Blog Analisis Kebijakan + Manajemen Inovasi + Pengembangan Diri + Presentasi
Search

Kalimat Efektif: Kunci Policy Brief Yang Mudah Dipahami Oleh Pengambil Kebijakan

Setiap hari, pengambil kebijakan dihadapkan pada gelombang informasi yang kompleks. Di tengah agendanya yang padat, bagaimana Anda memastikan ide kebijakan Anda tidak hanya didengar, tetapi juga dipahami dan dipertimbangkan oleh pengambil keputusan? Kuncinya adalah kualitas policy brief yang Anda susun. Salah satu aspek penting dari policy brief yang efektif adalah kalimat yang mudah dipahami. Mari kita bedah cara merangkai kalimat efektif yang akan membuat policy brief Anda menonjol dan memengaruhi pengambil kebijakan.

Policy brief adalah dokumen saran kebijakan yang disajikan secara terstruktur, persuasif, menarik, dan didukung bukti yang kuat (LAN, 2015). Tujuannya adalah untuk mengomunikasikan informasi penting secara ringkas dan jelas untuk memengaruhi perubahan kebijakan. Policy brief yang efektif berfokus pada kebutuhan pengambil keputusan, mengutamakan solusi praktis berbasis bukti dan argumen yang rasional, fokus pada satu masalah tertentu, ringkas (idealnya 2-4 halaman, maksimal 8 halaman), mudah dipahami, mudah diakses, dan memiliki tampilan visual yang menarik (LAN, 2017; Peraturan LAN No. 28/2017).

Dalam menulis policy brief, pemahaman terhadap harapan pengambil kebijakan sebagai target pembaca sangat krusial. Pengambil kebijakan butuh data dan informasi yang spesifik, singkat, mudah dicerna, dan disajikan dalam bahasa non-teknis (LAN, 2015). Tsai (2006) menekankan bahwa policy brief ditujukan bagi pembaca yang memiliki keterbatasan waktu, namun membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan praktis. Sejalan dengan itu, policy brief perlu ditulis secara ringkas dan langsung ke pokok persoalan, dengan pilihan kata sederhana, kalimat pendek, paragraf singkat, dan sub judul yang menjelaskan (Linquiti, 2023). Dwiyanto (2012) juga menyatakan bahwa policy brief harus ringkas, sederhana, menarik secara visual, dan dilengkapi banyak gambar untuk memudahkan pemahaman bagi pengambil kebijakan.

Setiap gagasan yang ditulis dalam policy brief tersebut diekspresikan melalui kalimat. Kalimat-kalimat inilah yang membawa pesan Anda. Oleh karena itu, setiap kalimat disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku, seperti memiliki unsur penting yang harus dimiliki oleh setiap kalimat (paling sedikit ada subjek dan predikat), memperhatikan ejaan yang disempurnakan (EYD), dan menggunakan kata (diksi) yang tepat (Putrayasa, 2014). Hindari jargon teknis atau istilah khusus yang mungkin tidak familiar bagi pengambil kebijakan.

Kalimat yang digunakan dalam policy brief haruslah kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan maksud penulis secara lengkap dan akurat dalam pikiran pembaca (Putrayasa, 2014). Diadaptasi dari Saryono dan Soedjito (2020), penulisan policy brief perlu memperhatikan ciri-ciri penting dari kalimat yang efektif.

Pertama, kalimat harus lengkap, paling sedikit mempunyai subjek dan predikat, dan bisa ditambahkan obyek dan keterangan. Contoh: “Untuk penerima bantuan sosial tidak dipungut biaya administrasi”. Kalimat tersebut tidak efektif, karena tidak ada subjeknya. Subjek tidak boleh diawali preposisi “untuk” seperti pada contoh kalimat tersebut. Contoh kalimat yang efektif adalah “Penerima bantuan sosial tidak dipungut biaya administrasi”. Contoh kalimat tersebut efektif, karena kalimat tersebut lengkap. Ada unsur subjek, predikat, dan objeknya.

Kedua, kalimat harus serasi. Keserasian berarti unsur-unsur dalam kalimat, baik bentuk maupun makna, harus selaras. Hindari ketidakserasian yang dapat mengganggu pemahaman pembaca. Misalnya, perhatikan kalimat ini: “Program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat meliputi pemberian bantuan langsung tunai, pelatihan keterampilan, dan membuka lapangan kerja.” Kalimat ini kurang serasi karena dua elemen pertama adalah kata benda (“pemberian bantuan” dan “pelatihan keterampilan”), sementara yang terakhir adalah frasa kata kerja (“membuka lapangan kerja”). Untuk mencapai keserasian, maka kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: “Program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat meliputi pemberian bantuan langsung tunai, pelatihan keterampilan, dan penciptaan lapangan kerja.” Dengan menyelaraskan semua elemen menjadi kata benda, maka kalimat tersebut menjadi lebih selaras dan mudah dicerna.

Ketiga, kalimat harus padu. Fungsi unsur-unsur kalimat harus bertautan secara utuh dan jelas. Contoh: “Peningkatan kualitas pendidikan, menurut survei pusat studi X (2024), akan meningkatkan daya saing bangsa”. Kalimat tersebut tidak padu, sebab di antara subjek dan predikatnya disisipkan keterangan yang diantar oleh ungkapan pengantar kalimat, yaitu menurut survei pusat studi X (2024). Lebih baik gunakan kalimat ini : “Menurut survei pusat studi X (2024), peningkatan kualitas pendidikan akan meningkatkan daya saing bangsa”.

Keempat, kalimat harus hemat. Hindari kata atau frasa yang berlebihan. Contoh: “Para siswa-siswa di sekolah ini sangat berprestasi”. Kalimat tersebut tidak hemat, karena ada dua bentuk jamak. Pertama, para. Kedua, siswa-siswa. Jadi, untuk mengungkapkan bentuk jamak, cukup menggunakan satu bentuk jamak saja. Cukup Anda tulis: “Para siswa di sekolah ini sangat berprestasi”.

Kelima, kalimat harus jelas. Kalimat yang jelas adalah kalimat yang hanya memiliki satu makna, bukan memiliki lebih dari satu makna. Contoh: “Perusahaan menaikkan harga produk, penjualan menurun.” Kalimat ini ambigu (tidak jelas). Kita tidak tahu apakah kenaikan harga menyebabkan penurunan penjualan, atau ada faktor lain seperti : munculnya pesaing baru, perubahan tren pasar, atau masalah kualitas produk. Dalam contoh kalimat tersebut tidak ada hubungan sebab akibat yang jelas. Kalimat tersebut hanya menyatakan dua fakta yang terjadi bersamaan: (1) perusahaan menaikkan harga produk dan (2) penjualan menurun. Namun, tidak ada informasi yang menunjukkan apakah kedua fakta ini saling memengaruhi. Untuk memperjelasnya, maka kita bisa menambahkan kata penghubung: “Perusahaan menaikkan harga produk, sehingga penjualan menurun.”

Menulis policy brief yang efektif adalah tentang menyajikan informasi dengan cara yang mudah dipahami oleh pengambil kebijakan yang sibuk. Kualitas kalimat menjadi kunci utama. Dengan memperhatikan kelengkapan, keserasian, kepaduan, kehematan, dan kejelasan kalimat, maka Anda dapat menghasilkan policy brief yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga dipahami dan dipertimbangkan secara serius oleh pengambil kebijakan, sehingga mendorong perubahan yang positif bagi target kebijakan.

Jangan biarkan ide kebijakan Anda terpendam dalam tumpukan dokumen. Tingkatkan keterampilan menulis policy brief Anda, kuasai seni merangkai kalimat yang efektif, dan jadilah agen perubahan yang didengar. Mulailah dengan menganalisis policy brief yang sudah ada, identifikasi kekuatan dan kelemahannya dari aspek kalimat, dan terapkan prinsip-prinsip yang telah kita bahas.

Jika Anda merasa tulisan ini bermanfaat, maka jangan ragu untuk memberikan komentar dan membagikannya kepada teman-teman Anda, agar mereka juga bisa mendapatkan manfaat dari postingan ini. Terima kasih atas dukungan Anda terhadap blog ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top