tersebut dalam konteks isu pangan, yaitu :
1. Paragraf Ekspositif: Bertujuan untuk menjelaskan, menerangkan, dan memberikan informasi tentang suatu isu kebijakan.
Contoh :
“Kebijakan pangan nasional bertujuan untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan berkualitas bagi seluruh penduduk. Pemerintah telah menerapkan berbagai program, seperti subsidi beras dan pembangunan infrastruktur pertanian, untuk mencapai tujuan ini. Namun, tantangan seperti perubahan iklim dan fluktuasi harga pangan global terus menghambat upaya tersebut.”
2. Paragraf Argumentatif: Bertujuan untuk menyampaikan ide, gagasan, atau pendapat tentang suatu isu kebijakan yang disertai dengan alasannya.
Contoh :
“Peningkatan subsidi beras tidak cukup untuk menjamin ketahanan pangan jangka panjang. Data menunjukkan bahwa investasi dalam teknologi pertanian modern dan pendidikan petani dapat meningkatkan produktivitas hingga 30%. Oleh karena itu, pemerintah harus mengalihkan sebagian anggaran dari subsidi ke program-program yang lebih berkelanjutan.”
3. Paragraf Persuasif: Bertujuan untuk membujuk atau mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu sesuai dengan maksud tertentu.
Contoh :
“Mari kita dukung kebijakan pangan yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Dengan berinvestasi dalam teknologi pertanian dan pendidikan petani, kita dapat menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim dan fluktuasi harga global. Bersama, kita bisa memastikan ketahanan pangan bagi generasi mendatang.”
Dalam dunia yang penuh dengan perubahan dan tantangan, policy brief menjadi alat yang sangat penting untuk menyampaikan gagasan hasil analisis kebijakan kepada pengambil keputusan. Paragraf adalah unit dasar yang memungkinkan penulis policy brief untuk menyusun gagasan secara terstruktur dan efektif. Dengan memahami dan mengaplikasikan seni menyusun paragraf ekspositif, argumentatif, dan persuasif, maka Anda dapat menulis policy brief yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu mempengaruhi dan mendorong perubahan.
Mari kita menulis policy brief yang dapat menggerakkan perubahan. Susun paragraf-paragraf yang kuat dan sampaikan gagasan Anda kepada pengambil kebijakan. Bersama, kita memiliki kekuatan untuk membentuk kebijakan yang lebih efektif untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Jika Anda merasa tulisan ini bermanfaat, maka jangan ragu untuk memberikan komentar dan membagikannya kepada teman-teman Anda agar mereka juga bisa mendapatkan manfaat dari postingan ini. Terima kasih atas dukungan Anda terhadap blog ini!



Kereen pak erry tulisannya. Sangat bermanfaat bagi kami para analis kebijakan. Mantaap
Hal umum namun jarang disadari istilahnya dan bermanfaat bagi penulis kebijakan.
Tks Pak Hajaz.
Singkat, padat, dan bermanfaat, Pak Erry. Terima kasih 🙏
Terima kasih pak Erry,tulisannya menginspirasi, dan memberi panduan bagi kita2 yg lagi berupaya membuat kebijakan2 yg populis
Sama2 Bu Puji.
Sangat informatif menjadi kan kita selalu berpikir inovatif untuk langkah langkah public policy yg semakin masif kita harus menyesuaikan thanks pak erry
Sama2 Pak Wiendra.