6 Pelajaran Bercerita Dengan Data : Panduan Untuk Dosen, Mahasiswa, Analis, Pegawai Pemerintah dan Swasta Untuk Mengkomunikasikan Data Secara Efektif

Cole (2015) yang menulis buku “Storytelling with Data : a Data Visualization Guide for Business Professionals” menyampaikan bahwa grafik yang jelek bertebaran dimana-mana.

Salah satu contohnya yang dapat Anda lihat pada slide di bawah ini.

Jika Anda melihat grafik di atas, maka Anda akan sulit untuk memahami apa makna grafik di atas. Grafik tersebut hanya sekedar menampilkan data. Tidak memberikan sebuah informasi yang diharapkan mampu untuk menggerakkan seseorang, utamanya pengambil keputusan.

Slide di atas yang disajikan kepada audiens tidak mampu menjadi “sesuatu yang dicari” dan menguatkan pesan yang ingin disampaikan.

Anda mungkin banyak menemukan slide seperti di atas dalam aktivitas yang Anda jalankan sehari-hari. Apakah Anda sebagai dosen, mahasiswa, analis, pegawai pemerintah atau swasta.

Anda tentu tidak ingin menyajikan grafik yang buruk seperti itu. Tetapi, hal itu sering terjadi. Lagi dan lagi di setiap kantor, perguruan tinggi, perusahaan, industri dan oleh semua jenis orang. Hal itu juga terjadi di media. Tambahan pula, hal itu terjadi di tempat dimana Anda mengharapkan orang tahu lebih baik untuk menyajikan data menjadi informasi yang berharga bagi pengambilan keputusan.

Pertanyaannya adalah kenapa hal itu bisa terjadi ?

Cole (2015) menyebutkan bahwa hal itu terjadi, karena kita secara alami tidak pandai dalam bercerita dengan data.

Di sekolah, kita belajar banyak tentang bahasa dan matematika. Pada sisi bahasa, kita belajar bagaimana merangkai kata menjadi kalimat dan cerita. Sedangkan, dengan matematika, kita belajar memahami angka.

Tapi, jarang sekali aspek bahasa dan matematika secara bersama-sama kita kuasai. Tidak ada orang yang mengajari kita cara bercerita dengan angka. Semakin menambah tantangan yang kita hadapi adalah sangat sedikit orang yang mahir secara alami pada aspek bahasa dan matematika secara bersamaan.

Kurangnya ketrampilan ini membuat kita kurang siap untuk mengerjakan tugas penting dalam menyajikan data secara efektif. Teknologi yang kita miliki telah memungkinkan kita untuk mengumpulkan data dalam jumlah yang lebih besar dan banyak.

Keinginan yang berkembang untuk memahami semua data ini, sehingga kemampuan memvisualisasikan data dan menceritakan kisahnya adalah kunci untuk mengubahnya menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mendorong pengambilan keputusan yang lebih baik.

Dengan tidak adanya keterampilan atau pelatihan dalam bidang ini, maka kita sering kali akhirnya mengandalkan alat yang kita gunakan seperti Excel untuk memahami praktik terbaik. Kemajuan teknologi, selain meningkatkan jumlah dan akses ke data, juga membuat alat bekerja dengan data.

Hampir semua orang dapat memasukkan beberapa data ke dalam aplikasi grafik, misalnya Excel dan membuat grafik.

Dan yang menakutkan, karena tanpa arah yang jelas untuk diikuti, maka niat dan upaya terbaik kita dapat membawa kita ke beberapa arah yang sangat buruk seperti : warna tampilan data yang tidak memiliki makna.

Sementara teknologi telah meningkatkan akses dan kemahiran agar alat yang kita gunakan dapat bekerja dengan data, namun masih ada kesenjangan dalam hal kemampuan. Anda dapat memasukkan beberapa data ke dalam Excel dan membuat grafik. Namun, bagi banyak orang, proses visualisasi data berakhir disana.

Hal ini dapat membuat cerita yang paling menarik benar-benar mengecewakan atau lebih buruk lagi sulit atau tidak mungkin untuk dipahami. Alat yang kita gunakan untuk mengolah data  tidak mampu menceritakan data tersebut.

Sesungguhnya, ada cerita di dalam data yang Anda miliki. Akan tetapi, alat pengolah data yang Anda gunakan tidak tahu apa cerita itu. Di situlah Anda sebagai analis atau komunikator informasi harus berupaya untuk menghidupkan cerita itu secara visual dan kontekstual.

Proses menghidupkan cerita secara visual dan kontekstual itulah yang menjadi fokus untuk Anda kuasai keahliannya.

Berikut ini adalah contoh slide (sebelum) dan (sesudah) yang dapat memberikan gambaran kepada Anda apa yang perlu Anda pelajari.

Slide (sebelum) di bawah ini hanya menunjukan data.

Sementara itu, slide (sesudah) di bawah ini bercerita dengan data.

Jika Anda perhatikan slide (sesudah) di atas, maka ada insight yang disajikan, yaitu “ada 2 karyawan yang berhenti pada bulan Mei. Kita hanya dapat menyelesaikan jumlah tiket yang masuk dalam dua bulan berikutnya, tetapi tidak mampu menyelesaikannya dengan peningkatan di bulan Agustus dan tidak dapat mengatasinya sejak saat itu”. Disamping itu, judul slide nya pun lebih menggerakan audiens untuk bertindak yang didukung oleh data yang disajikan dan insight yang dipaparkan.

Pelajaran yang Anda dapat Anda petik dari dua slide di atas—slide (sebelum) dan slide (sesudah) adalah Anda dapat merubah dari hanya menunjukan data menjadi bercerita dengan data.

Cole (2015) menjelaskan bahwa ada enam pelajaran yang perlu Anda perhatikan untuk bercerita dengan data.

Pelajaran # 1 : Memahami Konteks

Sebelum Anda memulai visualisasi, ada 3 pertanyaan yang mesti Anda jawab. Pertama, kepada siapa Anda ingin mengkomunikasikan data Anda. Kedua, bagaimana Anda mengkomunikasikannya. Ketiga, apa yang audiens Anda perlu ketahui dan lakukan. Selain itu, menerapkan konsep seperti : tiga menit cerita, ide besar (big idea), dan storyboarding juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan untuk mengartikulasikan cerita Anda dan merencanakan pesan dan alur yang diinginkan.

Pelajaran # 2 : Memilih Tampilan Visual Yang Tepat

Apa cara terbaik untuk menunjukkan data yang Anda ingin komunikasikan ? Cole (2015) memperkenalkan tipe visual yang paling banyak digunakan untuk mengkomunikasikan data dalam tataran bisnis. Jenis visual spesifik yang diperkenalkan mencakup : teks yang sederhana, tabel, heatmap, grafik garis, slopegraph, diagram batang vertikal, diagram batang bertumpuk vertikal, waterfall chart, diagram batang horisonal, diagram batang bertumpuk horisontal dan square area graph. Disamping itu, Cole (2015) juga menjelaskan tampilan visual yang perlu dihindari seperti diagram lingkaran, diagram donat dan tiga dimensi.

Pelajaran # 3 : Menghilangkan Tampilan Yang Mengacaukan

Setiap elemen yang Anda tambahkan ke dalam slide akan mengambil beban kognitif (usaha mental yang harus dilakukan dalam memori Anda untuk memproses informasi yang diterima pada selang waktu tertentu) bagi audiens Anda. Itu berarti Anda harus memperhatikan dengan cermat elemen-elemen yang Anda perlu masukan ke dalam slide Anda. Anda perlu mengidentifikasi hal-hal yang dapat membebani otak audiens Anda untuk hal-hal yang mereka tidak perlu untuk memprosesnya.

Oleh karena itu, identifikasi dan hilangkan tampilan yang mengacaukan. Untuk itu, Anda perlu mengetahui Prinsip Gestalt dari Persepsi Visual dan bagaimana Anda dapat menerapkannya kepada tampilan visual seperti tabel dan grafik. Anda juga perlu mengetahui perataan (alignment), penggunaan white space, dan kontras sebagai komponen penting dari desain.

Pelajaran # 4 : Memfokuskan Perhatian Kemana Arah Yang Anda Inginkan

Mengetahui bagaimana orang melihat dan bagaimana Anda memanfaatkan hal itu sangat berguna ketika Anda membuat visualisasi. Untuk itu, Anda perlu mengetahui pembahasan mengenai pandangan dan memori yang dapat berguna untuk membingkai pentingnya atribut yang dapat mencari perhatian (preattentive attribute) seperti ukuran, warna dan posisi.

Atribut yang dapat mencari perhatian bisa digunakan secara strategik untuk membantu mengarahkan perhatian audiens Anda kemana Anda ingin mereka untuk berfokus. Selain itu, atribut yang dapat mencari perhatian bisa menciptakan hirarki visual untuk membantu mengarahkan audiens Anda melalui informasi yang Anda ingin komunikasikan dalam cara bagaimana Anda ingin mereka memprosesnya.

Pelajaran # 5 : Berpikir Seperti Seorang Designer

Bentuk mengikuti fungsi. Pepatah desain produk ini memiliki aplikasi yang jelas untuk komunikasi dengan data. Ketika masuk ke dalam bentuk dan fungsi untuk visualisasi data, maka pertama-tama kita perlu memikirkan apa yang kita ingin audiens kita dapat lakukan dengan data (fungsi) dan membuat visualisasi (bentuk) yang memungkinkan untuk melakukannya dengan mudah.

Terapkan keterjangkauan visual audiens Anda sebagai petunjuk untuk cara berinteraksi dengan komunikasi visual Anda seperti : soroti hal-hal yang penting, hilangkan gangguan, dan buat hierarki informasi visual. Jadikan desain Anda dapat dipahami dengan mudah dan manfaatkan teks untuk memberi label dan penjelasan. Tingkatkan toleransi audiens Anda terhadap masalah desain dengan membuat visual Anda menyenangkan secara estetika (keindahan). Bekerjalah untuk mendapatkan penerimaan audiens untuk desain visual Anda.

Pelajaran # 6 : Menjelaskan Sebuah Cerita

Konsep bercerita dapat Anda gunakan untuk mengkomunikasikan data. Buat cerita mulai dari awal (plot), tengah (twist), dan akhir yang jelas (ajakan untuk bertindak). Kerangka ini dapat Anda gunakan ketika Anda membangun presentasi bisnis. Manfaatkan konflik dan ketegangan untuk menarik dan mempertahankan perhatian audiens Anda. Pertimbangkan urutan dan cara menyampaikan narasi Anda.

Manfaatkan kekuatan pengulangan untuk membantu cerita Anda tetap diingat. Gunakan taktik seperti logika vertikal dan horisontal, storyboarding yang terbalik, dan cari perspektif baru untuk memastikan bahwa cerita Anda muncul dengan jelas dalam komunikasi Anda.

Demikianlah, 6 pelajaran bercerita dengan data yang dapat digunakan sebagai panduan bagi dosen, mahasiswa, analis dan pegawai pemerintah dan swasta untuk mengkomunikasikan data secara efektif.

Gunakanlah pelajaran tersebut untuk membuat cerita Anda jelas bagi audiens Anda. Bantu audiens Anda untuk menghasilkan pembuatan keputusan yang tepat dan motivasi audiens Anda untuk bertindak.

Anda jangan pernah lagi hanya menunjukan data. Akan tetapi, Anda harus menyajikan visualisasi data yang menghasilkan informasi yang mendorong audiens Anda untuk bertindak.

 

 

Pesan Presentasi Yang Sistematis : 7 Langkah Menyusun Pesan Presentasi Yang Memukau Bagi Audiens Anda

Garr Reynolds pakar presentasi, penulis buku Presentation Zen mengatakan “Tidak peduli sehebat apapun cara penyampaian presentasi Anda atau seberapun menariknya slide power point yang Anda buat, jika presentasi Anda tidak berdasarkan pesan yang solid, maka presentasi Anda tidak dapat berhasil”.

Maksud dari pesan yang solid adalah pesan presentasi yang sesuai dengan kebutuhan audiens,  pas dengan waktu yang tersedia, terstruktur dengan baik, dan mengandung muatan isi yang kuat dan mantap yang memukau bagi audiens Anda.

Lantas, bagaimana cara menyusun pesan presentasi yang solid yang memukau bagi audiens Anda ?

Anda dapat menggunakan tujuh langkah yang teruji untuk menyusun pesan presentasi yang solid yang memukau bagi audiens Anda.

Dengan pendekatan ini, maka Anda akan menentukan terlebih dahulu apa yang ingin Anda katakan sebelum Anda merancang slide power point. Pendekatan ini mungkin membuat Anda terkejut bahwa Anda tidak membuat slide power point sampai Anda selesai menentukan pesan presentasi.

Ketika Anda selesai menentukan apa yang ingin Anda sampaikan, baru kemudian Anda merancang power pointnya.

Mari kita telusuri langkahnya satu persatu.

Langkah # 1 : Pilih Topik Presentasi

Topik presentasi adalah salah satu faktor yang sangat penting dan menentukan apakah presentasi Anda akan menarik bagi audiens atau tidak. Jika topik presentasi yang Anda sampaikan tidak sesuai kebutuhan audiens, maka tidak mudah untuk mendapat perhatian mereka.

Misalnya, jika Anda melakukan presentasi di depan mahasiswa dengan menyampaikan topik “Penerapan Pajak Penghasilan”, maka presentasi Anda tidak mudah untuk membuat mereka tertarik.

Kenapa ?

Karena pada saat itu, topik presentasi yang Anda sampaikan masih belum relevan dengan mereka.

Selain itu, topik presentasi yang Anda sampaikan perlu sesuai dengan keahlian Anda. Hal ini sangat penting karena dengan Anda mengetahui topik yang Anda sampaikan, maka Anda akan dengan mudah untuk menjelaskan kepada audiens Anda dan Anda juga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh audiens Anda.

Langkah # 2 : Kenali Kebutuhan Audiens Anda

Matt Abrahams yang merupakan seorang Professor yang mengajar di Sekolah Pascasarjana Bisnis Universitas Stanford dimana dia mengajar dua kelas yang sangat populer yang berhubungan dengan Komunikasi Strategis dan Presentasi Virtual yang Efektif mengatakan bahwa sebagai seorang pembicara tugas Anda adalah melayani audiens Anda.

Oleh karena itu, Anda mesti mengenali audiens Anda.

Untuk mengetahui audiens Anda, maka Anda perlu mengidentifikasi beberapa hal, yaitu :

  1. Siapa mereka ? Anda perlu mengetahui jenis pekerjaan mereka, rentang usia, tingkat pendidikan, rasio pria dan wanita, dan tanggung jawab pekerjaan.
  2. Tingkat pengetahuan audiens pada topik presentasi yang akan Anda sampaikan. Jangan sampai Anda berpresentasi tentang hal-hal yang sudah audiens Anda ketahui.
  3. Apa masalah yang sering dihadapi oleh audiens Anda ? Hal-hal apa saja yang selama ini menjadi kegelisahan dan kekawatiran mereka ? Apa yang selama ini mereka inginkan ?

Langkah # 3 : Tentukan Tujuan Presentasi

Setiap kali Anda melakukan presentasi tentunya ada tujuan yang hendak Anda capai. Apakah Anda ingin membagikan suatu informasi agar audiens Anda tahu, apakah Anda ingin membujuk audiens Anda untuk menerima suatu ide atau apakah Anda ingin membuat mereka bisa melakukan sesuatu.

David Pranata dalam bukunya Speak With Power menyebutkan bahwa dalam memformulasikan tujuan presentasi ada 3 hal yang perlu Anda perhatikan.

Pertama, tentukan tujuan presentasi dari sudut pandang audiens. Maksudnya adalah Anda harus senantiasa menanyakan apa yang audiens akan dapatkan dari presentasi yang Anda sampaikan. Dengan menayakan hal tersebut, maka presentasi Anda akan menjadi lebih berfokus kepada kepentingan audiens.

Kedua, buatlah spesifik. Penetapan tujuan presentasi yang spesifik akan membuat Anda dapat menyusun pesan presentasi secara lebih fokus. Sehingga, audiens Anda akan mendapat manfaat yang lebih mendalam.

Ketiga, realistis untuk dicapai. Anda mesti mempertimbangkan apakah dengan durasi presentasi yang Anda lakukan audiens dapat mencapai apa yang Anda targetkan.

Contoh tujuan presentasi dengan durasi waktu 15 menit adalah Audiens mengetahui cara menyusun isi presentasi.

Langkah # 4 : Tentukan Pesan Utama

Apakah presentasi Anda selama lima menit atau satu jam seharusnya hanya memiliki satu pesan utama.

Pesan Utama adalah sebuah pernyataan yang dituangkan dalam sebuah kalimat yang jelas dan ringkas yang membuat audiens Anda peduli, mudah memahami dan mudah mengingatnya.

Pesan Utama Anda bisa ada dua kemungkinan.

Bisa berupa Fakta atau Tindakan.

Fakta adalah sesuatu yang Anda ingin audiens Anda ketahui. Sedangkan, Tindakan adalah sesuatu yang Anda ingin audiens Anda lakukan.

Misalnya, jika topik presentasi yang Anda bawakan mengenai keterampilan berbicara dan audiens Anda adalah para insinyur, maka pesan utama yang dapat Anda susun yang dinyatakan dalam satu kalimat dimana seolah-olah Anda sedang berbicara dengan satu orang adalah mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum akan meningkatkan karir Anda.

Ada tiga kriteria yang dapat Anda gunakan dalam menuliskan Pesan Utama. Kriteria tersebut adalah spesifik, sederhana, dan ringkas.

Kriteria pertama adalah spesifik. Pesan Utama yang kabur dan abstrak tidak akan mudah dibayangkan oleh audiens Anda.

Kriteria kedua adalah sederhana. Anda perlu menggunakan bahasa yang sejelas mungkin.

Kriteria ketiga adalah ringkas. Pesan Utama yang singkat jauh lebih mudah dipahami dan diingat.

Langkah # 5 : Susun Isi Presentasi

Mengapa isi presentasi dibuat lebih dulu, bukannya pembukaan presentasi ?

Hal ini supaya jelas point-point penting apa yang ingin Anda sampaikan, sehingga Anda dapat menyusun pembukaan dan penutupan presentasi yang sesuai.

Isi presentasi berisi point utama dan point pendukung.

Point utama adalah point-point pokok yang ingin Anda sampaikan yang mendukung pesan utama yang telah Anda tentukan.

Ada beberapa struktur untuk menyusun point utama, yaitu :

  • Topikal : Struktur presentasi yang mengatur informasi menjadi sub topik.
  • Biner : Masalah-Solusi, Sebab-Akibat, Bandingkan-Kontras, Kerugian-Keuntungan.
  • Sequential : Kronologis, Demonstrasi (langkah 1, langkah 2, langkah 3).
  • Spasial : bagian yang berhubungan dengan keseluruhan, geografis.

Contoh point utama yang menggunakan struktur masalah dan solusi yang dimulai dengan manfaat dengan topik presentasi tentang keterampilan berbicara dan audiens Anda adalah para insinyur serta Pesan Utama adalah mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum akan meningkatkan karir Anda, yaitu :

Poin Utama 1: Keterampilan berbicara di depan umum penting bagi para insinyur.

Poin Utama 2: Berbicara di depan umum dapat menjadi tantangan bagi para insinyur.

Poin Utama 3: Cara untuk meningkatkan keterampilan berbicara di depan umum.

Sementara itu, point pendukung presentasi ditujukan untuk mendukung point utama.

Point pendukung yang Anda sampaikan haruslah menjadi sumber energi bagi orang yang mendengarkannya. Bukan hanya menambah pengetahuan bagi audiens Anda, tetapi juga harus dapat menggerakan audiens Anda untuk bertindak.

Oleh karena itu, setelah Anda menentukan point utama presentasi, maka Anda perlu memperkaya point utama presentasi sebagai point pendukung untuk dapat memuaskan audiens Anda.

Beberapa bentuk point pendukung presentasi yang dapat Anda gunakan, yaitu : contoh, cerita, statistik, endorsement, dan analogi.

Sebaiknya point utama mempunyai dua point pendukung, misalnya cerita + satu jenis point pendukung lainnya.

Contoh susunan point utama dan point pendukung.

Point Utama 1: Keterampilan berbicara di depan umum penting bagi para insinyur.

Sub point utama 1: Keterampilan komunikasi sangat penting untuk kemajuan karir.

Point pendukung : Statistik tentang para eksekutif yang menilai keterampilan komunikasi pada karyawan.

Point pendukung : Contoh tentang presentasi proyek, klarifikasi masalah, dan wawancara.

Sub point utama 2 : Komunikasi yang buruk dapat menyebabkan hasil yang buruk.

Point pendukung : Certa tentang komunikasi yang buruk menyebabkan kegagalan proyek 1/3 dari waktu.

Point pendukung : Contoh tentang komunikasi yang buruk.

Langkah # 6 : Susun Pembukaan dan Penutupan Presentasi

Tugas Anda sebagai pembawa pesan adalah menciptakan situasi agar audiens Anda membutuhkan materi yang Anda sampaikan. Anda perlu memenangkan pikiran dan hati audiens Anda.

Saat membuka presentasi, Anda harus mampu menciptakan di pikiran dan hati audiens Anda untuk berkata, “Ya, topik ini saya banget.”

Untuk itulah, Anda harus mampu menjawab pertanyaan audiens, “Mengapa saya harus mendengarkan Anda ?” Audiens Anda hanya perhatian terhadap informasi yang berguna bagi mereka.

Ketika Anda mampu memberikan jawaban atas pertanyaan audiens, “Mengapa saya harus mendengarkan Anda ?, maka Anda akan memenangkan pikiran dan hati audiens Anda.

Untuk menyusun pembukaan presentasi, Diane Windingland dari Virtual Speech Coach menjelaskan bahwa ada 3 P yang perlu dibuat, yaitu :

  1. Pep (attention) : menarik perhatian audiens dengan pertanyaan, cerita, dan statistik mengejutkan.
  2. Promise (benefit to audience) : meyampaikan apa manfaat yang didapat oleh audiens ketika mereka mendengarkan, menguasai dan mempraktekkan apa yang Anda presentasikan.
  3. Path (preview of points) : point pratinjau yang berfungsi sebagai peta bagi audiens Anda untuk mendapatkan manfaat dari presentasi Anda. Contoh, 3 tips hidup sehat.

Sementara itu, penutupan presentasi merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh seorang presenter. Jika anda ingin melakukan suatu presentasi, maka Anda perlu bersungguh-sungguh menyiapkan penutupan presentasi.

Sayangnya, banyak presenter tidak melakukan penutupan presentasi dengan baik. Akibatnya, audiens mereka tidak lagi ingat pesan yang disampaikan setelah presentasi berakhir.

Penutupan presentasi sama pentingnya dengan pembukaan presentasi.

Jika tujuan dalam pembukaan presentasi adalah agar audiens Anda tertarik dengan apa yang Anda presentasikan, maka dalam penutupan presentasi, tujuan Anda adalah agar audiens ingat dan bergerak untuk melaksanakan pesan yang Anda sampaikan.

Anda sebagai seorang presenter perlu berpikir secara mendalam mengenai gagasan apa yang perlu dibawa pulang dan dilakukan oleh audiens Anda.

Audiens Anda perlu mengingat satu hal untuk dilakukan dari presentasi yang Anda bawakan. Itulah pesan utama dari presentasi Anda.

Penutupan presentasi bukan hanya menyimpulkan hal-hal yang telah Anda sampaikan, tetapi juga harus berupa ajakan bergerak dan melakukan sesuatu.

Diane Windingland dari Virtual Speech Coach Anda menyebutkan bahwa untuk menyusun penutupan presentasi pada dasarnya Anda dapat membalikkan 3 P yang ada di pembukaan, yaitu :

  1. Path : ringkasan point utama.
  2. Promise : meyampaikan kembali apa manfaat yang didapat oleh audiens ketika mereka mendengarkan, menguasai dan mempraktekkan apa yang Anda presentasikan.
  3. Pep : ajakan untuk bertindak.

Langkah # 7 : Buat Catatan Pesan Presentasi

Rekomendasi yang saya sarankan adalah menulis “catatan presentasi” untuk membantu Anda untuk tetap pada koridor pesan yang hendak Anda sampaikan. Catatan presentasi ini bisa kombinasi dari script dan kata kunci atau kelompok kata.

Untuk penjelasan selanjutnya, saya hanya menggunakan istilah script dan kata kunci.

Mari kita mendefinisikan istilah-istilah ini.

Script” adalah segala sesuatu  yang ingin Anda katakan dalam presentasi Anda yang ditulis kata demi kata. Sedangkan, “kata kunci atau kelompok kata” yang saya maksud adalah satu kata atau beberapa kata yang dapat mengingatkan Anda tentang apa yang akan Anda katakan.

Kombinasi script dan kata kunci dapat berfungsi dengan baik, karena setiap metode memiliki kelebihan dan risiko yang berbeda.

Sebuah script memiliki keuntungan bahwa Anda dapat mengatakan apa yang ingin Anda katakan, persis seperti yang Anda rencanakan. Jadi, Anda cenderung lebih jelas dan ringkas. Namun, menggunakan script membawa risiko bahwa Anda mungkin tidak begitu terhubung dengan audiens Anda, karena Anda harus membaca script dan juga melihat audiens Anda.

Menggunakan kata kunci memiliki keuntungan yang memungkinkan Anda untuk terhubung dan terlibat dengan audiens Anda dengan sedikit gangguan. Tetapi, ada risiko bahwa jika Anda berbicara atau memiliki pikiran yang kosong, mungkin Anda butuh sedikit lebih lama untuk kembali kepada koridor presentasi Anda dari pada jika Anda menggunakan script.

Dengan menggunakan kombinasi script dan kata kunci Anda bisa mendapatkan yang terbaik dari kedua pendekatan tersebut sambil meminimalkan risiko masing-masing. Ketika prioritas Anda harus jelas dan ringkas, Anda dapat menggunakan script dan ketika prioritas Anda adalah untuk terhubung dan terlibat dengan audiens Anda, maka Anda akan menggunakan kata kunci. Itu berarti Anda dapat mencocokkan metode yang Anda gunakan dengan jenis pesan presentasi Anda.

Catatan presentasi itu dapat Anda bawa kemanapun Anda pergi yang dapat Anda baca dalam waktu luang Anda sebelum hari atau waktu Anda menyampaikan presentasi, sehingga tiba pada waktunya presentasi, Anda sudah tidak menggunakan catatan presentasi tersebut, karena Anda sudah memahami point-point apa yang hendak Anda sampaikan.

Demikianlah, penjelasan tujuh langkah menyusun pesan presentasi yang memukau bagi audiens Anda.

Presentasi yang terorganisir dengan baik dapat menarik perhatian audiens Anda dan membawa mereka dalam perjalanan ke tujuan yang Anda pilih, dan hal itu juga dapat membantu Anda mengingat apa yang ingin Anda katakan.

 

 

 

 

5 Langkah Berkreasi Menghasilkan Slide Presentasi Yang Menarik Bagi Audiens Anda Dengan Creative Merge Shape

Gambar sebagai salah satu elemen desain dapat Anda gunakan untuk membuat slide presentasi yang menarik bagi audiens Anda.

Namun, Anda dapat mengalami kesulitan menggunakan gambar untuk slide presentasi Anda, karena Anda tidak mungkin menempatkan pesan presentasi di slide tersebut.

Hal itu terjadi karena ruangan di dalam slide sudah dipenuhi oleh gambar yang Anda gunakan. Sehingga, jika Anda menempatkan pesan presentasi di dalam slide tersebut, maka audiens Anda akan kesulitan untuk melihat pesan presentasi tersebut.

Untuk itu, Anda perlu memberi ruang di dalam slide sebagai tempat untuk mengekpresikan kalimat ringkas atau kata kunci untuk menampilkan pesan presentasi. Ruang tersebut dalam komunikasi visual dikenal dengan istilah white space.

Penerapan white space menjadikan sebagian ruang pada slide presentasi tidak dipenuhi oleh gambar.

Untuk menciptakan white space agar slide presentasi Anda tidak semuanya dipenuhi oleh gambar, maka Anda dapat menggunakan fitur dalam Microsoft Power Point 2013 yang bernama merge shape.

Power point tidak kalah dengan berbagai aplikasi desain lainnya semenjak fitur merge shape dapat dioptimalkan untuk mendesain slide presentasi yang menarik.

Anda tidak perlu memiliki keahlian menggunakan aplikasi semacam Corel atau Photoshop untuk mendesain slide presentasi.

Anda cukup mengetahui kemampuan mengotak-atik Power Point saja yang dikolaborasikan dengan fitur-fitur lainnya dalam Power Point dengan ide-ide yang Anda miliki.

Sesungguhnya, membuat slide presentasi dengan menggunakan creative merge shape sangatlah mudah.

Mari kita jalani langkah demi langkahnya untuk membuat creative merge shape tersebut.

Langkah # 1 : Siapkan Pesan Presentasi

Langkah # 2 : Masukan Gambar Yang Relevan

Langkah # 3 : Buat Beberapa Shape Rectangle  

Langkah # 4 : Gunakan Fitur Merge Shape Untuk Memasukan Gambar ke Dalam Shape Rectangle

Langkahnya adalah pilih kesembilan shape rectangle dengan select all semua shape nya, sehingga akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Kemudian pilih menu format, lalu pilih merge shapes dan pilih union seperti gambar di bawah ini. Dengan Anda melakukan proses tersebut, maka 9 shapes tersebut sudah menjadi satu shape baru.

Langkah berikutnya adalah klik gambar, tekan tombol shift, lalu klik menu format, selanjutnya pilih merge shapes, kemudian pilih intersect seperti gambar di bawah ini.

Jika Anda melakukan langkah diatas, maka Anda mendapatkan gambar seperti di bawah ini.

Langkah # 5 : Masukan Pesan Presentasi

Langkah terakhir adalah Anda memasukan pesan presentasi ke dalam slide yang telah Anda hasilkan pada langkah 4. Pesan presentasi yang Anda masukan warnanya dapat Anda sesuaikan dengan warna gambar dengan menggunakan eye dropper atau Anda dapat menggunakan warna teks yang kontras.

Demikianlah, 5 langkah membuat slide presentasi yang menarik dengan creative merge shape.

Apapun foto yang Anda miliki, Anda dapat membuatnya menjadi berbeda dengan mengoptimalkan fitur yang bernama merge shape. Dengan fitur merge shape tersebut, maka Anda dapat memunculkan white space di dalam slide presentasi Anda.

White space yang muncul dalam desain slide presentasi dapat Anda gunakan untuk meletakan pesan presentasi Anda.

Keberadaan white space menjadikan tampilan slide presentasi menjadi lebih asyik untuk dinikmati, semakin terlihat elegan desainnya, dan semakin mudah dipahami pesannya.

Selamat mencoba membuat slide presentasi dengan creative merge shape.

 

 

 

 

Anda Ingin Dapat Mendesain Slide Presentasi Yang Menarik Dengan Gradient Shape ? Baca dan Praktekan Tutorial Ini …

Merancang slide presentasi yang menarik butuh kreativitas. Elemen desain seperti gambar dapat digunakan untuk menunjang kreativitas tersebut dalam menghasilkan slide presentasi yang menarik.

Namun, terkadang mendesain slide presentasi menggunakan gambar tidak memungkinkan Anda untuk menempatkan pesan presentasi di slide tersebut.

Kenapa ?

Karena adakalanya ruangan di dalam slide tersebut dipenuhi oleh gambar yang Anda gunakan. Sehingga, jika Anda menempatkan pesan presentasi di dalam slide tersebut, maka audiens Anda akan kesulitan untuk melihat pesan presentasi tersebut.

Untuk itu, Anda perlu memberi ruang di dalam slide sebagai tempat untuk mengekpresikan kalimat ringkas atau kata kunci untuk menampilkan pesan presentasi. Ruang tersebut dalam komunikasi visual dikenal dengan istilah white space.

Penerapan white space menjadikan sebagian ruang pada slide presentasi tidak dipenuhi oleh gambar.

Untuk menciptakan white space agar slide presentasi Anda tidak semuanya dipenuhi oleh gambar, maka Anda dapat menggunakan shape yang memudar (gradient shape) untuk menempatkan pesan presentasi yang Anda inginkan tampilkan.

Anda hanya perlu menggunakan fitur dalam Microsoft Power Point seperti Microsoft Power Point 2013 yang utamanya adalah gradient fill.

Membuat slide presentasi dengan menggunakan gradient shape sangatlah mudah.

Mari kita jalani langkah demi langkahnya untuk membuat gradient shape tersebut.

Langkah # 1 : Siapkan Pesan Presentasi

Langkah # 2 : Masukan Gambar Yang Relevan

Langkah # 3 : Masukan Shape Rectangle

Langkah # 4 : Buat Shape Rectangle Menjadi Memudar

Klik kanan shape rectangle dengan mouse. Pilih format shape, lalu pilih fill, kemudian pilih gradient fill. Hasilnya akan terlihat tampilan seperti di bawah ini.

Selanjutnya, Anda pilih Type : linear dan Direction : linear right seperti tampilan dibawah ini.

Kemudian, hilangkan gradient stops nomor 2 seperti gambar di bawah ini, sehingga nantinya Anda hanya punya tiga gradient stops.

Langkah selanjutnya adalah merubah warna gradient stops. Caranya klik gradient stops 1 kemudian klik color dan ubah warnanya menjadi warna dark teal/hitam, pilih position : 0 %, dan pilih transparency : 100 %. Kemudian, klik gradient stops 2, klik color dan ubah warnanya menjadi warna dark teal/hitam, pilih position : 50 %, dan pilih transparency : 15 %. Lalu, klik gradient stops 3, klik color dan ubah warnanya menjadi dark teal/hitam, pilih position : 100 %, dan pilih transparency : 0 %.

Jika masih ada line seperti gambar di bawah ini, maka Anda klik kanan shape nya dengan mouse, lalu pilih line dan kemudian pilih no line.

Jika Anda telah melakukan semua proses di atas, maka hasilnya akan diperoleh gradient shape seperti gambar di bawah ini.

Langkah # 5 : Masukan Pesan Presentasi ke Dalam Gradient Shape

Anda bisa memberikan warna teks (pesan presentasi) seperti warna gambar dengan menggunakan fitur eye dopper.

Langkahnya adalah sorot teks, misalnya “GREEN PAVILLION”, yang ingin Anda ubah warnanya. Klik fitur font color, lalu pilih fitur eye dropper. Kemudian arahkan eye dropper ke warna gambar yang diinginkan.

Untuk tulisan di bawahnya “Sistem pencahayaan yang menghemat energi dan biaya melalui jaringan internet”, Anda bisa menggunakan warna putih agar terlihat kontras.

Setelah Anda mengikuti langkah di atas, maka hasil dari slide yang Anda buat menggunakan gradient shape akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Demikianlah, langkah demi langkah untuk membuat slide presentasi yang menarik dengan gradient shape.

Cara membuatnya sangat mudah.

Dengan adanya gradient shape tersebut, maka pesan presentasi yang ditampilkan akan semakin mudah dilihat oleh audiens Anda. Selain itu, penerapan gradient shape dapat memunculkan titik fokus pada obyek utama yang ditampilkan pada desain visual tersebut.

Selamat mencoba membuat slide presentasi dengan gradient shape.

Hidupkan Slide Presentasi Anda Dengan Transparent Shape

Apakah Anda pernah mengalami kesulitan untuk meletakkan teks yang berisi kata kunci atau kalimat ringkas ketika Anda hendak membuat slide presentasi dengan menggunakan gambar ?

Ketika Anda menempatkan kata kunci atau kalimat ringkas dimanapun pada gambar yang akan Anda gunakan, maka audiens nantinya Anda akan kesulitan untuk membacanya. Hal ini karena gambar yang Anda gunakan tidak ada ruang kosongnya, sehingga membuat kata kunci atau kalimat ringkas tersebut tidak mudah untuk dibaca.

Solusinya adalah Anda dapat menggunakan shape yang warnanya diberi transparansi (transparent shape).

Transparent shape tersebut dimaksudkan untuk menciptakan white space pada slide Anda.

White space dalam desain visual ibaratnya seperti oksigen, yaitu sesuatu yang membuat desain seakan-akan memiliki cukup ruang untuk bernafas.

Ruangan di dalam slide presentasi hendaknya jangan dihabiskan dan dipenuhi oleh berbagai macam elemen.

Berikan ruang di dalam slide sebagai tempat untuk mengekspresikan kata kunci atau kalimat ringkas untuk menampilkan pesan Anda.

Keberadaan white space menjadikan tampilan slide presentasi Anda lebih asyik untuk dinikmati, semakin terlihat elegan desainnya, dan semakin mudah dipahami pesan visualnya.

Untuk membuat transparent shape sangat mudah untuk Anda lakukan.

Mari kita jalani langkah-langkah berikut di bawah ini untuk membuatnya.

Langkah # 1 : Siapkan Pesan Presentasi

Langkah # 2 : Siapkan Gambar Yang Relevan Dengan Pesan Presentasi

Langkah # 3 : Masukan Shape Berbentuk Rectangle

Langkah # 4 : Beri Warna Shape Dengan Warna Gambar

Klik shape. Lalu, pilih shape fill. Kemudian, pilih eye dropper. Selanjutnya, arahkan eye dropper ke salah satu warna yang ada di gambar. Misalnya, warna lengan baju yang warnanya dark teal.

Jika Anda melakukan langkah-langkah di atas, maka hasilnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Langkah # 5 : Atur Transparansi Warna Shape

Klik shape rectangle. Lalu, klik kanan mouse. Kemudian, pilih format shape. Setelah itu, pilih fill. Selanjutnya, pilih solid fill. Pada fitur transparency atur menjadi 15 %.

Hasilnya akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Langkah 6 : Masukan Pesan ke Dalam Transparent Shape

Pesan yang telah Anda punya pada langkah 1 dimasukan ke dalam transparent shape. Beri warna tulisan “Pendidikan” dengan warna merah seperti yang ada di dalam gambar dengan menggunakan eye dropper. Dan warna tulisan “Senjata paling ampuh untuk mengubah dunia” diberi warna putih.

Hasil yang diperoleh dengan melakukan langkah di atas akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Demikianlah, hasil kreasi slide presentasi dengan transparent shape. Coba terapkan langkah-langkah di atas untuk menghasilkan slide presentasi yang menarik dengan transparent shape.

Langkah-langkah tersebut sangat mudah untuk Anda kerjakan.

Dengan menggunakan transparent shape, maka slide yang Anda buat akan tampak lebih hidup. Dan slide yang Anda buat akan semakin asyik untuk dilihat oleh audiens Anda.